UIN-SUKA.AC.ID – Kamis (13/09/2012), Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga adakan Stadium General dengan mengusung tema “Mahasiswa sebagai Agent of Change & Social Control. Stadium General ini digelar di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga dengan menghadirkan Ahmad Bahrudin  (Pendiri Sekolah Alternatif Qaryah Tayyibah dan Penerima Ma’arif award 2012). Acara ini dibuka langsung oleh Dekan Fakultas Dakwah, Dr. H. Waryono Abdul Ghofur, M.Ag dan dimeriahkan oleh tim musik Pusat Studi dan Layanan Difabel (PSLD) UIN Sunan Kalijaga.

Waryono menjelaskan bahwa, tujuan dari kegiatan ini untuk membuka  wawasan dan pemahaman mahasiswa baru, mengenai perannya sebagai agent of change & social control sehingga dapat berperan dalam membangun bangsa, dan menciptakan perubahan bagi masyarakat sekitarnya. “ Peranserta mahasiswa Fakultas Dakwah harus diimplementasikan secara total dan penuh dedikasi, sehingga mampu mengubah mentalitas miskin yang sekarang marak terjadi di tengah masyarakat”, tambah Waryono dalam sambutannya pada Stadium General Fak Dakwah yang dihadiri 572 mahasiswa baru..

 Dalam uraiannya, Bahrudin menyampaikan tentang konsep Civil Society (masyarakat sipil) yang berdaya yang mampu menciptakan perubahan bagi dirinya sendiri, dengan mencontohkan kelompok tani dan paguyuban petani Qaryah Thayyibah yang mampu mengelola sumber daya lokalnya (local wisdom) demi kesejahteraan masyarakat. Mahasiswa sebagai Agent of Change & Social Control, diharuskan mampu berpikir kritis untuk melakukan Qiraah (membaca) kondisi masyarakat dan memfasilitasi masyarakat untuk melahirkan ide-ide perubahan di desa mereka sendiri.  Bahrudin menekankan bahwa mahasiswa yang hanya berorientasi pada penyelesaian studi tanpa memikirkan dan berkontribusi pada perubahan/pemberdayaan bagi masyarakatnya, hanya akan menjadi beban bagi masyarakat.

 Bahrudin menceritakan pengalamannya dalam mendirikan Sekolah Alternatif Qaryah Tayyibah dan pemberdayaan masyarakat Desa Kalibening, Salatiga.” Memang untuk membuat perubahan itu pada awalnya susah dan banyak hambatan, akan tetapi dengan kontinuitas dan dedikasi tinggi hambatan itu dapat diatasi ”, ujar Bahrudin memberikan motifasi pada peserta Stadium General.  Sekolah Alternatif Qaryah Tayyibah merupakan sekolah alternative dengan biaya yang murah, dengan kurikulum yang membebaskan dan memacu kreatifitas siswanya, mengeksplor ide-ide siswa tentang apa yang ingin dipelajarinya, dan memfasilitasi siswanya untuk berkarya dalam bidang apa pun, seperti menulis, bermusik, menanam, dsb.

“ Mahasiswa pada dasarnya sangat penting diajarkan learning society, yang selanjutnya memacu untuk belajar dari kelebihan dan kekurangan dari masyarakat desanya. Sehingga mereka dituntut dan tergugah untuk mencari solusi yang kemudian mampu menjadi desa yang mandiri, hal inilah kami ajarkan pada siswa Sekolah Alternatif Qaryah Thayyibah yang sebenarnya dapat juga diterpakan oleh Fak. Dakwah UIN Sunan Kalijaga”, tutur Bahrudin. Lebih lanjut Bahrudin berpesan pada mahasiswa atau para sarjana agar tidak terlena pada kenikmatan semu yang disajikan oleh ibu kota. Mahasiswa harus mampu menjadi motor penggerak bagi desa atau daerah asal untuk menjadi mandiri dan maju. (Doni Tri Wijayanto-Humas UIN Suka).