oleh Faisal Ismail

Ada dua fenomena penting yang sangat mewarnai sikap, perilaku dan gerakan Muhammadiyah. Dua fenomena menarik ini adalah gerakan purifikasi dan gerakan reformasi Islam yang mengalir deras dalam tubuh Muhammadiyah. Dua ciri khas ini tak dapat dipisahkan karena telah terintegrasi dan menyatu dalam sikap, perilaku dan gerakan Muhammadiyah sejak awal berdirinya. Purifikasi dan reformasi Islam sebagai watak dasar dan karakteristik gerakan Muhammadiyah selalu mengilhami dan mendasari pergumulan Muhammadiyah dengan perubahan-perubahan zaman yang dilalui dan dihadapinya. Apakah sebenarnya arti penting karakteristik dasar purifikasi dan reformasi Islam itu dalam teologi Muhammadiyah?

Purifikasi Islam

Muhammadiyah didirikan pada tahun 1912 di Yogyakarta oleh KH. Ahmad Dahlan (1868-1923) setelah dia pulang dari studinya di Mekkah. Pada masa studinya di Mekkah, Dahlan secara intens dan kreatif melakukan dialog ide dan dan dialog pemikiran dengan tokoh-tokoh pembaru Muslim di Timur Tengah pada waktu itu. Salah seorang di antaranya adalah Muhammad Ibnu Abdul Wahab (meninggal pada tahun 1792) dan para pendukungnya. Muhammad Ibnu Abdul Wahab dipandang sebagai tokoh pembaru Muslim bukan karena dia menghasilkan pemikiran atau interpretasi baru tentang doktrin-doktrin Islam, akan tetapi karena seruannya untuk kembali kepada Alqur’an dan hadits, atau kembali kepada ajaran-ajaran Islam klasik sebagaimana dipraktikkan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Dalam konteks inilah, paham dan gerakan Ibnu Abdul Wahab dikenal sebagai paham dan gerakan puritan dalam Islam. Kaum Wahabi menolak setiap bentuk inovasi keagamaan (bid’ah).

Dapat dipastikan bahwa puritanisme Islam yang dianut oleh Dahlan dan kemudian diajarkannya dalam perkumpulan Muhammadiyah mendapatkan sebagian inspirasinya dari Wahabisme. Dengan berpegang teguh kepada ide puritanisme Islam ini, Muhammadiyah mengesampingkan segala bentuk yang dianggapnya sebagai bid’ah karena hal itu diyakininya sebagai bertentangan dengan ajaran Islam. Dalam pandangan Muhammadiyah, penolakan terhadap inovasi (bi’dah) dan akresi (acretion, tambahan) dalam agama itu dimaksudkan untuk memelihara kemurnian agama, kemurnian akidah dan kemurnian ibadat. Inilah sesungguhnya makna hakiki dan arti penting paham puritanisme Islam yang dianut oleh Muhammadiyah.

Karena wataknya yang puritan, Muhammadiyah tidak mengapresiasi atau tidak menganjurkan tradisi budaya dan praktik keagamaan seperti tahlil, upacara kematian seseorang, tawasul, tarekat dan lain-lain yang dilakukan oleh kelompok komunitas Muslim yang lain. Jika contoh-contoh ini diturunkan di sini, hal tersebut bukan dimaksudkan untuk membesar-besarkan masalah ”khilafiah furui’yah” ke permukaan kembali, tetapi untuk lebih memperjelas dan mempertegas wacana yang saya angkat tentang watak puritanisme Islam yang dipegangi oleh Muhammadiyah.

Reformasi Islam

Ide reformasi Islam diperoleh oleh KH Ahmad Dahlan antara lain dari dua tokoh pembaru Muslim, yaitu Jamaluddin al- Afghani (1839-1897) beserta murid sekaligus sahabatnya Muhammad Abduh (1849-1905). Dua tokoh pembaru Muslim inilah yang mewarnai dan meniupkan angin pembaruan Islam di Timur Tengah dan pengaruhnya berhembus sampai ke Indonesia. Dahlan menampung ide-ide reformasi dan modernisasi yang dicanangkan oleh Afghani dan Abduh serta mengajarkannya dalam perkumpulan Muhammadiyah yang didirikannya. Seperti halnya Afghani dan Abduh, Dahlan melalui saluran organisasi Muhammadiyah mengumandangkan semangat untuk berijtihad, menyerukan umat Islam untuk melawan penjajah, membangkitkan umat Islam dari kelelapan tidurnya untuk membangun kehidupan duniawi yang maju. Dengan seruan ini, umat Islam menjadi sadar dan tergerak untuk bekerja, berupaya dan berkarya untuk melepaskan diri dari kebodohan, keterbelakangan, kebekuan dan kejumudan berpikir.

Gerakan modernisasi dan reformasi Islam terus dilakukan oleh Muhammadiyah dalam segala aspek kehidupan. Keterlibatan Muhammadiyah sebagai gerakan pembaruan Islam di Indonesia mendenyutkan gerak aktivitas yang luas dan kompleks. Dalam lapangan pendidikan, Muhammadiyah telah membangun sekolah- sekolah dari Taman Kanak Kanak sampai Perguruan Tinggi. Dalam bidang pelayanan kesehatan, Muhammadiyah telah mendirikan klinik, balai pengobatan, rumah bersalin dan rumah sakit yang cukup banyak dan bertebaran di seluruh Tanah Air. Dalam bidang pelayanan sosial, Muhammadiyah berhasil membangun panti asuhan (untuk menampung anak yatim piatu) dan panti-panti untuk orang jompo dan sebagainya. Belakangan ini Muhammadiyah juga bergerak dalam bidang perbankan (mendirikan Bank Persyarikatan Muhammadiyah) untuk melayani dan membantu perkreditan bagi umat dan rakyat yang membutuhkannya. Di bidang komunikasi massa, Muhammadiyah mengelola dan menerbitkan majalah Suara Muhammadiyah yang berfungsi untuk menyampaikan informasi dan mengkomunikasikan ide-ide para tokoh Muhammadiyah kepada para anggotanya.

Jika di tingkat praksis Muhammadiyah menunjukkan sejumlah prestasi besar, tapi tidak demikian halnya dalam bidang pembaruan dan reformasi pemikiran Islam. Para pengamat menilai gerakan reformasi pemikiran Islam di kalangan Muhammadiyah berjalan lamban dan bahkan mandek. Melihat kenyataan ini, sudah saatnya para tokoh Muhammadiyah mencari terobosan baru untuk mendobrak kebekuan dan kemandekan kreativitas berpikir dalam tubuh Muhammadiyah. Sudah saatnya Muhammadiyah yang mempunyai banyak intelektual melakukan refungsionalisasi dan revitalisasi gerakan berpikir rasional dan kontekstual untuk melahirkan karya-karya pemikiran yang strategis dan bertanggung jawab.

Dalam hubungan ini, Muhammadiyah perlu mengintegrasikan kemampuan rasional ilmiah dengan kemampuan ijtihad Alqur’aniyah dalam merespon setiap fenomena perubahan masyarakat dan zamannya. Pada tahun 1916, Profesor Snouck Hurgronje menulis, “every new period in the history of civilization obliges a religious community to undertake a general revision of the contents of its treasury” (Setiap periode baru dalam babakan sejarah peradaban mengharuskan suatu komunitas agama melakukan revisi menyeluruh terhadap isi khazanah perbendaharannya). Pandangan Profesor Snouck Hurgronje ini sangat tepat dilakukan oleh Muhammadiyah.

Muhammadiyah, sebagai organisasi Muslim modernis, hendaknya mengerahkan segala kemampuan untuk menyusun pemikiran-pemikiran baru guna melakukan revisi, reformulasi, reinterpretasi dan restrukturisasi gerakan, program, ideologi dan segala isi khazanah pembaruannya. Revisi, perbaikan, revitalisasi dan refungsionalisasi ini sangat penting dan strategis karena dengan demikian organisasi sosial keagamaan semacam Muhammadiyah akan tetap mampu mengaktualisasikan dirinya di tengah-tengah transformasi sosial dan arus perubahan masyarakat dan zamannya.

Lima Bidang Pembaruan

Tampaknya revisi dan perbaikan secara menyeluruh terhadap isi khazanah perbendaharaan Muhammadiyah itu disadari betul oleh fungsionaris dan tokoh-tokoh Muhammadiyah sendiri. Prof Dr M Amien Rais, misalnya, pernah mengajukan gagasan tajdid (pembaruan) yang terdiri dari lima bidang pokok. Pertama, tajdid (pembaruan) dalam bidang pembersihan dan pemurnian akidah dari kotoran-kotoran syirik, baik yang bersifat fisik maupun syirik dalam masalah sosial, budaya, ekonomi dan ideologi. Kedua, pembaruan dalam bidang organisasi. Amien Rais memandang pembaruan organisasi sebagai suatu hal yang sangat penting dan mendesak sebab, menurut dia, kebenaran yang tidak didukung oleh organisasi yang kuat akan dilindas oleh ketidakbenaran yang ditopang oleh organisasi yang rapi dan kuat.

Ketiga, pembaruan dalam tubuh Muhammadiyah hendaknya ditujukan untuk memperbanyak kader Muhammadiyah baik dalam arti kuantitas maupun kualitas. Dengan bertambahnya kader-kader Muhammadiyah dalam arti kuantitas maupun kualitas, maka Muhammadiyah akan memiliki lebih banyak lagi tenaga-tenaga potensial dan profesional untuk menunjang kegiatan-kegiatan organisasi. Keempat, tajdid yang berkaitan dengan etos kerja yang selama ini sudah tergambar secara kuat dalam gerak aktivitas Muhammadiyah dan organisasi- organisasi pendukung yang dibentuknya. Pembaruan di bidang ini menghendaki terciptanya reaktualisasi dan revitalisasi kegiatan dan program Muhammadiyah. Kelima, pembaruan kepemimpinan dalam tubuh Muhammadiyah dengan menempatkan personel- personel yang andal dan bersifat kolektif. Sosok pribadi yang andal ini mencakup keandalan dalam pengertian agama, ilmu pengetahuan, moral, kejujuran, kepribadian, dan tak kalah pentingnya adalah menghindarkan diri dari kepemimpinan berdasar satu tokoh sentral. Kepemimpinan kolektif dimaksudkan untuk memelihara dan menciptakan kepemimpinan kolegial dan multidimensional.

Pembaruan Pemikiran Islam

Pembaruan dan perbaikan yang digagas oleh Amien Rais di atas tampaknya sudah cukup mendasar dan menyeluruh. Gagasan tajdid dari Amien Rais itu terasa baik dan segar dan tentu saja dapat diterima oleh warga Muhammadiyah. Akan tetapi, dalam kaitan ini, gagasan pembaruan Amien Rais tersebut perlu dibarengi dengan gagasan reaktualisasi pembaruan pemikiran Islam. Kesinambungan gagasan pembaruan pemikiran Islam hendaknya tetap menjadi proyek Muhammadiyah agar citra pembaruan yang melekat pada diri Muhammadiyah tetap hidup dan memancar. Tanpa diikuti revisi dan pembaruan pemikiran Islam, maka Muhammadiyah hanya cenderung mengalami perbaikan dan pembaruan dalam bentuk fisik luarnya saja (formalitas).

Pembaruan pemikiran Islam bertumpu pada kerja-kerja ijtihad. Ijtihad adalah upaya nalar untuk memformulasikan hukum- hukum baru agama bagi perkara-perkara yang timbul akibat gerak laju kehidupan masyarakat dan tetap mengacu kepada sumbernya, yaitu Alqur’an dan hadits. Ijtihad juga merefleksikan penggunaan potensi akliah dan ruhaniah untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran yang digali dari Alqur’an dan hadits. Banyak pengamat yang menggugat Muhammadiyah bahwa kerja-kerja ijtihad di kalangan Muhammadiyah terasa kurang atau tidak berjalan sebagaimana mestinya. Karena itu, pembaruan pemikiran Islam berjalan lamban, untuk tidak mengatakan mandek, dalam tubuh Muhammadiyah.

Profesor Harun Nasution pernah mengatakan bahwa Muhammadiyah hanya mengambil gagasan pembaruan Muhammad Abduh dari segi gerakan amal sosialnya saja, dan tidak mengambil kerangka landasan teologinya yang rasionalistik. Akibarnya, Muhammadiyah hanya mencapai prestasi-prestasi besar di bidang sosial kemasyarakatan, tetapi kurang atau tidak terlalu menyentuh prestasi pembaruan pemikiran Islam. Suatu organisasi keagamaan yang tidak berasaskan teologi rasionalistik, menurut Harun Nasution, adalah tradisional. Prof Harun tampaknya ingin mengatakan agar Muhammadiyah mengambil segi-segi positif pemikiran rasional Mu’tazilah. Dalam hal ini, tentu saja Muhammadiyah tidak harus mendewa-dewakan akal. Pemikiran Mu’tazilah dalam beberapa hal memperlihatkan aspek-aspek positif, misalnya dalam mengartikan ayat-ayat mutasyabihat yang antara lain menafsirkan ”tangan Tuhan” sebagai kekuasaan Tuhan atau kemurahan Tuhan. Sementara itu, Ibnu Taimiyah mengartikan ”tangan” Tuhan secara harfiyah, yaitu sebagai ”tangan” Tuhan tanpa harus ditanyakan bagaimana tangan Tuhan itu (bila kaifa, without asking how).

Menyadari realitas di atas, sudah seharusnya Muhammadiyah melakukan revisi terhadap ideologinya yang terkesan bersifat skripturalis dan tekstualis, karena hal itu amat penting untuk mendobrak kemandekan dalam gerakan ijtihad. Dengan melakukan revisi terhadap tatanan ideologinya itu, maka Muhammadiyah akan mampu menempatkan ijtihad pada posisi yang dinamis, kreatif dan inovatif dalam rangka mempercepat pembaruan pemikiran Islam. Dalam konteks historis dan ideologis inilah, revisi yang mendasar dan menyeluruh terhadap khazanah perbendaharaan Muhammadiyah akan mempunyai nilai dan makna yang sangat luas dan mendalam pada masa masa mendatang.

 

Artikel ditulis tahun 1989, belum pernah dipublikasikan hingga dibukukan dalam buku berjudul REPUBLIK BHINNEKA TUNGGAL IKA: Mengurai Isu-isu Konflik, Multikulturalisme, Agama dan Sosial Budaya, Oktober 2012.

Related Post

 

Tags: