oleh Faisal Ismail

Kebangkitan sentimen agama dan superioritas etnik sebagai sumber konflik disebut oleh sebagian pakar sebagai gejala dunia yang mulai marak kembali di penghujung abad ke-20. Gejala semacam ini sesungguhnya sudah terjadi di berbagai negara, seperti halnya di Irlandia Utara, Israel, India, Balkan, dan akhir-akhir ini juga menjalar ke kawasan Indonesia. Maraknya konflik yang melibatkan umat beragama di berbagai belahan bumi (yang telah menginjak-injak perdamaian, prinsip keadilan dan hak asasi manusia serta mengancam fondasi keutuhan sebuah bangsa) perlu mendapat perhatian yang serius dari semua pihak.

Pada awal tahun 1990, futurolus John Naisbit dan Patricia Aburdene telah melontarkan prediksi bahwa memasuki babakan abad ke-21, dunia akan menghadapi dasawarsa penting dalam sejarah peradaban manusia karena empat hal: pertama, perkembangan teknologi informasi; kedua, pasar bebas; ketiga, reformasi politik; dan keempat, kelahiran kembali kultur yang besar. Revolusi besar dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi telah membuka peluang ekonomi yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Hal ini telah berpotensi melahirkan perusahaan-perusahaan multinasional milik negara-negara maju dan sistem ekonomi pasar bebas yang mendasarkan diri pada prinsip-prinsip kapitalisme.

Selanjutnya, negara-negara maju berperan besar sebagai penguasa teknologi informasi dan komunikasi dan sekaligus pula menjadi lokomotif di bidang ekonomi, politik, dan kultur. Akibatnya, negara-negara berkembang, suka atau tidak suka, tetap harus puas menerima posisi sebagai negara yang terus bergantung kepada negara-negara maju. Kondisi kehidupan global seperti ini memaksa negara-negara berkembang harus menerima posisi lemah yang tak berdaya. Dalam realita kehidupan global, hukum alam ”yang kuat memangsa yang lemah” tetap tidak terelakkan. Bahkan, menurut pandangan sebagian pakar, sampai pada masalah penentuan peta dan situasi politik dalam negeri negara-negara lemah (berkembang), negara-negara maju sering ikut terlibat dan memainkan peranan penting. Samuel P. Huntington menjelaskan lebih jauh tentang gejala dunia baru di abad sekarang ini. Ia menjelaskan bahwa negara-negara di seluruh dunia pada masa pasca Perang Dingin mulai mengembangkan asosiasi-asosiasi primordialisme masa lalu. Mereka membentuk kelompok-kelompok yang didasarkan pada asas kesamaan dan kemiripan kebudayaan. Pada tingkat dunia, gejala ini ditandai dengan munculnya asosiasi-asosiasi yang ingin menghidupkan kembali semangat Serbia Raya, Turki Raya, Cina Raya, Rusia Raya, Hongaria Raya, dst.

Tesis yang dapat ditarik dari arah kecenderungan ini ialah bahwa dengan semakin menglobalnya dunia, maka pada saat yang bersamaan sebagian masyarakat dunia merasa semakin terancam kehilangan sosok jati diri (identitas) dan hal ini mendorong mereka mencari komunitas-komunitas tempat berlindung. Komunitas agama dianggap sebagai salah satu alat yang paling ampuh untuk memperoleh tempat perlindungan itu. Itulah sebabnya, sejak krisis melanda Indonesia pada pertengahan 1997, krisis yang berawal dari krisis moneter itu lalu berdampak pula pada krisis multidimensi, termasuk krisis keharmonisan hubungan antarkelompok umat beragama yang muncul di sebagian wilayah Indonesia. Hal ini memerlukan upaya dan solusi yang tepat serta menyeluruh agar krisis tadi tidak melebar dan meluas dengan kemungkinan potensi eskalasi konflik yang lebih destruktif. Jika hal ini tidak segera dapat dicarikan solusinya yang tepat dan tuntas, bahkan jika persoalan ini berjalan berlarut-larut, maka akan sangat membahayakan nasionalisme dan integritas bangsa kita di masa depan.

Misi dan Moral Kenabian

Bersamaan dengan kondisi yang berkembang di belahan dunia dewasa ini, kondisi di Tanah Air pada tataran kehidupan global abad ke-21 atau era millenium ketiga diprediksikan oleh banyak kalangan akan semakin banyak menyuguhkan perubahan sekaligus membawa kompleksitas problematika kehidupan. Paling tidak, kita telah menyaksikan berbagai serbuan gelombang globalisasi yang sebagian di antaranya membuat institusi-institusi keagamaan kita kian lemah dan kurang berdaya sehingga nilai- nilai moral dan etika kemanusiaan yang dimiliki oleh berbagai agama tampak kurang mampu menyinari kehidupan. Masyarakat kita kini seakan kehilangan pegangan nilai dan norma hidup berbangsa dan bernegara yang majemuk ini. Sebagian masyarakat cenderung memraktikkan kehidupan serakah dan suka main hakim sendiri tanpa kepekaan hati nurani dan nalar sehat insani.

Budaya kekerasan (culture of violence) kian menonjol di mana-mana dan nafsu hewaniyah untuk ”menghancurkan lawan” demi mengedepankan kepentingan ego kelompok semakin marak.

Agama merupakan salah satu kekuatan potensial dan aktual yang sangat besar dalam membangun dan mengembangkan tatanan kehidupan sosial. Dalam pengembangan fungsi yang lebih luas, termasuk dalam dimensi nasionalitas, agama merupakan instrumen perekat kehidupan masyarakat dan bangsa. Agama berperan sebagai perekat etnisitas dan nasionalitas dalam kehidupan kenegaraan yang ditegakkan atas dasar konstitusi dan demokrasi. Tentu saja peranan agama ini masih memerlukan berbagai konkretisasi dan optimalisasi dalam banyak hal karena kita selalu berhadapan dengan kompleksitas tantangan modernitas yang selalu menghadang di setiap lini kehidupan. Termasuk dalam hal ini adalah ketepatan pemakaian metode pendidikan dan pengajaran agama yang hasilnya diharapkan dapat lebih mampu mendorong peningkatan kualitas hidup umat tanpa kehilangan substansi dan esensi agamanya.

Dalam konteks ini, peranan dan kontribusi lembaga- lembaga pendidikan agama (yang notabene memperkenalkan ajaran agama sebagai landasan nilai, norma, etika dan pegangan hidup) masih sangat diharapkan pada era global sekarang ini dan juga pada masa-masa yang akan datang. Selain mananamkan nilai-nilai spiritual dalam dimensi kehidupan yang luas, agama juga diharapkan mampu menyuguhkan alternatif perbaikan dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan demikian, dalam konteks Islam, misalnya, misi Rasul untuk mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil-alamin (rahmat bagi semua), tentu sangat diharapkan dapat lebih terlihat secara kongkrit dan riil dalam tatatanan kehidupan umat dan masyarakat dewasa ini.

Sosok kesadaran keagamaan yang dilandasi oleh semangat kearifan yang dijiwai oleh nilai-nilai transcendental Ilahiah dan moral kenabian terasa semakin perlu ditumbuhkan oleh seluruh pemeluk agama. Terutama karena sejarah perjuangan bangsa Indonesia tidak dapat dipisahkan dari peran serta dan sumbangsih umat beragama. Sebagai bagian terbesar dari bangsa Indonesia, umat Islam telah menampilkan peran besar dan menentukan bagi masa depan bangsa, baik pada masa perjuangan kemerdekaan, penegakan kemerdekaan maupun pada masa mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Pada masa penjajahan, sejarah Indonesia mencatat perjuangan umat Islam yang gigih melawan penjajah lewat berbagai perjuangan. Pada masa penegakan kemerdekaan, peran serta umat Islam juga sangat besar dan strategis.

Islam: Rahmat bagi Semua

Kehadiran Nahdlatul Ulama, Sarekat Islam, dan Muhammadiyah sudah pasti memiliki arti yang sangat penting bagi pertumbuhan paham dan gerakan kebangsaan Indonesia secara luas. Gerakan-gerakan Islam tersebut merupakan manifestasi dari proses revitalisasi kultural bangsa Indonesia terhadap dominasi kekuatan luar yang telah tiga abad lebih bercokol sebagai penjajahan kolonial. Di samping itu, gerakan- gerakan Islam juga telah berfungsi sebagai agen reformasi sosial, yakni melakukan perubahan dan pembaruan di berbagai bidang kehidupan masyarakat secara luas sejalan dengan agenda kemanusiaan bersama yang mereka garap dan mereka persembahkan bagi negara dan bangsa.

Sebagai agen reformasi sosial, lembaga-lembaga keagamaan dan institusi-institusi pendidikan keagamaan saat itu mempunyai bidang garapan agenda kemanusiaan bersama. Hasilnya adalah berupa kontribusi kemanusiaan yang merupakan andil yang amat besar bagi pencerdasan bangsa, peningkatan harkat dan martabat bangsa, baik dalam bidang sosial maupun ekonomi. Merujuk pada kenyataan ini, maka lembaga-lembaga keagamaan dan lembaga pendidikan yang ada sekarang perlu memainkan kembali fungsi dan peranan mereka yang lebih sesuai dengan dinamika dan tantangan yang dihadapi bangsa ini.

Dengan demikian, peranan dan fungsi agama sebagai instrumen perekat etnisitas dan nasionalitas dalam kehidupan kenegaraan yang demokratis akan dapat terwujud kembali. Peranan dan fungsi agama pada tataran demikian sekaligus membuktikan pembumian makna dan misi agama Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Fakta-fakta sejarah ini sengaja diungkap kembali untuk menegaskan lagi betapa besar potensi dan peranan umat dan lembaga-lembaga keagamaan bagi perjuangan bangsa dan negara. Pengungkapan fakta sejarah ini dimaksudkan pula untuk menggugah kembali tanggungjawab historis umat Islam untuk terus menampilkan peran aktif dalam proses membangun dan memajukan bangsa pada masa sekarang dan masa yang akan datang. Caranya antara lain adalah dengan mangamankan dan meluruskan cita-cita bangsa sebagaimana digagas oleh para Founding Fathers Republik ini dan mengamalkan secara konsisten amanat konstitusi dan reformasi dalam kerangka demokrasi, HAM dan nilai-nilai luhur Pancasila.

Selain visi yang bersifat nasional, sepatutnya pula pembangunan keagamaan Indonesia memiliki visi mengharumkan citra Islam di tengah-tengah pergaulan dunia yang cenderung tidak adil akibat ulah radikal sekelompok kecil gerakan keagamaan. Hal ini sangat wajar mengingat posisi umat Islam Indonesia sebagai sebuah bangsa yang pemeluk Islamnya terbesar di antara negara-negara Muslim di dunia. Dengan demikian, mau tidak mau, kita harus bekerja keras menampilkan alternatif yang lebih menunjukkan wajah ramah Islam yang bersifat mengayomi sebagai penebar rahmatan lil-alamin. Tampaknya pencarian dan sekaligus penemuan alternatif ini menjadi suatu keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi sebagai agenda kerja umat ke depan. Sebab jika hanya semata-mata mengadopsi sistem Barat yang liberal-kapitalistik-sekularistik-hegemonistik, upaya-upaya mewujudkan kehidupan yang adil, damai dan sejahtera bagi semua pihak tidak akan pernah terwujud. Umat Islam dan bangsa Indonesia secara keseluruhan memerlukan implementasi agenda- agenda kerja yang bercorak humanis-religius, bukan humanis-sekuler.

Jika hal-hal di atas itu yang menjadi tujuan dan misi pembinaan keagamaan kita, maka setidaknya masalah ini harus lebih mendorong kita semua kepada upaya yang sungguh- sungguh dalam mengeksplorasi ajaran agama, khususnya ajaran Islam. Dengan demikian, ajaran Islam dapat diajukan sebagai tawaran-tawaran korektif terhadap kondisi krisis sekarang ini. Misalnya, sistem ekonomi kapitalisme (yang tujuan pokoknya menjurus ke arah individualisme) sudah saatnya dikoreksi oleh Islam dengan memberikan pemikiran-pemikiran alternatif yang konstruktif di bidang ekonomi. Dengan demikian, misi umat Islam senantiasa dituntut untuk berorientasi kepada visi dan makna perubahan yang baik dan bermoral. Perubahan dan transformasi sosial yang dilakukan tadi hendaknya tidak bersifat tambal sulam, melainkan bersifat substantaif-transformatif di mana nilai-nilai Islam dapat mengubah kondisi umat di jalur pendidikan, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan lain-lain tanpa kehilangan bobot nilai spritualitasnya.

Dengan menggarisbawahi poin-poin tersebut di atas, perlu ditekankan agar dalam membangun dan menata kembali visi dan misi keagamaan yang bercorak humanis, kita sudah sepatutnya tidak melupakan bahwa penataan kembali ini merupakan rangkaian dari upaya keras yang telah menjadi agenda kemanusiaan bersama dalam rangka meningkatkan kualitas iman umat dan meningkatkan kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara. Upaya-upaya ini sudah pasti berimplikasi luas pada pelaksanaan agenda kerja yang bertujuan untuk memajukan bidang kehidupan kongkrit lainnya, seperti bidang ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi. Inilah tantangan riil dan mendesak yang kita hadapi bersama saat ini. Dengan menggali dan mengimplementasikan ajaran-ajaran agama secara komprehensif dan terpadu ke dalam agenda kemanusiaan bersama, maka esensi dan substansi ajaran Islam sebagai rahmatan lil alamin akan terus hidup dan menjadi kenyataan dalam realitas moral profetik kenabian, baik pada tataran idealitas Ilahiah dan realitas insaniah.

 

Artikel ditulis tahun 2004, belum pernah dipublikasikan. Kemudian, Oktober 2012 diterbitkan dalam buku REPUBLIK BHINNEKA TUNGGAL IKA: MENGURAI ISU-ISU KONFLIK, MULTIKULTURALISME, AGAMA DAN SOSIAL BUDAYA.

Related Post

 

Tags: