Faisal Ismail, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Sejak berkarier sebagai tenaga pengajar di IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta dari 1979-sekarang, saya selalu menekankan kepada para mahasiswa saya agar kita tidak tabu terhadap perbedaan pendapat dan kritik konstruktif dari siapa pun dan dari mana pun datangnya. Perbedaan pendapat dan kritik dalam dunia akademik adalah wajar dan merupakan hal yang biasa. Apalagi poin-poin perbedaan itu menyangkut hal-hal yang bersifat sosial, kultural dan historikal, bukan besifat doktrinal akidah yang fundamental. Kita justru dapat belajar dari pemikiran dan pendapat orang lain. Itulah sebabnya, ketika Sdr Umaruddin Masdar melalui tulisannya ‘NU Bukan Syi’ah, Tapi Ahlus Sunnah wal Jama’ah’ (KR, 10/1/12) menanggapi artikel saya ‘Pembakaran Pesantren Sy’ah’ (KR, 6/1/12), saya menganggap tanggapan Bung Umaruddin itu merupakan suatu hal wajar. Saya berterima kasih kepada Sdr Umaruddin atas tanggapannya. Berarti tulisan saya diperhatikan.

Asal Usul Tahlil

Agar tidak terjadi kesalahpahaman tentang pandangan saya terhadap NU, saya tegaskan NU adalah termasuk Muslim Sunni (Ahlus sunnah wal jama’ah). Dengan kata lain, NU secara akidah keagamaan adalah Sunni. Tapi Ahlus aunnah wal jama’ah bukan hanya monopoli NU. Kelompok Muslim di luar NU seperti Muhammadiyah, Alwashliyah, Matlaul Anwar dan Persis adalah juga termasuk Ahlus Sunnah wal jama’ah. Dalam artikel itu, saya menganalisis secara sosiohistoris bahwa NU secara kultural adalah Syi’ah. Saya mulai dari melacak asal usul tradisi tahlil dan barzanji (dibaan). Jauh sebelum NU didirikan (1926), tradisi tahlil dan barzanji sudah ada, membudaya dan dilaksanakan oleh sebagian besar masyarakat Muslim di Nusantara, terutama di desa-desa.

Jika Bung Umaruddin mengklaim bahwa tradisi tahlil dan barzanji adalah murni dan sepenuhnya merupakan tradisi NU, itu tidak masuk akal. Argumen saya: NU didirikan tahun 1926, sedang tahlil dan barzanji sudah ada jauh sebelum kurun waktu itu. Dari tinjauan sosiohistoris itu, saya mengajukan hipotesis dan berpendapat bahwa tradisi tahlil dan barzanji diadopsi oleh NU dari orang-orang Islam terdahulu yang – menurut hipotesis saya- berasal dari kaum Syi’ah. Jika Bung Umaruddin berpendirian bahwa tahlil dan barzanji adalah tradisi NU dan tidak secuil pun dipengaruhi dari budaya Syi’ah, mangga mawon. Tapi, sebagai sejarawan sosial, saya punya hak untuk berbeda pendapat dengan Anda.

Juga, jika Bung Umaruddin dan warga NU merasa sreg dan nyaman menyedekahkan pahala dari orang yang hidup kepada orang yang mati dan mendoakan orang yang meninggal dengan cara bertahlil, mangga. Tulisan saya tidak menggugat, apalagi menghujat, tradisi tahlil NU. Tulisan saya hanya menganalisis secara sosiohistoris asal usul tahlil yang, menurut hipotesis saya, berasal dari budaya Syi’ah yang diadopsi oleh NU. Perlu dicatat dan diingat bahwa mendoakan orang yang mati tidak harus melalui praktik tahlil ala NU. Ada kelompok Muslim non-NU yang mendoakan orang yang sudah meninggal dengan cara tidak melakukan tahlil. Tahlil, seperti yang dilakukan oleh NU, bukan satu-satunya cara untuk mendoakan orang yang sudah meninggal. Itu artinya, berdoa bagi orang yang meninggal dengan cara melakukan tahlil seperti dipraktikkan NU, menurut pendapat saya, bukan syari’at, tapi lebih merupakan tradisi. Mendoakan orang yang mati adalah syari’at (ajaran atau tuntunan Islam), sedang tahlilnya bukan syari’at, tapi tradisi atawa adat kebiasaan NU saja. Tahlil has nothing to do with syari’ah (Islamic teaching). Saking kesemsemnya mencintai NU, Bung Umaruddin berucap:

‘Ketika terjadi pertentangan di antara para sahabat Nabi, sikap NU sangat jelas, yaitu ‘diam’ karena NU ingin mengikuti dan menghormati semua sahabat.’ Jangan nglantur Bung, di zaman Nabi dan sahabat belum ada NU. Apa urusan Nabi dan sahabat dengan NU pada masa hidup beliau?

Ali Tidak Mati?

Poin lain yang perlu ditanggapi adalah kutipan Bung Umaruddin yang, kata dia, diambil dari Ibnu Khaldun (buku Maqaddimah, hlm. 198). Kaum Syi’ah ñyang pemikirannya banyak dipengaruhi mistik –  beranggapan bahwa Ali bin Abi Thalib (khalifah al-Rasyidin ke-4 yang dipercayai sebagai Imam pertama oleh kaum Syi’ah) tidak mati, tapi hanya ghaib (menyembunyikan diri) dan nanti akan muncul lagi di akhir zaman sebagai juru selamat.

Berdasarkan buku-buku sejarah Islam yang saya baca, Ali bin Abi Thalib sudah wafat pada tahun 40 H/661 M. Ali dibunuh oleh seorang Khawarij bernama Abdurrahman ibnu Muljan di Kufah. Dua orang komplotan Khawarij lainnya, yaitu Barak ibnu Abdillah At-Tamimi (yang hendak membunuh Mu’awiyah di Syam/Syria) dan Amr ibnu Bakr At-Tamimi (yang bertugas menghabisi nyawa Amru ibnu Ash di Mesir) gagal melaksanakan misi mereka. Ketiga orang Khawarij ini berkomplot hendak menghabisi nyawa Ali, Mu’awiyah dan Amru karena ketiga tokoh ini dinilai oleh kaum Khawarij sebagai trouble makers (penyulut kekacauan) politik terkait perang Shiffin.

Yang dipercayai oleh kaum Syi’ah (Syi’ah Itsna Asyariah) sebagai imam yang masih hidup dalam keghaiban (lived in occultation) sampai sekarang ini adalah Imam mereka yang ke-12 bernama Abul Qasim Muhammad bin Hasan. Kaum Syi’ah berkeyakinan, ketika Abul Qasim masih sangat muda (belum berusia delapan tahun), dia diambil dari bumi dan kemudian hidup dalam keghaiban (bersembunyi dan tak terlihat mata) sampai sekarang ini. Kaum Syi’ah mempercayai Abul Qasim sebagai Imam Mahdi yang pada akhir zaman nanti akan turun ke dunia membawa misi menegakkan keadilan dan perdamaian.

Kematian Ali adalah fakta sejarah. Semua sejarawan Muslim mencatat bahwa Ali telah meninggal dunia. Tidak ada silang pendapat atau dispute tentang kematian Ali. Mistifikasi bahwa Ali masih hidup (tidak mati) adalah distorsi sejarah dan sudah pasti a-historis. Yang masih hidup sampai sekarang ini, menurut kepercayaan Syi’ah, adalah bukan Ali, tapi Abul Qasim Muhammad bin Hasan yang mereka yakini sebagai Imam Mahdi.

Bung Umaruddin mengatakan bahwa NU dan warga NU toleran dan tidak suka melakukan budaya kekerasan. Anda sebagai Koordinator Nasional Densus 26 (Pendidikan Khusus Dai Ahlus Sunnah wal Jama’ah 1926), tolong jelaskan kepada publik siapa pelaku pembakaran rumah, masjid dan pesantren Syi’ah di Omben, Sampang, Madura? Pembakaran itu dipicu oleh isu kultural atau doktrinal teologikal?

Kedaulatan Rakyat, 12 Januari 2012

http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=137862&actmenu=39

Related Post

 

Tags: