oleh Faisal Ismail, Duta Besar RI untuk Kuwait

Mahmoud Ahmadinejad sejak masih muda sudah aktif dalam kancah gerakan politik praktis. Bersama para pengunjuk rasa lainnya, ia terlibat dalam gelombang gerakan menentang Shah Reza Pahlevi, penguasa represif Iran yang sangat pro-AS dan Barat.

Gerakan penggulingan Shah dilancarkan secara sengit oleh Ayatullah Ruhullah Khomenei yang menentang pemerintahan sekuler Shah. Revolusi Iran pun meletus pada 1979.Terjadi demonstrasi masif yang pada akhirnya berhasil mendepak Shah dari singgasana kekuasaannya.Terjadi pula penyanderaan dan penyekapan terhadap 52 diplomat AS di Kedubes AS di Iran selama 444 hari.

Demonstrasi masif dan unjuk rasa sengit rakyat Iran itu mencerminkan perasaan anti-Shah dan anti- AS. Ahmadinejad terlibat langsung dalam gerakan penggulingan Shah ini.Rezim sekuler Shah rontok dan digantikan dengan berdirinya Republik Islam Iran di bawah kepemimpinan Ayatullah Khomenei. Di pentas politik Iran, Ahmadinejad dikenal sebagai sosok konservatif dan penganut garis keras.

Dia lebih suka menyebut dirinya sebagai “prinsipalis” ketimbang disebut konservatif. Darah mudanya mudah memijar dan retorikanya sering membakar. Pada 2005,Ahmadinejad yang diusung oleh kubu konservatif memenangkan pilpres. Dia mengalahkan dan menggantikan Presiden Mohamad Khatami yang beraliran reformis.

Segera setelah mengambil alih tampuk kekuasaan, Presiden Ahmadinejad menghidupkan kembali program nuklir Iran yang telah dihentikan oleh pendahulunya (Khatami) karena tekanan keras AS dan sekutu Baratnya. Ahmadinejad berargumen bahwa pengembangan ilmiah dlam bidang nuklir adalah hak setiap bangsa,apalagi pengembangan program nuklir itu untuk tujuan damai. Di tengah-tengah perseteruan dengan rezim Zionis Israel, Ahmadinejad mengeluarkan pernyataan keras agar ”Israel dihapus dari peta bumi dunia”.

Sanksi dan Isolasi

“Pembangkangan” Ahmadinejad yang tidak mau menghentikan program nuklir Iran memicu kemarahan AS, Barat, dan Israel.AS dan sekutu Baratnya serta Israel menuduh Iran sedang mengembangkan program nuklir, yang pada nantinya akan digunakan untuk membuat bom nuklir.Tuduhan seperti ini dilontarkan secara berulang-ulang terhadap rezim Ahmadinejad. Terhadap tuduhan AS, Barat, dan Israel itu, Iran menolaknya.

Iran mengklaim program nuklirnya bertujuan damai dan untuk kepentingan sipil (sebagai reaktor pembangkit tenaga listrik).Dispute di seputar nuklir Iran sampai saat ini terus memicu perseteruan dan ketegangan Iran dan AS-Barat-Israel. Karena Iran tidak mau tunduk terhadap tekanan AS dan sekutunya untuk menghentikan program nuklirnya,AS dan sekutu Baratnya merasa geram dan “menggencet”Iran dari sektor ekonomi.

Negeri Mullah itu dijatuhi sanksi ekonomi sebanyak empat kali oleh DK PBB dan beberapa aset banknya di Barat dibekukan. “Pembangkangan” Ahmadinejad terus menggelegar, dia tidak kapok.Akibat sanksi ini, ekonomi Iran agak sesak napas, tetapi masih tetap survive. Justru rezim Mullah di Iran menyatakan ”berterima kasih”kepada AS yang telah mengisolasi dan menggencetnya karena,dengan gencetan AS itu,Iran lebih bisa mandiri secara ekonomi.

AS, Barat, dan Israel menghendaki Ahmadinejad kalah dan tersingkir dari pentas politik Iran dalam pertarungan pilpres 12 Juni 2009,karena pemimpin konservatif dan penganut garis keras itu tidak mau tunduk kepada negara-negara adikuasa Barat dan AS. Namun, ternyata Ahmadinejad masih survive. Pascapilpres Iran 12 Juni 2009, yang dimenangi oleh Ahmadinejad untuk menjabat presiden periode keduanya, ketegangan Iran dan AS-Barat memuncak. Kedua belah pihak melancarkan perang pernyataan.

AS dan sekutu Baratnya mengutuk Iran yang menggunakan caracara keras dalam menangani para demonstran dari kelompok oposisi (para pendukung capres Mousavi yang kalah), yang menuduh telah terjadi kecurangan dalam penghitungan suara pilpres. Pemerintah Iran yang diwakili oleh Dewan Pengawas menepis tuduhan adanya kecurangan dalam penghitungan suara. Sementara itu, Iran menolak keras segala bentuk intervensi AS dan Barat dalam urusan internal politik Iran. Iran dan Inggris saling usir diplomat. Hubungan Iran dan AS-Barat menegang.Selama 32 tahun tidak ada hubungan diplomatik antara AS dan Iran.

Tidak Mau Tunduk

Belum lama ini mencuat isu bahwa AS dan Israel akan menyerang lokasi-lokasi yang dicurigai sebagai pusat-pusat program nuklir Iran. Sudah sejak lama Israel mempunyai niatan seperti itu. Sampai sekarang, negara Zionis itu belum mencabut pernyataannya ”all options are still on the table”. Artinya, jika terpaksa, Israel akan melakukan serangan. Sementara Israel sangat bersemangat akan menyetop program nuklir Iran, tapi negara Zionis itu sendiri mengembangkan dan mempunyai senjata nuklir.

Israel tidak hanya menolak menandatangani perjanjian non-proliferasi nuklir (NPT), tetapi juga mengembangkan dan membuat senjata nuklir.Inilah sikap ambigu Israel.Iran masih mau menandatangani NPT. Sama seperti Israel,AS juga diisukan akan menyerang program nuklir Iran.Tak pelak lagi, isu itu membuat Sang Ayatullah Ali Khomenei, Ahmadinejad, dan Kepala Pasukan Garda Revolusi Iran sangat berang.

Mereka menyatakan akan membalas setiap serangan. Rusia dan China memperingatkan AS dan Israel agar dapat menahan diri dan jalan diplomasi terus ditempuh. China meminta Iran agar tetap bekerja sama dengan IAEA (Badan Pengawas Atom Internasional). Di tengahtengah isu serangan militer terhadap Iran, Negeri Mullah itu terus digencet dari sektor ekonomi. Inggris memutuskan hubungan finansial dengan Iran.Tampaknya,selama masih diperintah oleh kubu konservatif dan garis keras, Iran tidak mau tunduk dan tidak mau didikte oleh Israel dan negara-negara adikuasa AS dan Barat.

Dimuat Sindo, 26 November 2011

Related Post

 

Tags: