Dadan Muhammad Ramdan, Jurnalis

JAKARTA – Situasi keamanan di Ambon ibarat api dalam sekam. Tadinya adem-ayem, tiba-tiba berubah menjadi suasana yang genting, sangat mencekam, dan menakutkan. Warga saling kejar, lempar batu sambil membawa senjat tajam, kayu, atau potongan besi untuk menyerang musuhnya.

Di antara teriakan warga yang emosional terdengar suara tembakan dari petugas keamanan yang mulai kewalahan saat membubarkan massa yang beringas. Sementara perempuan dan anak-anak, berlarian ketakutan segera menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman.

Apa yang menyebabkan terjadinya konflik-konflik di Ambon dan daerah lainnya di Indonesia? Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Dr Faisal Ismail MA mengemukakan, akar masalah konflik dan kekerasan antarkelompok masyarakat atau antarwarga memiliki latar belakang yang beragam.

Akar konflik bisa berpangkal dari perselisihan pribadi antara dua orang yang berasal dari golongan etnis yang berbeda. Bisa juga karena faktor sosial budaya, politis, ideologis, dan kecemburuan ekonomi. Etnik setempat terlibat konflik dengan etnik pendatang. Etnik setempat merasa cemburu secara sosial ekonomi terhadap etnis pendatang yang secara sosial ekonomi lebih baik.

Menurut Faisal, konflik sosial dan horizontal menjadi membesar, meluas, memanas, dan mengeras karena melibatkan sentimen kesukuan, ras, politis, ideologis, dan agama. “Karena faktor etnis, politis, ideologis, dan agama inilah yang menjadi simbol dan identitas pemersatu, pengikat, dan perekat kelompok-kelompok masyarakat itu,” jelasnya dalam tulisannya di Sindo.

Jika sentimen kesukuan, politis, ideologis, dan agama sudah masuk dalam suatu konflik sosial, maka konflik menjadi lebih membara, eksplosif, masif, dan eskalatif. Di situ anarkisme, brutalisme, keberingasan, dan amuk massa menjadi sangat dominan dalam konflik sosial. Gelombang konflik antaretnik di banyak daerah di Indonesia terjadi sejak 1998 dan beberapa tahun sesudahnya. “Eskalasi konflik antaretnik pada kurun waktu itu dapat dicatat antara lain terjadi di Ambon, Poso, Sampit, Samarinda, dan Sambas,” ungkapnya.

Mantan Sekjen Kementerian Agama ini mengatakan, konflik Ambon dan Poso adalah dua konflik yang besar, eksplosif, dan destruktif yang eskalasi dan intensitasnya di luar jangkauan kemampuan pemerintah untuk melerai dan menghentikannya. “Jangankan Kemenag, aparat keamanan dan pasukan tentara yang berjumlah ratusan pun tidak berhasil menghentikan konflik itu,” terangnya.

Dia berkeyakinan bahwa tidak ada komunitas agama yang menginginkan terjadinya konflik, apalagi bentrokan berdarah dengan kelompok agama lain. Karena, tidak ada agama yang mengajari umatnya untuk melakukan perusakan dan pembakaran terhadap rumah-rumah tinggal dan ibadah umat agama lain.

Ambon memang rawan konflik antarwarga yang multietnis dan agama. Teranyar, bentrokan meletus di Kota Ambon, Minggu (11/9/2011). Massa sempat membakar sejumlah kendaraan roda dua dan merusak kendaraan roda empat. Selain di kawasan Mangga Dua, bentrokan ternyata meluas ke sejumlah titik di Kota Ambon, di antaranya kawasan Tugu Trikora, Kota Ambon. Dikabarkan ada korban tewas dan belasan terluka.

Seperti diketahui selain kejadian di atas, bentrokan paling tragis meletup pada 1999 silam. Konflik dan pertikaian yang melanda masyarakat Ambon-Lease sejak Januari 1999, telah berkembang menjadi aksi kekerasan brutal yang merenggut ribuan jiwa dan menghancurkan semua tatanan kehidupan bermasyarakat.

Hingga 2 September 1991 setidaknya telah tercatat 1.132 korban tewas, 312 orang luka parah, 142 orang luka ringan. Sebanyak 765 rumah, 195 ruko serta puluhan kendaraan hancur dibakar. Di samping itu 100.000 ribu orang sudah meninggalkan tempat tinggalnya dan sedikitnya 30.000 orang menjadi pengungsi di 60 kamp penampungan, khususnya di kota Ambon dan sekitarnya. Transportasi, khususnya transportasi udara, terhenti; harga-harga kebutuhan pokok kian melonjak dan persediaan makanan menipis; kegiatan pendidikan terhenti.

http://bola.okezone.com/read/2011/09/11/447/501358/ini-penyebab-ambon-rawan-konflik
Minggu, 11 September 2011 – 18:46 wib

Related Post

 

Tags: