oleh Faisal Ismail

JIWA dan raga merupakan dua unsur utama yang ada pada setiap manusia.Raga adalah bagian yang tampak dan mewujud dalam bentuk fisik (jasmaniah), sedangkan jiwa adalah unsur yang tak tampak dan mewujud dalam bentuk rohaniah.

Eksistensi kedua unsur tadi saling melengkapi sehingga manusia dapat menjalankan fungsinya sebagai makhluk hidup. Raga memerlukan makan, minum, dan perawatan, sedangkan jiwa juga memerlukan perawatan atau bimbingan spiritual. Jika kebutuhan masing-masing tidak dipenuhi, jiwa dan raga akan mengalami gangguan dan kerusakan. Jiwa kita ibarat mesin mobil yang perlu diservis secara berkala dan teratur. Kita tidak boleh lalai melakukan servis agar mesin tadi tidak mengalami gangguan dan kerusakan.

Seperti halnya mesin mobil, jiwa kita pun memerlukan servis yang baik, teratur, dan ajek. Servis itu berupa pemberian bimbingan spiritual yang menyejukkan dan peningkatan pelatihan-pelatihan kerohanian yang intens dan fungsional. Melalui pelatihan-pelatihan ibadah puasa, jiwa kita pada hakikatnya sedang diservis dalam arti noda-noda dosa dan kesalahan yang melekat padanya sedang dibersihkan.

Bercak-bercak dosa ini lengket membentuk gumpalan noktah-noktah hitam dalam jiwa kita dan jika tidak segera dipurifikasi, keadaannya dimungkinkan terus menggumpal dan berakumulasi dari hari ke hari. Menurut ajaran agama, ketika membuat kesalahan dan dosa, kita mesti segera bertobat (memohon ampun) kepada Allah dengan cara menyesal, tidak akan mengulangi lagi perbuatan-perbuatan dosa yang sama,dan selalu mengimbanginya dengan memperbanyak amal kebaikan.

Allah yang Maha Pemurah dan Maha Pengampun menjadikan bulan Ramadan sebagai momentum dan sarana bagi umat Islam untuk selama satu bulan penuh melakukan penyucian dan pembersihan jiwa dari segala dosa dan kekhilafan. Bulan suci Ramadan adalah bulan yang penuh limpahan rahmat, karunia, dan magfirah. Pada bulan suci ini Allah mengerangkeng setan-setan sehingga mereka tidak bisa melancarkan godaan-godaan, bujukan, dan rangsangan kemaksiatan. Pada saat yang sama, sepanjang Ramadan, pintu-pintu amal kebajikan, rahmat, karunia, dan ampunan, selalu dibuka oleh Allah.

Allah benar-benar menjadikan momentum bulan suci Ramadan bagi para hamba-Nya sebagai peningkatan gerakan intensif amal kebaikan, pelipatgandaan pahala, pembersihan rohani, dan penyucian jiwa dalam skala yang sangat besar. Bulan suci Ramadan benar-benar menjadi bonus tahunan dari Allah di mana para hamba memiliki peluang yang sangat besar untuk meraih rahmat, karunia, magfirah dan ampunan-Nya.

Kehadiran bulan suci Ramadan dari tahun ke tahun membawa makna yang teramat dalam di lubuk hati sanubari kaum muslimin. Ia bermakna sebagai momentum Ilahiah yang berfungsi sebagai sarana pembersihan rohani dan penyucian jiwa bagi kaum muslimin dari segala lumuran kotoran kekhilafan dan karat-karat dosa. Ia adalah bulan gerakan pemberdayaan iman dan penguatan takwa, penyegaran batin, peningkatan amal kebajikan, dan pelipatgandaan pahala bagi kaum muslim yang mengamalkan ibadat puasa dengan ikhlas, baik, dan benar.

Itulah sebabnya Nabi Muhammad SAW sangat gembira dengan datangnya bulan suci Ramadan dan beliau merasa sangat sedih ketika akan berpisah dengan bulan Ramadan yang suci ini. Ramadan bagi muslim merupakan momentum untuk melakukan muhasabah, introspeksi, koreksi diri, dan rekonstruksi mental.

Dimuat di Sindo, 22 Juli 2012

Related Post

 

Tags: