oleh Faisal Ismail

Bagi umat Islam, Mekkah merupakan tanah suci tempat melaksanakan ibadah haji dan umrah. Selain berfungsi sebagai tempat melaksanakan ibadah haji dan umrah,Kakbah dijadikan pusat kiblat salat seluruh umat muslim sedunia.

Menempati pilar ke-5 dalam struktur rukun Islam, haji merupakan ibadah yang diwajibkan kepada Umat Islam. Hal ini secara jelas difirmankan oleh Allah dalam Alquran: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat bagi) manusia adalah Baitullah yang ada di Bakkah (Mekkah), yang diberkati dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Di dalamnya ada tanda-tanda yang nyata tentang kebesaran Allah, (di antaranya) makam Nabi Ibrahim. Barangsiapa yang masuk ke dalamnya, ia merasa tenteram; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang-orang yang mampu melakukan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Allah itu Maha Kaya.” (QS Ali Imran/3: 96-97).

Kewajiban ibadah haji bagi seorang muslim hanya sekali seumur hidup. Haji kedua dan seterusnya dinilai sunah. Ibadah haji diwajibkan kepada muslim yang mampu, sedang yang tidak mampu tidak dikenai kewajiban.Kemampuan di sini minimal mencakup dua hal.

Pertama, mampu dalam arti sehat rohani dan jasmani (sehat mental dan fisikal). Kedua,mampu secara finansial (keuangan). Dua faktor ini biasanya dikaitkan dengan faktor keamanan dalam arti perjalanan ke tanah suci Mekkah dipastikan dalam keadaan aman (misalnya tidak terjadi peperangan atau kekacauan yang dapat membahayakan jiwa para jamaah).

Ritualisme dan Egalitarianisme

Ritualisme dan egalitarianisme menjadi dua ciri khas dan sangat penting dalam ibadah haji. Semua jamaah sepenuhnya mencurahkan niat, perhatian, dan amal ibadah karena Allah. Segala bentuk ritual seperti ihram, tawaf, sai, tahalul, bermalam di Muzdalifah, wukuf di Arafah, melempar jumrah, dan tawaf wada’ hanya diperuntukkan kepada Yang Mahakuasa dan mengharapkan agar seluruh rangkaian ibadah haji yang mereka laksanakan menjadi haji mabrur.

Semua amalan ritual ini dibarengi dengan egalitarianisme. Ciri-ciri fisik seperti warna kulit, latar belakang kebangsaan,kultur,tradisi,dan bahasa, menjadi lebur ketika para jamaah haji memakai pakaian ihram yang sama: semua berwarna putih.Tak ada perbedaan.Atribut-atribut keduniawian seperti pangkat, jabatan,kedudukan,aliran politik, dan status sosial dilepaskan.

Semua jamaah berstatus sebagai tamu-tamu Allah (duyufullah) yang mempunyai kedudukan dan derajat yang sama di hadapan-Nya. Satu-satunya yang membedakan seorang jamaah haji dengan jamaah haji lainnya (lebih luas lagi: Umat Islam) adalah derajat,bobot,dan kualitas takwanya kepada Allah.

Latar belakang etnis, kebangsaan, warna kulit, rambut, tradisi, kultur, status sosial, pangkat, jabatan,kedudukan dalam pemerintahan, organisasi sosial, dan aliran politik tidak lagi penting di hadapan Allah ketika manusia mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan-Nya di akhirat kelak. Manusia secara pribadi bertanggung jawab atas semua perbuatannya sendiri kepada Allah di akhirat kelak.

Dalam mempertanggungjawabkan semua perbuatan pribadinya kepada Allah di akhirat kelak, manusia tidak lagi mendapat bantuan dan campur tangan dari partai politik, organisasi sosial,perusahaan,institusi pemerintahan, lembaga negara, ataupun lembaga bantuan hukum seperti yang lazim didapatkannya di dunia ini. Pertanggungjawaban manusia kepada Allah adalah bersifat individual, bukan bersifat institusional dan bukan bersifat massal.

Napak Tilas Historis

Ibadah haji menggambarkan paduan ritualitas dan historisitas. Para jamaah melakukan ritus-ritus haji seperti ihram, tawaf, sai, bermalam di Muzdalifah, wukuf di Arafah, melempar jumrah,tahalul,dan tawaf wada’sebagai suatu rangkaian ibadat yang intens dan khusyuk. Semua ritus ini merupakan pengalaman kerohanian yang mengungkap napak tilas historisitas dan religiositas ketakwaan Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail.

Horison sejarah kenabian Muhammad, dari Mekkah ke Madinah, terkuak dan terbentang di hadapan para jamaah. Gua Hira menjadi saksi sejarah karena di gua inilah Nabi Muhammad pertama kali menerima wahyu. Masjid Quba juga menjadi saksi sejarah yang menandai perjalanan hijrah Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah.

Dari Arabia inilah, lahir agama besar dunia,Islam, yang pada waktu itu pengikutnya dapat dihitung dengan jari, kini telah berjumlah lebih dari satu miliar dan tersebar di seluruh belahan dunia. Makam Nabi Muhammad di Masjid Nabawi, Madinah menjadi saksi dan bukti nyata bahwa Nabi bukan tokoh yang hidup dalam dongeng-dongeng yang kuburannya tidak diketahui, melainkan merupakan realitas historis yang dapat dilihat dengan mata kepala.

Kepercayaan muslim akan kenabian Muhammad dan agama Islam yang dibawanya diperkuat oleh bukti-bukti rekaman sejarah yang jelas. Dalam bukunya, Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah, Michael Hart menempatkan Nabi Muhammad di peringkat teratas (nomor wahid) tokohtokoh yang paling berpengaruh dalam lintasan sejarah dunia.

Alasannya karena Nabi adalah tokoh yang benar-benar hidup (bukan hanya hidup dalam dongeng-dongeng), mempunyai pengaruh di bidang ukhrawi dan duniawi sekaligus, karyanya mempunyai pengaruh terhadap masa depan, dan karyanya mempunyai dampak positif yang dapat mengubah perjalanan sejarah manusia dan kemanusiaan.

Kakbah diyakini sebagai centrum universe,dan di situlah jutaan jamaah haji dan seluruh umat Islam menghadapkan kiblat salat dan tunduk bersujud ke hadapan-Nya.Selain dibingkai dan dirangkai dengan berbagai kegiatan ibadat yang memiliki makna ritual,historikal, dan egalitarian,ibadah haji juga dicirikan oleh simbol perlawanan terhadap setan dan setanisme.

Para jamaah haji melempar jamarat sebagai simbol perlawanan terhadap setan, musuh bebuyutan manusia. Karena setan tidak pernah mati, godaan dan ancaman setan untuk menjerumuskan manusia ke jurang kemaksiatan dan kemungkaran semakin besar dan ganas.

Di setiap lini kehidupan, setan siap menerkam manusia yang lalai sebagai mangsanya. Bagi muslim, tak ada kompromi dengan setan dan setanisme. Setan, setanisme dan setanisasi harus dilawan dan dikalahkan!

Dimuat Seputar Indonesia, Friday, 28 October 2011

Related Post

 

Tags: