oleh Faisal Ismail

Amerika Serikat (AS), sebagai negara adidaya dewasa ini, mempunyai peranan yang sangat penting dan strategis dalam percaturan dunia internasional. Kekuatan militer dan politik AS yang sangat kuat membuat negara Paman Sam itu begitu disegani baik oleh kawan maupun oleh lawan. Peranan politik yang dimainkannya dalam pentas internasional sangat memiliki dampak yang luas terhadap perkembangan-perkembangan dunia. Kebesaran dan kemajuan sains dan teknologi AS berkembang dengan cepat karena adanya iklim kreativitas dan riset dengan menggunakan peralatan-peralatan yang moderen dan canggih. Hasil-hasil teknologi AS yang super moderen dan canggih telah banyak dipakai dan digunakan oleh negara-negara berkembang dalam rangka menopang proses akselerasi modernisasi yang tengah dilakukan oleh negara-negara berkembang tersebut. Pendek kata, AS di mata dunia adalah negara yang serba moderen dan serba canggih. Keputusan-keputusan politik ataupun kebijakan-kebijakan nasional dan internasional yang diambil oleh para pembesar di Gedung Putih tidak saja mempunyai dampak di negara adikuasa itu sendiri akan tetapi juga memiliki pengaruh yang luas di dunia internasional.

Potret Kaum Muda Amerika

Terjadi semacam paradoks di kalangan kaum muda AS pada dekade 1980-an. Fenomena paradoksal ini terlihat dengan munculnya suatu gejala di kalangan kaum muda AS yang bersikap acuh tak acuh terhadap masalah-masalah politik. Ada perbedaan antara generasi muda AS tahun 1960-an dengan generasi muda AS tahun 1980-an. Perbedaan ini tentunya disebabkan oleh perbedaan sosial budaya dan politik yang melatarbelakangi eksistensi kedua generasi tersebut. Generasi muda AS tahun 1960-an banyak mengambil bagian dalam kancah kehidupan politik praktis.

Di tengah-tengah kecamuk Perang Vietnam, angkatan muda AS tahun 60-an banyak terlibat dalam gejolak-gejolak politik praktis. Mereka terlibat dalam aktivitas unjuk rasa dan gerakan protes massa. Mereka juga melakukan protes politik dan menentang keterlibatan AS dalam Perang Vietnam yang, menurut pemerintah AS, bertujuan untuk membendung ekspansi Komunisme. Anak-anak muda AS menyuarakan kampanye dan protes keras menentang berbagai kebijakan pemerintah AS yang mewajib militerkan angkatan mudanya untuk dikirim ke Perang Vietnam. Slogan kampanye dan protes keras yang mereka teriakkan pada waktu itu antara lain “America: Love it or leave it“, dan sebuah lagu Bob Dylan yang secara telak ditujukan kepada LBJ (baca: Lyndon B. Johnson, presiden AS pada waktu itu) yang berbunyi “Heh, heh, LBJ, how many kids did you kill today?” (He, he, LBJ, berapa banyak anak yang kau bunuh hari ini?).

Sementara pemerintah AS terus melakukan pendaftaran wajib militer bagi para pemudanya untuk dikirim ke Perang Vietnam, sementara itu pula mahasiswa-mahasiswa AS melakukan aksi demonstrasi dan mogok kuliah di kampus-kampus untuk menyatakan protes politik atas semakin jauhnya keterlibatan AS dalam Perang Vietnam. Dengan suara lantang dan penuh pesan kemanusiaan, mereka meneriakkan slogan “making love, not war” (ciptakan perdamaian, bukan peperangan). Sementara itu pula, kaum muda AS yang menolak wajib militer ke perang Vietnam banyak yang minggat ke Kanada dan menyebabkan mereka kehilangan kewarganegaraan mereka. Salah seorang yang membangkang dan menolak wajib militer ini adalah Muhammad Ali, petinju AS kulit hitam, yang sedang naik daun.

Berbeda dengan generasi muda AS tahun 1960-an sebagaimana diilustrasikan di atas, angkatan muda AS tahun 1980-an lebih bersikap diam dan tenang. Potret dan sosok diam kaum muda AS tahun 80-an terasa kentara dalam kehidupan politik. Sebagai contoh, ribut-ribut di seputar penjualan senjata AS kepada Iran dan perbaikan hubungan AS-Iran yang ditempuh oleh Presiden Ronald Reagan (banyak pejabat AS yang tidak setuju karena Iran dianggap negara yang berada di belakang kasus penyanderaan warga AS di Beirut), tidak menggugah hasrat kaum muda AS untuk mengambil bagian dalam persoalan-persoalan politik praktis. Kelihatannya kaum muda AS dalam dekade 80-an lebih pasif dan mereka lebih menyibukkan diri dengan pekerjaan-pekerjaan mereka atau dengan program-program studi yang mereka geluti. Hanya ada sedikit riak politik dari kaum muda AS ketika negara adikuasa itu melakukan serbuan terhadap Libya.

Kaum muda dan mahasiswa AS menempelkan pamflet-pamflet dan poster-poster yang menyatakan dukungan politik terhadap keputusan dan kebijakan yang telah ditempuh oleh Presiden Reagan. Kendatipun begitu, secara keseluruhan, kaum muda AS tahun 1980-an tampak lebih bersikap tenang dan memperlihatkan potret dan sosok diam. Benarkah kiranya apa yang diamati dan dicatat dalam “U.S. News and World Report” edisi 5 Juli 1982, yang menyiratkan sinyalemen bahwa “… today’s young are quite a-political, a mixture of sophistication and apathy…” (kaum muda AS dewasa ini sangat tak tertarik dengan masalah politik, suatu campuran antara kerumitan dan ketakacuhan).

Dari Liberal ke Konservatif

Gejala lain yang menandai kehidupan generasi muda AS tahun 1960-an adalah cara hidup yang sangat liberal. Gerakan-gerakan yang tampil seputar kurun waktu ini misalnya dapat dicatat dengan meluasnya gerakan “Women’s Liberation” (Gerakan Kebebasan Wanita) dan Hippie Generation (Generasi Hippie). Kelompok terakhir ini lebih suka menamakan diri mereka “The Flower Children“. Rambut gondrong, memakai sandal, pakaian tidak rapi dan perilaku eksentrik adalah merupakan sebagian dari gambaran luar cara hidup hippie. Kurun ini juga menyaksikan menciutnya sebagian orang AS untuk kawin dan mempunyai anak. Kebebasan dan kemandirian merupakan karakteristik dan ciri utama yang secara dominan mewarnai cara hidup orang Amerika sebagaimana tercetus dalam gerakan-gerakan yang mereka lancarkan. Tampak jelas bahwa gerakan-gerakan kebebasan wanita telah mempunyai efek pada perubahan sosial, dan perubahan sosial ini telah memiliki pengaruh pula pada perubahan bahasa. Beberapa kata seperti policeman, fireman, congressman, mailman dan chairman, tidak disetujui dan ditentang penggunaannya oleh kaum wanita AS karena tidak mencerminkan konotasi kesamaan dan persamaan derajat. Bahkan beberapa tokoh dan aktivis feminis secara terang-terangan mengubah kata “history” menjadi “herstory”.

Tak kurang dari Gloria Steinem, seorang aktivis feminis yang terkenal, secara terbuka menyatakan bahwa salah satu kekuatan bahasa Inggris adalah bahwa ia dapat diubah sebagaimana manusia itu sendiri mengalami perubahan. Gerakan-gerakan ini ada hasilnya juga, antara lain dewasa ini orang-orang AS sering menggunakan kata “firefighter” sebagai ganti yang netral dari kata “fireman”, kata “chairperson” sebagai ganti dari kata “chairman”, kata “postcarrier” sebagai ganti dari “postman”, dsb. Penggantian dan perubahan kata-kata demikian, menurut para aktivis feminis, menghilangkan bias gender dan lebih mencerminkan kesetaraan gender (gender equity).

Berbeda dengan situasi liberal pada kurun waktu 1960-an, dewasa ini AS, terutama sejak pemerintahan Presiden Ronald Reagan dan penggantinya Presiden George Bush, mengalami dan menikmati kembali situasi kehidupan konservatif. Orang-orang AS dewasa ini menoleh kembali kepada pentingnya pembinaan keluarga, memandang famili sebagai suatu unit kehidupan yang sangat fundamental untuk menanamkan nilai-nilai etika dan moral, dan menguatnya hasrat di kalangan mereka untuk hidup dalam rumah tangga perkawinan dan mempunyai anak, suatu hal yang pada masa lampau di kurun waktu 1980-an pernah dikesampingkan. Presiden Ronald Reagan saat itu menyampaikan pesannya kepada seluruh bangsa Amerika dalam rangka menyambut perayaan Hari Raya Natal agar tiap-tiap keluarga AS berkumpul bersama anak-anak mereka seraya mengingatkan bahwa keluarga merupakan basis dan unit yang sangat fundamental dalam membina dan melestarikan nilai-nilai dalam tatanan kehidupan dan tradisi bangsa AS. Tipe dan gaya kepemimpinan Reagan (dan juga Bush) yang konservatif agaknya banyak mendapat simpati di kalangan orang-orang AS. Perhatian Reagan tidak saja tertuju kepada masalah-masalah politik dan kenegaraan, akan tetapi juga tertuju kepada persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan secara luas. Reagan mengarahkan pula perhatiannya untuk mencegah penyalahgunaan drugs seperti marijuana dan kokain.

Reagan berkampanye dan memperingatkan anak-anak muda AS dengan ucapannya yang singkat, padat dan tepat “just say no to drugs” (katakan tidak pada narkoba). Perhatian Reagan untuk mencegah penyalahgunaan obat-obat terlarang ini juga menjadi fokus perhatian penggantinya, yaitu Presiden George Bush. Tipe dan gaya kepemimpinan Reagan dan Bush, yang berasal dan Partai Republik ini, membawa AS ke dalam situasi kehidupan yang bercorak konservatif yang berbeda dengan kehidupan liberal Amerika dalam kurun waktu 1960-an.

Kesetaraan Ras

Fenomena sosial lain yang menarik dikomentari adalah dewasa ini AS menyaksikan hubungan yang baik antara masyarakat kulit hitam dan masyarakat kulit putih. Terciptanya hubungan yang membaik antara masyarakat kulit hitam dengan masyarakat kulit putih dalam masyarakat AS itu tidak terjadi begitu saja, akan tetapi melalui proses sejarah yang panjang. Setelah mengalami masa suram perbudakan yang panjang pada masa yang lampau, nasib orang-orang kulit hitam lambat laun mengalami perbaikan. Sampai dengan tahun 1960-an, di negara-negara bagian di kawasan selatan negara AS, praktik-praktik diskriminasi dan segregasi masih diberlakukan kepada masyarakat kulit hitam. Ada restoran, sekolah, toilet, dan tempat-tempat khusus tersendiri yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang kulit hitam yang terpisah sama sekali dengan fasilitas-fasilitas umum yang secara khusus diperuntukkan bagi masyarakat kulit putih.

Dalam perkembangan selanjutnya, timbulah kesadaran baru di kalangan orang-orang kulit putih sendiri untuk menghapuskan segala bentuk perbudakan, diskriminasi dan segregasi karena praktik-praktik demikian tidak sesuai sama sekali dengan nilai-nilai kebebasan, persamaan, keadilan dan perikemanusiaan (HAM). Tokoh seperti Abraham Lincoln merupakan figur penting yang berjuang bagi terhapusnya praktik-praktik diskriminasi dan perbudakan semacam itu. Sementara banyak pula tokoh-tokoh masyarakat hitam yang bangkit dan berjuang menuntut diakhirinya segala bentuk diskriminasi rasial atas orang-orang kulit hitam. Tokoh seperti Martin Luther King, Jr adalah tokoh yang dipandang sangat militan dalam memperjuangkan hapusnya diskriminasi rasial atas masyarakat kulit hitam di AS.

Setelah kurun waktu 1960-an, orang-orang kulit hitam di seluruh AS sudah dapat memasuki universitas-universitas dan sekolah-sekolah, bekerja di berbagai restoran, bank-bank, rumah sakit-rumah sakit, dan kantor-kantor pemerintah serta swasta, bersama-sama dengan orang-orang kulit putih. Sejak saat itu, era baru telah menyingsing dalam lembaran sejarah AS sebagai suatu bangsa yang sering menyuarakan penegakan demokrasi dan HAM. Duka nestapa dan penderitaan panjang masa lampau yang dialami oleh masyarakat kulit hitam sebagai akibat praktik-praktik perbudakan, diskriminasi dan segregasi itu sudah lama terlupakan terutama di kalangan generasi baru AS.

Dewasa ini, masyarakat kulit hitam AS tidak lagi disebut sebagai orang-orang “Negro”, tetapi disebut “Black American”. Sebutan dan penamaan ini merefleksikan suatu proses terwujudnya integrasi sosial dan integrasi nasional dalam kehidupan AS sebagai suatu bangsa. Proses ini dibarengi oleh semakin membaiknya hubungan masyarakat kulit putih dengan masyarakat kulit hitam dalam kehidupan masyarakat AS. Tidak jarang terjadi perkawinan antara pria kulit putih dengan wanita kulit hitam atau sebaliknya, suatu hal yang tidak terjadi pada masa-masa yang lampau. Seorang ahli sejarah sosial dan presiden Bard College, Leon Botstein, mengamati situasi hubungan dan interaksi yang membaik antara masyarakat kulit hitam dan masyarakat kulit putih ini dengan mengatakan, “…we have increased the mutual acceptence and tolerance of blacks and whites, and a generation of young has grown up in a world where there is deep-seated recognition that the color line is not only an illegal but reprehensible basis of judgement.” (kita telah meningkatkan sikap saling menerima dan saling toleransi antara masyarakat kulit hitam dan masyarakat kulit putih, dan suatu generasi muda telah tumbuh dalam suatu dunia di mana terdapat pengakuan yang mendalam bahwa perbedaan kulit tidak saja illegal tetapi merupakan suatu dasar sangkaan dan penilaian yang patut dicela). Pengamatan Leon Botstein, yang dimuat sebagai hasil wawancara dalam majalah U.S.News and World Report, edisi 5 Juli 1982, memang merefleksikan sosok kenyataan-kenyataan sosio-kultural yang hidup di tengah-tengah masyarakat AS dewasa ini. Situasi ini tentunya sangat penting dan strategis bagi terciptanya dan terbinanya integrasi sosial dan integrasi nasional yang memperkuat pluralitas kehidupan bangsa Amerika.

Keragaman dalam Kesatuan

AS sebagai negara adikuasa masih menyiratkan fenomena-fenomena budaya lain yang menarik. AS sebagai negara yang didatangi banyak imigran dari mancanegara menyimpan panorama kemajemukan, keragaman dan pluralitas nilai yang berkembang dan mengakar hidup di dalamnya. Profesor Saltzman dari Pusat Pengkajian Kebudayaan pada Universitas Columbia, New York, menyimpulkan bahwa “America is the totality of people who live here” (Amerika adalah keseluruhan masyarakat yang hidup di sini). Bahkan beliau dalam ceramahnya yang berjudul “American Arts and Values” mengatakan bahwa sulit untuk menemukan nilai-nilai asli Amerika karena keragaman dan pluralitas masyarakat yang tinggal di dalamnya membawa dan memiliki nilai-nilai kultural etnis sendiri-sendiri.

Keragaman dan pluralitas masyarakat berikut nilai-nilai yang dianutnya mempertegas AS sebagai negara para imigran. Dalam sejarah awal berdirinya negara AS, banyak imigran dari Italia, Spanyol, Inggris, Jerman, Belanda, India, Cina, dsb., yang berdatangan ke Amerika untuk mencari sukses, keberuntungan dan kebahagiaan di negeri Paman Sam yang dijuluki sebagai ”land of opportunity” itu. Dalam proses perkembangan selanjutnya, para imigran tadi menjadi bagian integral dari bangsa Amerika yang sampai saat ini masih tetap memelihara dan mempertahankan serta melestarikan kultur etnisnya masing-masing. Bahasa, tradisi, cara hidup dan kebiasaan-kebiasaan yang berasal atau dibawa dari tanah asal leluhur tetap mereka pelihara dengan cara mewariskannya kepada generasi baru mereka yang lahir di AS.

Di New York, misalnya, komunitas Yahudi-Amerika tetap mempertahankan dan melestarikan adat istiadat, tradisi, bahasa dan bahkan agama mereka di tengah-tengah kelompok-kelompok etnis lainnya. Dalam realitas kehidupan sehari-hari di New York, orang sudah terbiasa menyaksikan dan mendengarkan penggunaan bahasa Spanyol di toko, restoran, stasiun subway, dan tempat-tempat umum lainnya. Petunjuk-petunjuk pada dinding-dinding kereta api bawah tanah selain ditulis dalam bahasa Inggris juga ditulis daham bahasa Spanyol. Begitu juga di China Town, pusat kelompok etnis Cina bertempat tinggal, bahasa dan tradisi budaya Cina dipelihara dan dipertahankan oleh masyarakat pendukungnya. Papan-papan nama pada toko-toko mereka, mereka tulis dalam bahasa Cina dengan menggunakan huruf-huruf Cina yang besar-besar kemudian di bawahnya mereka tulis dalam bahasa Inggris.

Di tengah-tengah keragaman dan pluralitas masyarakat AS dengan berbagai nilai-nilai yang dilestarikannya, ternyata bahasa Inggris belum merupakan bahasa resmi, walaupun bahasa tersebut dipakai untuk menuliskan Konstitusi Amerika. Memang sudah ada beberapa negara bagian (beberapa waktu yang lalu California) yang mengesahkan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi. Namun masih belum semua negara bagian di AS yang menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi. Dari fenomena sosial budaya yang penuh dengan pernik-pernik mosaik ini, sosok kebesaran Amerika dapat dilihat dari keragaman nilai, tradisi, paham, seni dan kultur. Keragaman dan pluralitas ini diikat oleh perasaan kesatuan sebagai bangsa Amerika. Keragaman dalam kesatuan dan kesatuan dalam keragaman (unity in diversity) inilah yang barangkali menjadi ciri khas kehidupan bangsa AS. Dengan kata lain, dilihat dari perspektif sosio-kultural, kebesaran AS terletak pada interaksi dialektis-dinamis antarindividu dan antarkelompok etnis yang hidup di negara itu.

Artikel ditulis tahun 2004, dipublikasikan dalam buku berjudul REPUBLIK BHINNEKA TUNGGAL IKA: Mengurai Isu-isu Konflik, Multikulturalisme, Agama dan Sosial Budaya, Oktober 2012

Related Post

 

Tags: