oleh Faisal Ismail

Koperasi pegawai pada Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah, Arab Saudi, setiap tahunnya menyelenggarakan haji luar negeri (luneg). Program ini diperuntukkan secara khusus bagi kepala perwakilan RI di luar negeri, para home staff dan keluarga mereka. Pelaksanaan haji luneg tahun 2009 diselenggarakan dari 18 Nopember–1 Desember 2009 (1–14 Dzulhijah 1430 H). Seluruh peserta dari berbagai negara berjumlah 173 orang, termasuk empat orang duta besar. Saya dan isteri beserta enam orang dari KBRI Kuwait mengikuti program haji luneg ini. Setelah bermalam di Jeddah (18 Nopember), kami pada tanggal 19 Nopember langsung menuju Mekkah, tinggal di sebuah hotel kira-kira 7 KM dari Masjidil Haram. Dengan pakaian ihram, kami pada malam hari mengerjakan umrah (tawaf, sa’ie dan tahalul). Kami melaksanakan haji tamattu’. Dengan demikian, usai umrah, pakaian ihram dapat dilepas, dan kami pun berpakaian biasa. Karena kami melaksanakan haji tamattu’, kami harus membayar dam nusuk sebanyak 410 Real Saudi perorang.

Sebelum tanggal 9 Dzulhijah (26 Nopember 2009), kami memanfaatkan waktu untuk memperbanyak ibadat di Masjidil Haram. Panitia menyediakan bis besar untuk membawa kami dari hotel ke Masjidil Haram. Ada sebagian jama’ah yang berangkat ke Masjidil Haram sebelum zuhur dan pulang ke hotel sesudah Isya’. Ada juga sebagian jama’ah yang berangkat ke Masjidil Haram menjelang Asar dan pulang ke hotel setelah Isya’. Ada lagi sebagian jama’ah yang berangkat tengah malam ke Masjidil Haram dan kembali ke hotel pada pagi hari. Kegiatan salat jama’ah juga dilakukan di hotel dan yang menjadi imam adalah mahasiswa dari Universitas Madinah yang sekaligus bertindak sebagai pemandu haji kami.

Tenda di Arafah Basah Kuyup

Tanggal 25 Nopember (8 Dzulhijah 2009), tanah haram diguyur hujan deras. Mekkah banjir besar. Pada saat ini, kami sudah berpakaian ihram dan sudah siap menuju Arafah. Setelah tertunda beberapa jam, bis kami dengan susah payah –karena lalu lintas padat– tiba tengah malam di Arafah. Karena diguyur hujan deras, tenda-tenda kami di Arafah basah kuyup. Kasur, bantal dan hambal di bawahnya juga basah. Atas kesepakatan bersama, sebagian besar kasur dilipat dan kami tidur di atas karpet yang basah. Walaupun tidak merasa nyaman, tidur terganggu, tidak enak dan tidak nyenyak, tetapi kami harus sabar dengan situasi darurat ini. Ibadat haji menuntut kesabaran dan ketabahan yang tinggi. Esok harinya (26 Nopember, 9 Dzulhijah), sejak tergelincir matahari sampai tenggelam matahari, kami wukuf di Arafah. Seluruh jama’ah dengan cara yang khidmat dan kusyu’, memanjatkan do’a kepada Allah untuk keselamatan dunia dan akhirat serta memanjatkan do’a permohonan lainnya kepada-Nya sesuai keinginan masing-masing.

Setelah tenggelam matahari, kami bergerak menuju Muzdalifah dan kemudian menginap di Mina. Di Muzdalifah, kami turun dari bis sekitar 20 menit, mengambil kerikil sebanyak 49 buah untuk melontar jumrah. Jarak Arafah ke Mina sekitar 6–7 KM, tetapi ditempuh selama 7 jam. Jadi setiap satu kilometer ditempuh selama satu jam. Kendaraan yang membawa jama’ah ke Mina benar-bebar padat merayap, bergerak pelan-pelan dalam hitungan menit. Bayangkan, sebanyak 2,5–3 juta jama’ah haji dari seluruh dunia Muslim tumplek dan sama-sama menuju ke satu titik yang sama: Mina. Ada sebagian jama’ah yang lebih memilih jalan kaki. Ada juga jama’ah yang naik di atas atap bis (yang biasa dipakai untuk menempatkan barang bawaan). Ada pula yang ngojek (memakai jasa angkutan sepeda motor).

Lepas dari Rombongan

Tanggal 10 Dzulhijah (27 Nopember 2009), kami melontar jumrah Aqobah di Mina, tawaf ifadah dan sa’i di Masjidil Haram. Untuk melontar jumrah Aqobah, kami jalan kaki dari tenda penginapan sepanjang 3 KM (pulang pergi). Peristiwa pelontaran jumrah hanya berlangsung sekitar 7 menit, tetapi untuk mencapai tempat pelontaran harus jalan kaki sepanjang 3 KM. Kemudian kami ke Masjidil Haram, melaksanakan tawaf ifadah. Kami tawaf di sekitar Ka’bah dengan jama’ah haji yang sangat padat. Saling pepet. Bergerak sangat pelan dan susah payah. Tenaga menjadi terkuras dan lelah sekali. Saking padatnya para jama’ah yang tawaf, salah seorang anggota jama’ah kami (laki-laki) lepas dari rombongan. Kami cemas di mana dia berada. Setelah berkali-kali ditelpon melalui HP, dia ternyata sudah berada di Mina, kembali dengan kendaraan umum. Hal ini diketahui setelah kami selesai melaksanakan sa’ie. Usai sa’ie, kami bertahalul dan melepas pakaian ihram. Pada tanggal 10 Dzulhijah (27 Nopember) itu, kami melakukan kegiatan dan perjalanan ibadat sepanjang kurang lebih 17 KM: berjalan ke tempat pelontaran jumrah (pp) sepanjang 3 KM, melakukan tawaf sepanjang 7 KM (7 kali putaran), dan melaksanakan sa’ie sepanjang 7 KM.

Hari berikutnya, 11 Dzulhijah (28 Nopember 2009), kami dengan berpakaian biasa melempar tiga jumrah (Ula, Wustha dan Aqobah). Esok harinya, 12 Dzulhijah (29 Nopember), kami melontar tiga jumrah lagi dan kemudian melakukan tawaf wada’ (pamitan) di Masjidil Haram. Tengah malam kami ke Madinah, siang harinya salat zuhur berjama’ah di Masjid Nabawi, ziarah dan berdoa di makam Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar ibn Khattab, ke makam Baqi menyaksikan makam Utsman bin Affan, menyaksikan bukit Uhud, melihat masjid Qiblatain, dan salat maghrib (dijamak dengan Isya’) di masjid Quba. Kemudian bertolak menuju Jeddah untuk kembali ke negara masing-masing. Ibadat haji menuntut kesadaran, ketabahan dan kesabaran di samping stamina fisik dan energi spiritual yang prima.

Bahasa Indonesia Makin Populer

Ternyata ibadat haji (dan umrah) memiliki multiefek ekonomi yang besar bagi Arab Saudi. Negara kaya minyak itu semakin makmur dengan pelaksanaan ibadat haji (dan umrah). Hotel, penginapan, restoran, biro perjalanan (uadara, laut dan udara), sovenir, dan barang-barang dagangan mereka laku keras pada musim haji dan umrah. Belum lagi pendapatan negara dari pembayaran biaya visa oleh para jama’ah haji dari seluruh dunia yang berjumlah 2,5–3 juta orang. Ekonomi Arab Saudi terus bergerak dan semarak sepanjang tahun. Berhubung jama’ah haji dan umrah dari Indonesia merupakan lapisan yang terbanyak, maka banyak penjaga toko yang fasih berbahasa Indonesia.

Seorang ibu yang mau membeli gelang emas menawar harga gelang itu, kemudian sang penjaga toko dengan bercanda bilang kepada ibu itu: ”Kamu pelit!” Kata-kata ini dia ucapkan karena penawaran ibu itu dirasakan masih kurang. Setelah ibu itu meninggikan harga tawarnya, sang penjaga toko setuju melepas barang dagangannya.

Sementara itu, di dekat masjid Quba di Madinah sekumpulan anak-anak perempuan yang polos dan manis menyapa kami dengan penuh keramahan: ”Apa kabar?” Kami jawab: ”Baik!” Anak-anak perempuan itu tersenyum dengan kepolosan mereka. Bahasa Indonesia makin populer di Mekkah dan Madinah, sudah menjadi bahasa transaksi dagang yang semakin luas. Isu swine flue (flu babi) tidak mengurangi gairah dan semangat jama’ah untuk berhaji. Di tengah-tengah kekhawatiran flu babi yang akan mudah menular di antara kerumunan jama’ah, justeru jumlah jama’ah haji tetap membengkak. Diperkirakan 2,5 –3 juta jama’ah haji tahun ini dari seluruh Dunia Muslim. Seorang jama’ah haji dari suatu negara asing mengatakan kepada saya: ”Flu babi tidak mengurangi hasrat kami untuk berhaji. Orang bisa meninggal kapan saja dan di mana saja karena suatu sebab. Bahkan di tempat tidur sekali pun, kematian bisa terjadi.”***

 

Artikel ditulis setelah melaksanakan ibadat haji tahun 2009, belum pernah dipublikasikan hingga dibukukan dalam buku berjudul REPUBLIK BHINNEKA TUNGGAL IKA: Mengurai Isu-isu Konflik, Multikulturalisme, Agama dan Sosial Budaya, Oktober 2012

Related Post

 

Tags: