parni hadi dalam diskusi dosen fakultas dakwah uin sunan kalijaga

 

Banyak keluhan tentang praktek  jurnalistik saat ini yang dianggap tidak mendukung nation and character building dan bahkan memprovokasi publik menjadi individualitis, konsumtif, dan agresif yang berakhir pada maraknya korupsi, hidup boros dan menyulut aksi tawuran dan konflik SARA. Pratek jurnalistik seperti itu tidak hanya dilakukan oleh wartawan dan media cetak dan elektronik (radio dan TV) saja tapi lebih oleh citizen journalists sebagai individual content providers melalui media sosial, yang lebih cepat mencapai publik. Hal tersebut disampaikan oleh Parni Hadi, Jurnalis Senior dan mantan Pemimpin Umum Harian Republika, Selasa, (6/11) dalam acara diskusi bulanan Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Parni Hadi menambahkan, perkembangan informasi dan tekhnologi juga mengakibatkan dampak yang sangat buruk bagi masyarakat. Di samping tentu saja dampak yang positif. Salah satu dampak buruk tersebut adalah masyarakat menjadi tidak sempat untuk mencerna informasi. “Twitter, Facebook, BBM, dan Youtube telah melahirkan budaya instan serba cepat, tanpa perenungan dan pengendapan. Kurang memikirkan dampak sosialnya yang negatif,” katanya.

Waryono Abdul Ghafur, Dekan Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga dalam sambutannya menegaskan bahwa praktik jurnalistik di era informasi dan teknologi harus tetap mengedepankan kejujuran dan obyektivitas. Hal ini penting dilakukan karena tidak jarang media massa tidak lagi jujur dalam menyampaikan informasi. Baik itu akibat kepentingan politik maupun ekonomi yang ada di belakangnya. Di sinilah pentingnya jurnalisme yang memegang prinsip-prinsip kenabian (prophetic). “Prinsip-prinsip kenabian dalam jurnalisme ini dapat dijadikan sebagai bingkai dalam dakwah amar makruf nahi munkar,” imbuhnya.

Kegiatan diskusi bulanan fakultas dakwah ini dihadiri oleh dosen dan mahasiswa Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga. Bertindak sebagai moderator, Miftachul Huda, dosen fakultas dakwah. Diskusi rutin ini merupakan bagian dari sarana untuk mengkaji Ilmu Dakwah. Ilmu dakwah perlu dikaji secara terus menerus sehingga menemukan formula yang tepat dalam menghadapi masyarakat yang dinamis. Sehingga perubahan masyarakat yang dinamis dapat diimbangi dengan strategi dakwah yang dinamis pula.

Sebagai penopang ilmu dakwah, Fakultas Dakwah telah memiliki perangkat dakwah dengan memanfaatkan perkembangan informasi dan teknologi. Seperti telah adanya Suka TV, Radio Rasida FM maupun dengan adanya Pusat Pengembangan Teknologi Dakwah (PPTD) sebagai think tank pengembangan strategi dakwah.

Dakwah bisa dilakukan melalui aktivitas jurnalistik. Namun, jurnalistik di sini harus mengedepankan nilai-nilai moralitas yang terkandung dalam ajaran Islam. Di sinilah prophetic journalism (jurnalisme kenabian) dapat dipraktikkan dalam aktivitas jurnalistik. “Prophetic journalism tidak lain adalah praktik jurnalistik yang berdasarkan al-Qur’an dan al-Hadits. Yakni aktivitas jurnalistik yang mempraktikkan empat akhlak mulia rasulullah yaitu Shidiq (truth), tabligh (educative), amanah (accountable) dan fathonah (with wisdom),” imbuh Parni yang juga pernah memimpin Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara.

Subtansi prophetic journalism sesungguhnya adalah menebarkan cinta. Semua nabi menyebarkan risalah karena, dengan dan demi CINTA sebagai ibadah dan sesuai petunjuk yang mereka terima dari Allah. “Nabi itu bahasa Inggrisnya adalah prophet, karena itupraktek jurnalisme yang menebar cintaini, saya namakan prophetic jorunalism atau jurnalisme kenabian/kerasulan dan juga jurnalisme CINTA,” tambah Parni menegaskan.

Jurnalisme kenabian tidak hanya dipahami sebagai prinsip jurnalistik yang hanya dilakukan oleh orang (lingkungan) Islam. Karena sesungguhnya praktik jurnalisme kenabian ini bisa dilakukan oleh media umum namun menegakkan prinsip-prinsip kenabian. “Pengalaman yang saya alami, hal ini bisa dipraktikkan pada media-media yang tidak secara khusus menyebut dirinya sebagai media Islam,” ujar Parni yang juga pernah menjadi Direktur Utama Radio Republik Indonesia (RRI) ini.*