oleh Faisal Ismail

Pada masa hidupnya, KH. Ahmad Dahlan (1868-1923) sangat prihatin menyaksikan banyaknya adat istiadat dan perilaku animistis dalam berbagai kehidupan masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Jawa pada khususnya. Adat istiadat dan perilaku animistis ini berkembang dan diwarisi dari sistem kepercayaan masyarakat Indonesia pra-Islam. Setelah Islam masuk dan berkembang di Indonesia, adat dan perilaku animistis ini belum hapus sama sekali dan justeru terjadi proses sinkritisasi dengan sistem kepercayaan Islam dalam sebagian kehidupan masyarakat Islam di Jawa. Menyaksikan kenyataan-kenyataan seperti itu, Ahmad Dahlan sebagai orang yang taat beragama merasa prihatin sekali dengan banyaknya praktik dan perilaku yang dipandangnya sebagai tahyul, khurafat dan bid’ah. Ahmad Dahlan terpanggil hatinuraninya untuk melenyapkan perilaku dan praktik-praktik semacam itu karena dipandangnya tidak cocok dan tidak sesuai dengan ajaran tauhid Islam. Karena dorongan inilah, Ahmad Dahlan kemudian mendirikan perkumpulan Muhammadiyah pada tahun 1912, yang salah satu tujuan pokoknya hendak membersihkan Islam dari pengaruh-pengaruh luar dan praktik-praktik yang dinilainya sangat merusak itu. Muhammadiyah didirikan oleh Ahmad Dahlan setelah dia kembali dari studinya di Mekkah.

Pemurnian Ajaran Islam

Sistem kepercayaan Islam terletak pada sentralitas puritas tauhid. Tauhid adalah pengakuan dan keyakinan secara mendasar, total dan integral tentang keesaan Allah. Allah dalam Islam merupakan titik awal, titik sentral dan titik tuju dari setiap akidah dan ibadat yang mewarnai perilaku dan amal setiap Muslim. Kepada Allah sajalah setiap Muslim berakidah, menyembah dan beribadat. Segala bentuk tuhan-tuhan sekuler sama sekali tidak mendapat tempat dalam sistem kepercayaan Islam. Inilah sebenarnya ide pemurnian Islam yang dilakukan oleh Ahmad Dahlan melalui organisasi Muhammadiyahnya. Ahmad Dahlan merasa terinspirasi dan terpanggil oleh firman Allah dalam Kitab Suci Alqur’an:

Hendaklah ada di antara kamu sekalian segolongan umat yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah segala yang mungkar… (Q.S. Ali Imran/3:104).

Kamu sekalian adalah umat terbaik yang ditampilkan ke tengah-tengah manusia untuk menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah segala yang mungkar… (Q.S. Ali Imran/3: 110).

Bagaimanakah respons dan cara Ahmad Dahlan untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran itu? Dia mendirikan Muhammadiyah agar ”ajakan” kepada kebaikan dan ”pencegahan” terhadap kemungkaran itu berjalan secara terencana, terprogram, terarah dan efektif hasilnya. Dalam keyakinan Ahmad Dahlan, tanpa suatu organisasi yang kuat dan rapi yang melibatkan kerjasama dan tanggung-jawab sekelompok orang, ajakan kepada kebaikan dan pencegahan terhadap kemungkaran itu tidak atau kurang berhasil dengan baik. Logikanya, dengan menggunakan dan melalui organisasi yang baik, kuat, rapi dan terprogram dalam kerja sama dan tanggungjawab bersama, maka ajakan kepada kebaikan dan pencegahan terhadap kemungkaran akan sangat efekti dan jauh lebih berhasil.

Visi dan misi Ahmad Dahlan benar. Organisasi Muhammadiyah yang didirikannya tampil sebagai organisasi dakwah yang moderen dalam arti ia melakukan aktivitas dakwah secara terorganisir, rapi dan baik. Gerakan dakwah yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah selain mencakup dakwah bil lisan juga meliputi dakwah bil hal yang menekankan kepada keteladanan, perbuatan kongkret dan karya-karya kemanusiaan yang bermanfaat kepada orang-orang lain dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Gerakan dakwah bil hal yang dilakukan oleh Muhammadiyah ini ditopang oleh institusi-institusi pendidikannya dari tingkat taman kanakkanak sampai ke tingkat perguruan tinggi. Lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah baik yang formal maupun yang non-formal memegang peranan penting dan strategis dalam melakukan proses edukasi dan purifikasi Islam. Secara kangkret hasilnya terasa sekali dalam lapisan masyarakat kota di mana Muhammadiyah mempunyai basis dan akar-akar kekuatannya.

Panti-Panti Sosial

Gerakan dakwah bil hal yang digarap oleh Muhammadiyah diwujudkan pula dalam bentuk membangun dan mengelola panti-panti sosial seperti panti asuhan anak-anak yatim piatu dan panti jompo. Di sini Muhammadiyah memiliki ‘kepekaan’ moral dan sekaligus ‘kepekaan’ sosial dan tanggungjawab sosial terhadap anak-anak yatim piatu, orang-orang miskin dan orang-orang yang terhempas dan tercampak dari kelayakan hidup. Sensitivitas moral, kepekaan sosial dan tanggungjawab sosial dalam diri Ahmad Dahlan (yang kemudian diterapkan dalam gerakan Muhammadiyah) dimotivasi oleh ajaran Allah:

Tahukah kamu, siapakah para pendusta agama itu? Itulah orang-orang yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin… (Q.S. Al- Ma’un/107: 1-3).

Untuk tidak tergolong ke dalam golongan pendusta agama, Muhammadiyah memikul tanggung jawab moral dan tanggungjawab sosial dengan menampung dan menyantuni anak-anak yatim piatu, orang-orang jompo dan orang-orang fakir miskin di panti-panti yang didirikannya. Betapa banyak anak yatim piatu, orang-orang miskin dan orang-orang terlantar yang telah tertolong hidup mereka oleh gerakan dakwah bilhal Muhammadiyah ini. Anak-anak yatim piatu yang berada di panti- panti asuhan Muhammadiyah itu dibina dan dididik mental spiritual mereka sejalan dengan pertumbuhan fisik dan mental mereka. Telah banyak dari mereka yang dapat hidup mandiri setelah mereka ditampung, diasuh dan dibesarkan untuk beberapa tahun lamanya di pantiŠpanti Muhammadiyah. Muhammadiyah dewasa ini (1989) sudah mempunyai 114 panti asuhan anak yatim dan 5 panti jompo. Dalam hubungan ini, jelas bahwa Muhammadiyah telah membantu negara dalam memelihara anak-anak yatim piatu, orang-orang fakir miskin dan orang-orang terlantar sebagaimana diamanatkan oleh UUD-45 Bab XIV pasal 34 yang berbunyai, ”Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.”

Dakwah Lewat Majalah

Sebagai organisasi modernis Muslim, Muhammadiyah melakukan kiprah dan gerakan dakwahnya dengan menggunakan majalah sebagai salah satu bentuk media komunikasi massa yang moderen. Suara Muhammadiyah adalah majalah resmi Muhammadiyah yang terbit di Yogyakarta, kota yang menjadi pusat organisasi ini. Suara Muhammadiyah terbit secara teratur dan merupakan kebanggaan para anggota dan simpatisannya yang tersebar di seluruh Tanah Air. Kecuali memuat informasi- informasi tentang perkembangan dunia Islam, gerak dinamika Islam di Indonesia, kamuhammadiyahan dan perkembangan- perkembangan Muhammadiyah di tingkat lokal atau daerah di seluruh Indonesia, Suara Muhammadiyah memuat pula tulisan-tulisan dakwah.

Majalah Suara Muhammadiyah tersebar ke daerah-daerah melalui cabang-cabang Muhammadiyah yang ada di daerah- daerah di seluruh pelosok Tanah Air. Dengan demikian, jangkauan pesan-pesan dakwah yang disampaikan lewat majalahnya itu bisa mencapai ribuan atau jutaan anggotanya di seluruh Tanah Air. Dakwah lewat majalah akan memiliki daya gugah yang efektif karena ia dapat dibaca berulang-ulang oleh para anggota Muhammadiyah sendiri. Ia terekam dalam bentuk tulisan dan bisa didokumentasikan. Tentu saja, dakwah melalui majalah “Suara Muhammadiyah” ini akan terus memberikan kesadaran kepada para anggota Muhammadiyah (bisa jadi pula masyarakat di luar Muhammadiyah) untuk meningkatkan keimanan dan keberagamaan.

Harapan ke Depan

Muhammadiyah telah menampilkan dirinya sebagai sosok organisasi moderen dalam gerakan dakwah Islam di Indonesia. Gerakan dakwahnya selain meliputi dakwah bil lisan juga mencakup dakwah bil hal yang bertitik tekan kepada keteladanan, amal-amal sosial kemasyarakatan, karya-karya kemanusiaan dan perbuatan/pelayanan sosial yang kongkret yang bermanfaat bagi kemaslahatan dan kebajikan orang banyak. Dakwah yang bertujuan untuk pemurnian dan purifikasi Islam banyak dilakukan oleh Muhammadiyah terutama melalui saluran-saluran edukasi di lapisan masyarakat kota. Sedang dakwah bilkhal diwujudkan oleh Muhammadiyah dalam bentuk pembangunan dan pengelolaan panti-panti sosial seperti panti asuhan anak yatim piatu dan panti jompo.

Dakwah bil hal ini dikerjakan oleh Muhammadiyah sebagai refleksi dan realisasi kepekaan sosial dan tanggung jawab sosial yang didorong oleh ajaran-ajaran sosial Islam. Tak dapat diragukan bahwa Muhammadiyah telah, sedang dan terus akan berkiprah dalam bidang garapan ini. Itu berarti bahwa Muhammadiyah terus ikut membantu negara dalam memelihara para fakir miskin dan anak-anak terlantar seperti yang diamanatkan oleh UUD-45 Bab XIV pasal 34. Semoga Muhammadiyah selalu sukses dalam memacu gerak dan kiprahnya yang beragam dan berskala luas, terutama dalam mewujudkan dan meningkatkan amal-amal sosial kemasyarakatan dan karya-karya kemanusiaan yang bermanfaat bagi banyak orang. Karena sebaik-baik orang (tentu juga organisasi atau institusi) adalah orang yang paling banyak manfaatnya kepada orang lain.***

Artikel ditulis tahun 1989, belum pernah dipublikasikan hingga dibukukan dalam buku berjudul REPUBLIK BHINNEKA TUNGGAL IKA: Mengurai Isu-isu Konflik, Multikulturalisme, Agama dan Sosial Budaya, Oktober 2012.

Related Post

 

Tags: