oleh Faisal Ismail

Dalam Alqur’an dinyatakan bahwa masjid pertama yang didirikan dalam sejarah Islam adalah Masjid Quba. Masjid ini dibangun oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau memasuki desa Quba, suatu desa di luar Madinah yang dilewati oleh Nabi dan rombongan kaum Muslimin dalam perjalanan hijrah dari Mekkah ke Madinah. Masjid Quba ini sangat sederhana dan menggunakan pelepah-pelepah kurma sebagai atap dan pembatasnya. Akan tetapi, secara historis, pembangunan Masjid Quba ini sangat bernilai karena merupakan masjid pertama yang dibangun oleh Nabi Muhammad. Peristiwa pembangunan Masjid Quba yang sangat bersejarah ini direkam dalam Alqur’an:

Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri dan Allah menyukai orang-orang yang bersih (QS Attaubah:108).

Dari ayat di atas dapat diketahui pula bahwa kata “masjid” berasal dari bahasa Arab yang telah diserap menjadi kata Indonesia. Menurut struktur bahasa Arab, kata masjid merupakan masdar (kata benda) yang berarti tempat sujud. Jadi, masjid adalah tempat sujud, tempat melaksanakan salat. Sebenarnya, menurut konsep Islam, seluruh hamparan bumi ini merupakan masjid, merupakan tempat sujud bagi umat Islam. Itulah sebabnya, umat Islam bisa melakukan salat di mana saja di seluruh hamparan bumi ini asal tempat itu bersih dan suci. Secara terminologis, masjid adalah suatu bangunan gedung dengan ukuran tertentu yang relatif besar dan dipakai untuk mendirikan salat. Masjid lazimnya dipakai untuk melaksanakan salat Jum’at (selain salat jama’ah biasa). Di Indonesia dikenal pula istilah surau dan langgar yang biasanya ukurannya lebih kecil daripada masjid. Langgar dan surau biasanya hanya dipakai untuk keperluan melaksanakan salat (baik secara sendiri-sendiri maupun secara berjama’ah biasa), tetapi tidak dipakai untuk menyelenggarakan upacara salat Jum’at.

Umat Islam mempunyai masjid sebagai salah satu tempat ibadat (salat). Keberadaan masjid identik dengan keberadaan komunitas Muslim. Di mana komunitas Muslim eksis, di situ masjid didirikan. Dengan demikian, pada satu sisi, masjid menjadi simbol keberadaan komunitas Muslim di suatu tempat dan masjid sekaligus menjadi wadah kesatuan sosial umat Islam. Di Indonesia, yang berpenduduk mayoritas Muslim, terdapat ribuan masjid yang tersebar di seluruh Nusantara. Sesuai dengan ruang lingkup dan kedudukan wilayah, tipologi masjid di Indonesia dikategorikan ke dalam beberapa peringkat. Ada masjid kampung, masjid desa, masjid kabupaten, dst. Dilihat dari peringkat posisi dan kedudukan wilayah, di Indonesia dikenal juga adanya masjid negara (Masjid Istiqlal, berada di ibu kota Jakarta), masjid raya (Masjid Al-Akbar, berada di Surabaya dan propinsi-propinsi lain), dan masjid agung yang biasanya ada di kabupaten-kabupaten. Sesuai nama dan kedudukannya, Masjid Istiqlal sebagai masjid negara didanai oleh negara (pemerintah) untuk membiayai pemeliharaan dan perawatannya. Salah satu fungsi utama masjid yang umum ialah sebagai wadah penyebaran informasi dan pesan-pesan keagamaan kepada para jama’ah pada khususnya dan kaum Muslimin pada umumnya. Melalui mimbar mesjid, khatib menyampaikan pesan-pesan keagamaan secara reguler. Setiap Jum’at jama’ah mendengarkan khotbah dengan frekuensi rata-rata sebanyak lima puluh tujuh kali dalam setahun.

Jika pesan-pesan itu berkualitas dan komunikatif, maka amat banyak informasi dan pengetahuan yang dapat diserap oleh jama’ah. Akumulasi informasi itu dapat menambah pengetahuan dan wawasan mereka. Pengetahuan tersebut, jika diterapkan, dapat mewarnai corak kehidupan umat secara signifikan. Dengan cara ini saja, komunitas muslim akan berkembang ke arah yang lebih positif secara mental spiritual dan intelektual. Namun demikian, kualitas bimbingan keagamaan melalui mimbar mesjid agaknya perlu dicermati karena dampaknya belum maksimal. Kualitas hidup sebagian umat dewasa ini masih belum ideal jika dilihat dari segi moral dan spiritual. Fenemena keagamaan di sebagian kalangan umat masih memperlihatkan kesenjangan yang lebar antara ajaran dan cita-cita luhur Islam dengan realitas aktual keumatan.

Khotbah dan Fenomena Umat

Alqur’an menyerukan kepada umat Islam untuk menunaikan shalat Jum’at. Shalat Jum’at ditetapkan sebanyak dua raka’at dan didahului dengan khotbah yang disampaikan oleh seorang khatib. Dengan melaksanakan shalat Jum’at, maka kewajiban shalat Dzuhur sudah tidak ada lagi. Firman Allah SWT:

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu me- ngetahui (QS al-Jumu‘ah: 9).

Seruan itu, menurut jumhur ulama, hukumnya wajib ditunaikan oleh setiap pria Muslim yang sudah akil baligh. Perempuan dibolehkan (tidak diwajibkan) untuk mengambil bagian dalam kegiatan ibadat ini. Bahkan sebagian ulama menganjurkan hal tersebut bagi perempuan. Seruan itu mengandung arti bahwa Islam menciptakan aturan bagi para pemeluknya agar mereka berkomunikasi dengan Tuhan dalam kebersamaan. Melalui kesempatan itu, mereka dapat memperoleh tambahan pengetahuan, informasi aktual, bahan renungan untuk kemaslahatan individu dan kemaslahatan masyarakat di dunia dan akhirat. Dalam prosesi shalat jum’at tersebut, khotbah menjadi bagian yang tak terpisahkan. Dari perspektif ini dapat dipahami pula bahwa Islam sangat mementingkan aspek ilmu pengetahuan dalam hidup beragama. Peningkatan bobot dan kualitas pengetahuan dapat mendorong peningkatan kadar penghayatan dan pencapaian prestasi amal umat. Ini terkait dengan maksud ayat Alqur’an yang menyatakan bahwa sesungguhnya orang- orang yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama (QS Fathir :28)

Islam mewajibkan penganutnya untuk menuntut ilmu. Prosesnya dapat dilakukan melalui kegiatan belajar secara individual atau kolektif. Selain itu, Islam juga memberi kesempatan kepada pemeluknya untuk menyerap pengetahuan yang disampaikan oleh orang lain. Wujudnya, antara lain, melalui khotbah Jum’at. Di sini ada dua pihak, yakni pembicara dan pendengar. Khotbah merupakan suatu bentuk komunikasi satu arah. Khatib, selaku komunikator, menyampaikan ajaran-ajaran Tuhan, nasehat, pesan agama, bimbingan dan pengetahuan agama kepada para jama’ah. Sementara para jama’ah (sebagai komunikan) mendengarkan berbagai hal yang disampaikan oleh khatib. Khotbah adalah proses komunikasi dan penyampaian pesan-pesan keagamaan yang mengacu pada aturan syara’. Gerakan tubuh yang tidak penting saat khotbah Jum’at berlangsung akan mengurangi nilai atau pahala Jum’at.

Karena prosesnya berlangsung tidak lama, maka khotbah yang tidak berkualitas sering menimbulkan ketidakpuasan. Ketidakpuasan semacam itu dapat menimbulkan sikap apatis para jama’ah. Kondisi seperti ini bisa menciptakan asumsi bahwa mereka hanya memandang khotbah sebagai bagian dari syarat sah pelaksanaan ibadat. Mereka tidak berharap banyak dari khotbah seperti itu untuk meningkatan kualitas pemahaman agama mereka. Oleh karena itu, diperlukan khatib yang berkualitas yang dapat menyampaikan khotbahnya dengan bobot pesan dan pengetahuan yang baik. Dengan penyampaian khotbah yang baik, aktual dan berbobot, maka para jama’ah akan merasa puas karena memperoleh dan menyerap hal-hal baru dan relevan dengan kebutuhan spiritual dan intelektual para jama’ah.

Sosok Personalitas dan Kualitas Khatib

Kualitas khotbah sangat ditentukan oleh kualitas seorang khatib. Oleh karenanya seorang khatib harus memiliki kemampuan banyak hal, seperti keterampilan berbicara, pengetahuan agama yang mendalam, pengetahuan sosial yang memadai, dan persiapan yang matang sebelum naik mimbar. Belum lagi persyaratan yang lain, seperti moralitas yang baik, penampilan yang sesuai, wibawa dan kematangan jiwa. Singkat kata, amat banyak kriteria yang harus dipenuhi oleh orang yang laik naik ke mimbar. Khotbah merupakan sarana untuk menjelaskan persoalan agama yang seirama dengan perkembangan masyarakat. Dengan kata lain, khotbah dapat difungsikan untuk memotret realitas yang ditampilkan oleh umat dan tuntunan kitab sucinya. Dalam kaitan ini diperlukan analisis yang cerdas dengan aneka ragam pendekatan. Pendekatan fikih atau hukum Islam diperlukan untuk menjelaskan kedudukan suatu persoalan secara objektif. Selain itu, diperlukan penjelasan yang rasional tentang hikmah di balik sebuah perintah atau larangan sehingga umat terdorong untuk mematuhi tuntunan agama atas dasar kearifan.

Khatib hendaknya bisa memberi motivasi kepada umat untuk mematuhi ajaran agama dengan sebaik mungkin. Hal serupa diperlukan untuk mengajak umat menghentikan kekeliruan yang mereka lakukan. Khotbah semestinya difungsikan sebagai suluh bagi mereka yang berjalan di dalam kegelapan, penawar hati bagi mereka yang berduka, pagar pembatas bagi mereka yang berada di tepi jurang, pemberi semangat bagi mereka yang dilanda keputusasaan, dan sejumlah perumpamaan lainnya. Dengan kata lain, khotbah merupakan sarana untuk mengkomunikasikan pesan-pesan Tuhan, mengajak manusia untuk mendekatkan diri kepada-Nya, mengajak manusia untuk meningkatkan iman dan amalnya.

Menyemai Ajaran Humanis Islam

Hikmah merupakan daya tarik yang kuat pada sebuah ucapan. Ucapan yang penuh hikmah akan selalu menarik perhatian. Ia memiliki kandungan makna yang dalam untuk direnungkan. Alangkah baiknya jika khotbah sarat dengan penjelasan yang mengandung hikmah. Mengkaji sebuah kegagalan dengan cermat dan mencari solusinya yang tepat akan lebih baik dari pada sekedar mencaci mereka yang melakukan kesalahan itu. Khotbah (sebagai suatu bentuk dakwah) harus senantiasa mengacu pada tuntunan Alqur’an yang menyatakan:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (QS an-Nahl: 125).

Tugas sebagai khatib memerlukan kecakapan dan keterampilan. Umat juga harus memberi penghargaan yang layak terhadap orang yang bertugas sebagai khatib. Para khatib yang baik harus dilatih dan disiapkan. Mereka harus melalui jenjang pendidikan yang berkualitas. Kecakapan khatib harus selevel dengan tingkat pendidikan umat. Tugas-tugas dakwah di atas mimbar sudah waktunya dijalankan secara profesional dengan cara mengedepankan tema-tema yang baik, sejuk, teduh, dan penuh hikmah. Dan jika terpaksa harus melakukan argumentasi, hal itu tentunya dilakukan dengan arif, santun dan bijak pula. Paling tidak, mereka yang akan naik mimbar harus menyiapkan kualifikasi dirinya sehingga bisa menjadikan khotbah itu sebagai upaya melakukan perubahan mental umat dengan cara menyampaikan pesan-pesan Islam yang bersifat humanis.

Apakah dan bagaimanakah ciri-ciri ajaran humanis Islam itu? Tentu saja banyak ciri yang dapat dikemukakan dan setiap sarjana atau pakar mempunyai hak untuk menyampaikan pendapatnya. Di sini saya akan mengemukakan ciri-ciri ajaran humanis Islam itu sebagai berikut. Pertama, Ajaran humanis Islam mengakui dan menghargai adanya keberagaman, tidak saja dalam hubungan intra-agama tetapi juga dalam hubungan antaragama. Sudah merupakan hukum alam (sunnatullah) dan kenyataan sosiologis bahwa kemajemukan agama, etnisitas, nasionalitas, budaya, dan tradisi menjadi salah satu ciri penting dalam kehidupan manusia di dunia ini. Tidak ada satu kelompok masyarakat pun yang tidak beragam dalam hal etnisitas, agama, budaya, dan tradisi. Justeru keberagaman dan kemajemukan etnis, tradisi, seni budaya, dan agama merupakan khazanah kekayaan yang sangat bernilai dalam hidup ini.

Kedua, Ajaran humanis Islam memandang manusia seagama dan atau manusia di luar agamanya sebagai kawan, bukan sebagai lawan. Ajaran humanis Islam tidak mempunyai prasangka-prasangka buruk terhadap etnis, ras, budaya dan agama tertentu. Labelisasi dan stigmatisasi buruk terhadap manusia adalah bertentangan dengan kodrat dan fitrah kejadian manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Prinsip ini akan membawa Muslim humanis ke dalam sikap yang arif, santun dan bijak untuk hidup berdampingan secara damai (koeksistensi damai) dengan kelompok-kelompok agama dan etnis lain tanpa suatu prasangka buruk apa pun. Keadaan demikian akan menciptakan harmoni, kerukunan dan toleransi antarumat beragama. Ketiga, Ajaran humanis Islam menaruh respek dan hormat kepada orang seagama dan orang yang berbeda agama. Manusia, menurut fitrah dan kodratnya, ingin mendapat penghargaan dan penghormatan dari manusia sesamanya sebagaimana layaknya. Sikap saling menghargai dan menghormati antarmanusia, antarumat beragama dan antaretnis merupakan pangkal dan dasar kerukunan dalam hidup bermasyarakat dan berbangsa.

Keempat, Ajaran humanis Islam menghargai dan merealisasikan toleransi dan harmoni antarumat beragama. Setiap perbedaan yang terjadi dalam hubungan antarumat beragama dicoba untuk dipecahkan dengan jalan musyawarah, legal konstitusional. Ajaran humanis Islam tidak menggunakan cara-cara kekerasan, apalagi cara-cara main hakim sendiri, dalam memecahkan perkara-perkara yang timbul dalam hubungan antarumat beragama dan antaretnis. Kelima, Ajaran humanis Islam menyajikan teks-teks kitab suci agama tidak bersifat hitam-putih, tekstualis-skripturalis, tidak rigid, tidak kaku, tidak sempit, dan tidak ekslusif. Penafsiran teks-teks keagamaan dilakukan dengan cara mencari titik-titik temu hubungan antarayat, fleksibel, dialektis, dan kontekstual. Dengan penafsiran demikian, Muslim humanis dapat menerima perbedaan-perbedaan dengan lapang dada, toleran dan apresiatif.

Keenam, Ajaran humanis Islam lebih mengedepankan agenda kemanusiaan bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Perbedaan-perbedaan doktrinal teologis diserahkan kepada masing-masing umat beragama untuk mempercayainya. Muslim humanis lebih mengutamakan persamaan visi dan kesamaan misi agama, yaitu agenda kemanusiaan bersama untuk menciptakan kesejahteraan bangsa. Ketujuh, Ajaran humanis Islam lebih mengedepankan dan mengutamakan dialog. Karena melalui dialog antarumat beragama ini, suatu persoalan yang menyangkut hubungan antarumat beragama diharapkan dapat dipecahkan dengan jalan musyawarah, secara adil dan damai, yang dapat diterima oleh komunitas-komunitas agama yang terlibat dalam dialog tadi. Sikap antipati, apa lagi prasangka buruk, penyelesaian sepihak atau cara-cara kekerasan sangat tidak membantu bagi terciptanya dialog yang kritis-apresiatif. Kedelapan, Ajaran Islam humanis lebih mengedepankan dan mengutamakan saluran institusi-institusi pendidikan (ketimbang institusi politik) dalam menyebarluaskan nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat. Bagi Muslim humanis, esensi dan substansi nilai Islam lebih penting daripada bungkus atau kemasan kulit luar yang berlabel Islam.

Itulah ciri-ciri ajaran humanis Islam yang perlu dikembangkan dan ditabur melalui mimbar-mimbar Jum’at, khotbah, tausiah, ceramah, kuliah dan pesan-pesan keagamaan lainnya. Penaburan, penyebaran dan pendidikan ajaran humanis Islam akan dapat mencegah dan menangkal radikalisme dan terorisme yang menggunakan label dan mengatasnamakan agama Islam. Ajaran humanis Islam seperti itu perlu pula dimasukkan dalam kurikulum dan program-program kegiatan sosial keagamaan Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Komunitas-komunitas agama selain Islam juga dituntut melakukan hal yang sama untuk mencapai tujuan yang sama pula. Keberhasilan setiap keluarga, tempat ibadat dan sekolah dalam mengembangkan dan menabur ajaran humanis agama sudah pasti akan ikut memberikan kontribusi bagi penguatan sendi-sendi kebangsaan dan penguatan pilar-pilar kenegaraan kita di Indonesia.

Artikel ditulis tahun 2003. Dimuat dalam buku Republik Bhinneka Tunggal Ika: Mengurai Isu-isu konflik, Multikulturalisme, Agama dan Sosial Budaya. Oktober 2012

Related Post

 

Tags: