oleh Faisal Ismail

Dewasa ini terjadi perkembangan kemajuan peradaban (tamaddun) moderen yang sangat menakjubkan dan sekaligus sangat mencemaskan. Dikatakan “menakjubkan” karena kemajuan-kemajuan yang dicapai dari segi material sangat pesat dan membawa kemudahan serta kesenangan bagi manusia. Dikatakan “mencemaskan” karena kemajuan tersebut sering membawa dampak yang sangat buruk bagi manusia sendiri, terutama dari segi spiritual dan moral yang semakin  kering kerontang dan hampa. Terjadi krisis teologis  dan kevakuman spiritual dalam tubuh peradaban moderen. Bersamaan dengan itu, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi moderen sering dipakai untuk hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Dengan demikian, kemajuan peradaban yang menonjol pada masa kini adalah peradaban yang timpang antara aspek material dan spiritual.

Kemajuan  peradaban pada  masa  kini dimotori  oleh bangsa-bangsa yang memiliki kemajuan pesat dalam bidang sains dan teknologi. Dengan kemajuan tersebut, negara-negara maju (Barat) memainkan peran yang sangat dominan dalam hubungan antarbangsa dan antarnegara dalam berbagai bidang kehidupan.

Pada  masa  lalu, keunggulan persenjataan yang  dimiliki oleh bangsa-bangsa Barat dipakai untuk menjajah bangsa-bangsa lain, terutama untuk kepentingan ekonomi bangsa penjajah. Sampai kini pun keunggulan persenjataan sering dipergunaan dengan cara-cara yang arogan untuk melindungi kepentingan ekonomi negera dan bangsa yang lebih kuat tanpa ada kekuatan efektif untuk mencegahnya. Perilaku semacam itu mengahadapkan bangsa-bangsa di dunia pada benturan peradaban yang sulit dielakkan.

Dominasi bangsa yang lebih maju atas bangsa lain tidak hanya terjadi secara pisik, melainkan juga secara kultural. Budaya mereka mendominasi budaya bangsa  lain. Gejala ini terutama diakibatkan oleh arus globalisasi informasi dan komunikasi yang lebih kuat yang menerpa budaya bangsa yang kurang maju di bidang sains dan teknologi. Gejala ini berlangsung dengan mudah bila bangsa-bangsa yang diterpa arus informasi global itu tidak memiliki daya tahan dalam bidang budaya. Penganut agama Islam yang terdiri dari berbagai bangsa dan tersebar di berbagai negara terlibat dalam gesekan antarbudaya atau pun percaturan antarperadaban. Dalam kaitan ini, umat Islam yang sampai kini masih  berada  pada  posisi  yang  lemah  diharapkan  dapat memahami gejala yang disebutkan itu secara tepat dan melakukan antisipasi secara konseptual. Hal tersebut dapat dilakukan sebab Islam mempunyai konsep yang jelas tentang pembinaan peradaban. Seyyed Hossein Nasr, misalnya, menyatakan bahwa dunia Islam adalah realitas yang hidup dengan nilai-nilai keagamaan dan peradabannya sendiri. Lebih dari 1,2 milyar Umat Islam menempati wilayah-wilayah yang luasnya dapat ditarik dari Timur sampai ke Barat.

Hakikat Peradaban

Dari segi bahasa, istilah peradaban mencerminkan: (1) kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin; dan (2) hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa. Kata tamaddun diserap dari bahasa Arab, sinonim dari madaniyah dan hadharah. Dalam bahasa Inggris, istilah peradaban disebut civilization. Semenatara itu, civil society sering diidentikkan dengan civilized society (masyarakat berbudaya atau berkeadaban). Istilah peradaban biasanya dipakai untuk menunjuk bagian-bagian dan  unsur-unsur  kebudayaan yang  halus  dan  indah  seperti kesenian, ilmu pengetahuan dan sistem pergaulan yang kompleks dalam suatu masyarakat dengan struktur yang kompleks pula. Tetapi istilah peradaban dipakai juga untuk menyebut suatu kebudayaan yang mempunyai sistem teknologi, seni bangunan, seni rupa, sistem kenegaraan, ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah sangat maju, canggih dan kompleks.

Menurut  Yusuf  Qardhawi,  kata  peradaban dipertentangkan dengan kata Badui atau sifat “biadab” dan “liar.” Kata “perkotaan” diperlawankan dengan kata “padang pasir.” Cara hidup  menetap adalah  kebalikan dari cara hidup  “nomaden.” Orang-orang yang hidupnya menetap adalah penghuni kota, desa, dan pantai. Sedangkan orang-orang Badui adalah mereka yang tinggal di kemah-kemah di kawasan padang pasir. Orang-orang Badui terkenal  dengan perangainya yang kasar, kejam, keras, tampak lugu, dan buta huruf. Dengan demikian, peradaban sesungguhnya terkait dengan hasil rasa, cipta dan karya manusia yang mencerminkan ketinggian perilaku yang merefleksikan keluhuran budi bahasa. Hal ini sejalan dengan penjelasan Yusuf Qardhawi yang menyebutkan tiga perkara penting yang berkaitan dengan peradaban, yaitu: fikih (pemahaman) peradaban, perilaku peradaban, dan pembangunan peradaban (Yusuf Qardhawi, Sunnah Rasul: Sumber Ilmu Pengetahuan dan Peradaban. Terj. Abdul Hayyie Al-Kattanie dan Abduh Zulfidar (Jakarta: Gema Insani Press, 1998), hlm. 363).

Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah

Sebelum datangnya Nabi Muhammad SAW, bangsa Arab sering diledek soal kenabian. Karen Armstrong menyatakan bahwa penganut agama Yahudi dan Kristen yang mereka temui sering mengejek bahwa bangsa Arab telah disisihkan dari rencana Agung-Nya. Di seluruh jazirah Arab, suku-suku bertempur satu sama lain dan berada dalam lingkaran balas dendam. Semakin banyak pemikir di Arabia yang berpendapat bahwa bangsa Arab adalah pecundang yang selamanya terbuang dari dunia beradab dan diabaikan oleh Tuhan sendiri. Tetapi situasi ini secara spektakuler berubah pada malam ke-17 Ramadhan ketika Muhammad bangun dan mendapatkan dirinya dirangkul oleh sebuah  kekuatan yang Agung yang mendekapnya sangat  erat sampai dia mendengar kata-kata pertama dari kitab suci baru atau wahyu yang menandai pengangkatannya sebagai Nabi.

Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah  membaca dengan nama Tuhan. Perintah pertama ini berisi  ajakan  kepada  orang  yang  mempercayai Alqur’an agar  ia menjadi  cerdas. Ia diajak untuk  melakukan aktivitas membaca dalam arti luas sesuai dengan tuntunan Tuhan dan untuk tujuan yang diridai-Nya. Ini adalah langkah awal untuk membangun peradaban. Langkah itu menjadi jelas dengan penulisan wahyu setiap kali diturunkan. Penulisan wahyu ini dilakukan oleh sejumlah sahabat penulis wahyu dalam rentang waktu selama 23 tahun. Umat Islam yang sejak awal memelihara kitab sucinya melalui tradisi lisan (pengahafalan) yang dibarengi dengan pelestraian secara tertulis merupakan suatu gejala peradaban yang tinggi. Umat Islam secara bersama-sama memelihara orisinalitas kitab sucinya sebagai sumber utama dalam membina peradaban. Orisinalitas kitab suci ini merupakan salah satu keunggulan etos kreatif yang dimiliki umat  Islam dalam membina peradaban.

Adalah benar pernyataan Yusuf Qardhawi yang mengatakan bahwa  sesungguhnya Islam sejak  pertama kali datang telah membawa ide, visi dan misi peradaban yang tidak diragukan lagi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu kehidupan manusia dan mengeluarkannya dari kekolotan dan kebodohan menuju  kecerdasan  dan kemajuan. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa peradaban Islam membawa manusia kepada kepercayaan  terhadap  kemahakuasaan  dan  kemahabesaran Tuhan. Dalam hal ini, bumi terkait dengan langit, dunia dijadikan sebagai jembatan menuju akhirat, materi dipadukan dengan spiritual, akal diseimbangkan dengan hati, dan ilmu disatukan dengan hati. Islam menghendaki kemuliaan akhlak, sebagaimana halnya  kemajuan  fisik. Sosok  peradaban  seperti  ini  tidak melupakan Tuhan dan tetap  memperhatikan sisi kemanusiaan manusia, penuh etika dan norma, dibangun atas dasar kerjasama yang baik antara individu dan jamaah. Cita-cita Nabi Muhammad SAW untuk mengembangkan peradaban Islam menemukan momentumnya yang tepat ketika ia hijrah ke Madinah. Nabi mulai membentuk masyarakat baru dan meletakkan dasar-dasar untuk membangun masyarakat  dan  peradaban Muslim yang besar. Dasar-dasar pembentukan masyarakat Muslim yang menjadi cikal bakal pembentukan masyarakat madani itu dibangun oleh Nabi Muhammad dengan cara:

(1) Mendirikan masjid yang berfungsi sebagai wadah persatuan dan kesatuan sosial Muslim karena persatuan dan kesatuan adalah pilar penyangga utama kekuatan umat.

(2)  Mempersaudarakan kaum Ansor (Muslim asli Madinah) dan Muhajirin (Muslim asal Mekkah). Dengan  demikian, kabilaisme, sukuisme dan tribalisme telah dihancurkan dan sebagai gantinya dibangun persaudaraan dan persatuan yang didasarkan pada jiwa ukhuwah Islamiah yang kuat dan kukuh dengan berpegang kepada tali Allah (hablun minallah) dan tali manusia dan kemanusisan (hablun minannas).

(3) Mengadakan perjanjian antara kaum Muslimin dan kelompok non-Muslim (komunitas Arab non-Muslim dan komunitas Yahudi). Peristiwa sejarah ini disebut Piagam Madinah yang di dalamnya sangat menjunjung tinggi penghargaan akan pluralisme, toleransi dan kerukunan antarumat dan antarkomunitas.

(4)  Meletakkan  secara  kukuh  dan  kuat  dasar-dasar  politik, ekonomi, dan sosial untuk memberdayakan fungsi-fungsi pranata sosial dan memberdayakan peran aktif masyarakat dalam mengelola kebersamaan, kemasyarakatan dan pemerintahan yang adil dan berkeadaban.

Nabi Muhammad  SAW mengawali  langkah konkrit pembinaan peradaban Islam melalui penataan sistem pemerintahan yang sangat maju diukur dengan keadaan zamannya. Sayed Husen Nasr menyatakan bahwa di kota Madina inilah, Islam untuk pertama kalinya telah menjadi tatanan sosial politik, suatu kota yang lambat laun kelak berkembang pesat menjadi  salah  satu  peradaban besar  dunia.  Sementara  itu, Nurcholish  Madjid  menyatakan  bahwa  Nabi  di  Madinah membangun  mansyarakat  berperadaban  berdasarkan ajaran Islam, masyarakat yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Beberapa ciri mendasar masyarakat madani yang dibangun oleh Nabi, antara  lain: (1) egalitarianisme,  (2) penghargaan kepada orang berdasarkan prestasi (bukan kesukuan, keturunan, ras, dan sebagainya), (3) keterbukaan partisipasi seluruh anggota masyarakat secara aktif, (4) penegakan hukum dan keadilan, (5) toleransi dan pluralisme, dan (6) musyawarah.

Nabi Muhammad SAW berhasil membina masyarakat Islam di Madinah sehingga melahirkan peradaban tinggi. Keberhasilan tersebut menjadi landasan atau model bagi terbentuknya peradaban Islam di kemudian hari di berbagai negeri Islam. Kehadiran Islam di bumi Andalusia telah berhasil membangun peradaban yang tinggi dalam berbagai wujudnya. Sebagai misal, Cordova memantulkan harmoni antara kemegahan istana, keagungan masjid, kewibawaan perguruan tinggi, dan keindahan taman kota. Simbol-simbol itu mencerminan kemajuan arsitektur, ilmu pengatahuan, kepedulian terhadap lingkungan hidup, pemerintahan yang maju, dan pembangunan peradaban yang berkeseimbangan antara aspek lahiriah dan batiniah. Keseimbangan tersebut seseuai dengan hakikat Islam sebagai as- sirat al-mustaqim (jalan lurus, jalan yang benar, dan jalan yang mencerminkan keseimbangan sempurna) dan kaum Muslimin sebagai ummatan washatha.

Salah satu faktor penting keberhasilan membangun peradaban tersebut adalah pemimpin yang berkualitas. Kemajuan peradaban Islam pada  masa  Daulah  Umayyah  di Andalusia maupun Daulah Abbasiah yang berpusat di Baghdad selalu digerakkan oleh para penguasa, dengan sebutan amir ataupun khalifah, yang terkenal dengan berbagai kelebihannya. Sebaliknya, kemunduran peradaban Islam berangsur-angsur terjadi  ketika kendali pemerintahan berada di tangan kahlifah yang lemah dan ketika umat Islam senantiasa bertikai dalam perebutan kekuasaan. Tidak jarang kita jumpai dalam sejarah Islam, penguasa Muslim meminta bantuan pada pihak lain untuk memerangi penguasa Muslim lainnya. Belajar dari pengalaman ini, maka umat Islam di berbagai negeri perlu memiliki pemerintahan yang kuat dan berwawasan ke-Islam-an. Strategi ini sangat penting dalam rangka membina peradaban Islam pada masa kini dan pada masa-masa seterusnya. Pembinaan peradaban memerlukan kebijakan politik dari pemerintah dan dukungan seluruh warga masyarakat Muslim. Selain itu, pemerintah yang  kuat, jujur, berani  dan  cerdas diperlukan untuk menghindari pengaruh asing yang selalu datang dalam berbagai bentuk kepentingan yang bersifat menggerogoti.

Perlu disebutkan pula contoh kemajuan peradaban Islam di Nusantara. Dalam bukunya Menemukan Peradaban: Jejak Arkeologis dan Historis Islam, Hasan Muarif Ambary mengatakan bahwa  peradaban  Islam  di  Cirebon  (dan  Banten),  seperti disebutkan dalam  Babad Cerbon, telah  mengubah dua  desa nelayan yang semula tidak berarti menjadi dua kota metropolis. Seperti dilaporkan oleh saksi asing, Cirebon pada saat itu adalah kota yang ramai dengan penduduk sekitar 1.000 keluarga dan Banten dinyatakan lebih besar dan lebih ramai dari Amsterdam. Kemajuan semacam ini tentu saja hanya bisa dilakukan karena ada motivasi ke arah itu dan ada prinsip-prinsip yang dijadikan acuan dalam membangun peradaban. Selanjutnya, Hasan Muarif Ambary mengatakan bahwa Cirebon telah menjadi salah satu bandar perdagangan yang pesat pada masanya dan sekaligus menjadi pusat peradaban Islam yang memiliki beberapa karakter antara lain sebagai berikut:

(1)  Pertumbuhan pola  kehidupan kota  bernapaskan Islam dengan pola-pola  penyusunan masyarakat serta hirarki sosial yang kompleks;

(2)  Perkembangan  arsitektur  baik  sakral  maupun profan, seperti masjid dan keraton;

(3)  Pertumbuhan seni lukis kaca dan seni pahat yang menghasilkan karya-karya kaligrafi khas Cirebon;

(4) Perkembangan bidang seni lain seperti tari, membatik, musik, dan seni pertunjukan tradisional;

(5)  Pertumbuhan penulisan naskah-naskah keagamaan;

(6)  Karya-karya sastra dalam bentuk  serat suluk yang berisi ajaran tarekat;

(7)  Tumbuhnya   pendidikan   Islam  dalam   bentuk pesantren di sekitar Cirebon, Indramayu, Kerawang, Majalengka dan Kuningan. (Hasan Muarif Ambary, Menemukan Peradaban: Jejak Arkeologis dan Historis Islam (Jakarta: Logos, 1998), hlm. 109-110.)

Pada permulaan abad ke-16, perkembangan peradaban Islam di Cirebon seperti disebutkan di atas belum memberikan perhatian yang memadai terhadap ilmu pengetahuan (sains). Kondisi tersebut agaknya serupa dengan kondisi umat Islam di berbagai negeri lainnya pada masa itu. Ketertinggalan tersebut berlangsung lama dan baru disadari setelah umat Islam bersentuhan dengan pengaruh bangsa-bangsa Barat yang selama ratusan  tahun  pernah  menancapkan dominasi  mereka  dalam bidang politik di negeri-negeri jajahan. Kini era penjajahan dalam bentuk teritorial sudah berlalu, namun penjajahan dalam bentuk kultural dan penjajahan pemikiran (ghaswatul fikr) belum berakhir. Kondisi seperti ini merupakan kendala besar dalam membina peradaban Islam. Umat Islam di berbagai belahan dunia belum secara maksimal menunjukkan kebangunan mental untuk bangkit membangun peradaban Islam yang berkualitas tinggi dan unggul.

Sejak kebangkitannya pada abad ke-7, perhatian umat Islam Arab terhadap ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum sangat menonjol dan luar biasa. Pada perkembangan selanjutnya, umat Islam  masih  memberi  perhatian  secara  seimbang  terhadap berbagai disiplin ilmu secara terpadu. Pada masa keemasan dan kejayaan  peradaban Islam, umat  Islam memiliki tokoh-tokoh ilmuan dan saintis besar yang mengusai ilmu agama dan ilmu umum, seperti Ibn Sina, Al-Farabi, Ibn Rusyd, Al-Ghazali, Al- Khawarizmi dan Jabir ibnu Hayyan. Sesudah mengalami gebyar kebesaran  dari abad ke-7 sampai abad ke-13, peradaban Islam mengalami kemunduran dan banyak bangsa-bangsa Muslim yang hidup di bawah cengkraman penjajahan Barat dari abad ke-16 sampai pertengahan abad ke-20. Dalam keadaan terjajah dan tereksploitasi, Umat Islam tidak mampu mengembangkan kreativitas mereka untuk mengembangkan sains dan teknologi. Sementara  itu, Islam yang tersebar ke berbagai  belahan dunia adalah Islam psca-Baghdad dan Islam pasca-Cordova yang sudah kehilangan elan vital dan kreativitas keilmuan, yakni Islam yang lebih menekankan pada olah spiritual-kerohanian (bersifat sufistik) ketimbang Islam yang menekankan pada olah akal-intelektual. Setelah bebas dari penjajahan Barat, bangsa-bangsa Muslim mulai bangkit. Tapi hingga kini masih banyak bangsa-bangsa Muslim yang sangat tertinggal dalam bidang sains dan teknologi.

Peradaban Muslim vis-a-vis Peradaban Barat

Konsep-konsep Barat mengenai manusia, budaya, dan peradaban bersifat antroposentrik (berpusat pada manusia), sementara konsep-konsep Islam bersifat teosentrik (bepusat pada Tuhan). Konsep Islam mengandung nilai dan  norma  untuk mengatur kehidupan manusia ke dalam empat  dimensi, yaitu hubungan dengan Allah (hablun minallah), hubungan sesama manusia (hablun minannas), hubungan dengan lingkungan alam, dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri.  Menurut Kuntowijoyo, pandangan antroposentrisme di dunia Barat muncul secara revolusioner sebagai pendobrak pandangan keagamaan mitologis. Pandangan antroposentrisme, atau yang juga sering disebut  humanisme,  beranggapan bahwa  kehidupan  tidak berpusat pada  Tuhan, pada  dewa-dewa,  tapi  pada  manusia. Manusia  yang  menjadi  penguasa realitas;  oleh  karena  itu, manusialah  yang  menentukan nasibnya,  bukan  para  dewa. Manusia bahkan dianggap dapat  menetukan kebenaran. Itulah sebabnya, dewa-dewa dan kitab-kitab suci tidak diperlukan lagi.

Penolakan terhadap esensi dan fungsi agama seperti itulah yang telah melahirkan sekularisme di Barat. Sekularisasi terjadi dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk di bidang pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, lahirlah peradaban Barat sekuler yang jauh dari nilai-nilai spiritual. Kemajuan peradaban menghasilkan kekeringan spiritual. Kedudukan manusia  kemudian  mengalami  degradasi. Manusia yang tadinya dianggap sebagai pusat alam semesta, kini telah berubah sekedar sebagai unsur suatu sistem ekonomi atau sistem politik.  Dalam  bidang  ekonomi,  misalnya,  manusia  menjadi elemen pasar. Kualitas kerja manusia, bahkan kualitas kemanusiaan  itu  sendiri,  ditentukan  oleh  pasar.  Demikian seterusnya dalam  bidang kehidupan yang lain. Dalam beberapa aliran filsafat Barat,  kedudukan manusia  digambarkan  secara absurd sekali.

Islam mempunyai visi dan prinsip yang berbeda dari cara pandang Barat  tentang ilmu  pengetahuan  dan  kedudukan manusia di dunia ini. Islam memerintahkan manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan untuk tujuan yang diridai oleh Allah, yakni untuk mengembangkan dan mencapai kemaslahatan umat  manusia  lahir dan batin yang didasarkan kepada etika dan moral agama yang bersumber dari wahyu Tuhan. Dengan demikian, Islam menolak pengembangan ilmu pengetahuan untuk tujuan yang hanya bersifat pragmatik- sekularistik-hedonistik dan destruktif, karena manusia mendapat tugas dari Allah SWT sebagai khalifah-Nya untuk memakmurkan bumi bagi kemaslahatan bersama dan segenap makhluk ciptaan- Nya. Arifin Bey mengatakan:

Although Islam places very great importance on science and knowledge, it is not value free but value oriented. Knowledge is meant to increase man’s ability to persue a better life but at the same time to increase understanding about the greatness of God. Such knowledge would increase belief and loyality to Him. (Arifin Bey, Beyond Civilizational Dialogue (Jakarta: Paramadina, 2003), hlm. 130.)  (Walaupun Islam menekankan sangat pentingya ilmu pengetahuan, ia bukan agama bebas nilai tetapi mmerupakan agama yang berorietasi pada nilai. Pengembangan ilmu pengetahuan dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan manusia untuk mengejar kehidupan yang lebih baik, tetapi pada waktu yang sama meningkatkan pemahaman akan kebesaran Tuhan. Pengetahuan semacam itu akan meningkatkan keimanan dan ketaatan kepada-Nya)

Arifin Bey selanjutnya mengatakan:

If during the Middle Ages Islam helped to re-institute science and philosophy to the absolute domination of religious dogma, which was the West, today Islam seeks to contribute by re-intorducing the idea of the sacred to the totally secularized and science dominated life of the West.  (Jika selama Abad Tengah Islam membantu menempatkan  kembali  sains  dan  filsafat di  atas dominasi  absolut  dogma  agama,  maka dewasa  ini Islam berupaya  untuk memperkenalkan kembali ide tentang hal-hal yang bersifat suci terhadap hal-hal yang bersifat sekuler dan terhadap sains yang secara total telah tersekularisasikan yang mendominasi kehidupan masyarakat Barat).

Pandangan Barat tentang pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban secara umum telah menyebar  ke berbagai dunia Islam. Banyak generasi Islam yang mungkin terpengaruh dengan pandangan tersebut, terutama melalui pendidikan. Pendidikan menjadi saluran efektif dan empuk bagi Barat dalam membuat orang-orang non-Barat menjadi Barat. Westernisasi dan sekularisasi berlangsung melalui proses sistemik yang terus menerus sehingga tidak terasa orang-orang non-Barat telah di-Barat-kan dalam cara berpikir, pandangan hidup, filsafat hidup, perilaku, sistem politik dan sistem sosial mereka. Westernisasi dan sekularisasi akan menjauhkan agama dari orang- orang yang telah di-westernized dan di-secularized itu. Jika mereka adalah orang-orang Muslim, maka secara akidah agama, mereka adalah Muslim, tetapi secara kultural, mereka adalah Barat. Mereka adalah orang-orang Muslim yang berbudaya dan berperadaban Barat. Mereka mengalami  split personality (kepribadian  yang pecah). Mereka bukan sosok pribadi Muslim yang utuh dan seutuhnya. Di kalangan Muslim yang kritis, ide-ide dan unsur- unsur peradaban Barat diterima sepanjang elemen-elemen itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Mereka menolak ide- ide dan unsur-unsur kebudayaan dan peradaban Barat yang dinilai berlwawan dengan nilai-nilai Islam.

Sikap Muslim terhadap kebudayaan dan peradaban Barat berlaku pula terhadap kebudayaan dan peradaban lainnya. Bahwa Umat Muslim tidak dapat menerima ide-ide dan unsur-unsur peradaban non-Muslim  yang  bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Tapi Umat Muslim dapat menerima ide-ide dan unsur-unsur peradaban non-Muslim sepanjang ide-ide dan unsur-unsur peradaban non-Muslim tadi tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Penerimaan Muslim terhadap ide-ide dan unsur-unsur peradaban non-Muslim yang tidak berlawanan dengan nilai-nilai Islam adalah sangat  penting dan strategis  bagi Umat Muslim dalam rangka memperkaya dan mengembangkan kebudayaan dan peradaban Muslim. Sikap Muslim dalam hal kebudayaan dan peradaban adalah kritis-apresiatif. Artinya, Umat Muslim menerima ide-ide dan unsur peradaban dari mana pun datangnya sejauh tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, tetapi menolak semua ide dan unsur peradaban dari mana saja datangngnya yang berlawanan dengan nilai-nilai Islam. Awal kebangkitan kebudayaan dan  peradaban Muslim pada  abad  ke-7 Masehi dirintis oleh para sarjana dan ilmuan Muslim dengan menyerap dan mengambil ide-ide dan unsur-unsur peradaban Yunani klasik. Kemudian para sarjana dan ilmuan Muslim itu mengolah dan mengembangkan ide-ide  dan  unsur-unsur  peradaban Yunani klasik itu sehingga terciptalah ’the golden age’ kebudayaan dan peradaban Muslim dari abad ke-7 sampai dengan abad ke-13. Baghdad dan  Cordova menjadi  saksi sejarah  kebesaran  dan kejayaan peradaban Muslim pada abad-abad itu yang belum tertandingi oleh bangsa-bangsa Barat sekali pun.

Alqur’an dan Sunnah: Landasan Peradaban

Umat Islam mempunyai landasan yang kokoh dan jelas untuk membangun peradaban, yaitu Alqur’an dan Sunnah Nabi Muhammad  SAW. Kedua sumber itu harus dikaji secara murni sehingga melahirkan interpretasi yang cerdas. Dengan cara seperti itu, semangat dan kandungan Alqur’an dan Sunnah benar-benar dapat digali secara orisinal dan utuh. Alqur’an mengajak manusia untuk mengkaji kitab suci, berpikir rasional, dan  melakukan pengamatan atau observasi sebagai bagian dari metode berpikir empirik. Ajakan seperti itu mendorong ke arah pengembangan ilmu pengetahuan yang terintegrasi dan, pada gilirannya, mampu mengembangkan peradaban yang utuh pula. Selain itu, Sunnah Nabi yang dikembangkan selama 23 tahun merupakan contoh praktis dalam mengimplementasikan pesan-pesan Ilahi dan model dialog kultural antara pesan-pesan tersebut dengan realitas kehidupan manusia yang senantiasa memerlukan ijtihad. Tindakan untuk sekedar menjadikan ayat Alqur’an dan Hadis sebagai alat justifikasi terhadap gagasan yang dikembangkan pihak lain (non- Muslim) adalah tidak sepantasnya dilakukan.

Islam mengajarkan sejumlah nilai dan norma yang unggul dalam membangun peradaban. Hanya saja pengembangan ke arah itu memerlukan kajian yang sungguh-sungguh dan harus berhadapan dengan tantangan yang kompleks dan berat. Segala kompleksitas tantangan hendaknya dapat direspon secara tepat oleh Umat Islam. Dewasa ini, sistem perbankan syari’ah, sebagai misal, mulai disadari banyak pihak sebagai sistem yang lebih adil dan pengunaannya semakin luas, tidak saja di negara-negara Muslim tetapi juga di negara-negera sekuler (non-Muslim). Tentu saja, hal ini memerlukan kerja keras dan dukungan dari umat Islam sendiri. Kasadaran seperti itu timbul setelah manusia melakukan pencarian yang lama dan memiliki pengalaman yang banyak. Kesadaran akan keunggulan nilai dan norma yang diajarkan oleh Allah SWT akan semakin terbukti pada masa datang. Ini adalah tugas para cendekiawan dan praktisi Muslim. Kini umat Islam secara keseluruhan dituntut untuk membangun dan mengembangkan peradaban yang benar-benar mencerminkan nilai-nilai Islam sebagai rahmatan lil alamin, bukan bencana bagi kemanusiaan.***

Makalah ditulis tahun 2005, belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Lalu, diterbitkan dalam buku REPUBLIK BHINNEKA TUNGGAL IKA: MENGURAI ISU-ISU KONFLIK, MULTIKULTURALISME, AGAMA DAN SOSIAL BUDAYA, Oktober 2012.

Related Post

 

Tags: