Merealisasikan salah satu misi UIN Sunan Kalijaga, yakni meningkatkan peran sertanya dalam menyelesaikan persoalan bangsa berdasar wawasan Keislaman dan keilmuan untuk mewujudkan masayarakat Madani, OCIA UIN Sunan Kalijaga  Yogyakarta, menyelenggarakan Konferensi Internasional : Perspektif Global Tentang Islam, Spiritualitasme dan Radikalisme. Forum ini berlangasung selama tiga hari (22-24 November 2012).Dibuka oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Musa Asy’arie, di Gedung Convention Hall, pada Selasa (12/11).

Menurut Panitia Penyelenggara, Inayah Rahmaniah, diselenggarakannya forum ini, dilatarbelakangi oleh realitas bahwa agama dan masyarakat beragama era global dan tran-nasional saat ini sedang menghadapi persoalan mendasar yang menantang, yakni, proses modernisasi sosial dan politik. Diantara karakteristik terpenting globalisasi adalah meluasnya keterkaitan yang bersifat global dan kompleks, baik antara manusia, modal, komoditas, images maupun ideology. Modernisasi yang melahirkan global village saat ini, ditengarai telah dikandalikan oleh kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Implikasinya, sejauh kemampuan teknik dan pertukaran global menjadi konsekwensi material dari ideologi modernisme, maka agama menjadi termarginalisasi, kehidupan beragama disederhanakan dan dimensi spiritualitas dianggap tidak penting.

Modernisasi juga memunculkan fundamentalisme agama sebagai bentuk penolakan terhadap modernisme sekuler dan reaksi menentang hegemoni intelektual dan social politik yang dianggap sekuler. Fundamentalisme agama sebagai produk dari modernisme menantang otentisitas modernitas dan sekularisme. Dan bertujuan menggantikan tatanan yang semakin sekuler dengan tatanan yang dianggapnya ilahiah. Namun di sisi lain, fundamentalisme juga berpontensi besar memunculkan radikalisme, yang dalam banyak kasus, gerakan-gerakannya begitu permissif, serta banyak melakukan kekerasan atas nama agama.

Sementara dalam konteks Indonesia, berakhirnya pemerintahan Suharto tahun 1998, disusul dengan era reformasi, di satu sisi telah memacu proses demokratisasi. Di sisi lain, reformasi juga menjadi angin segar bagi kebangkitan fundamentalisme agama, yang menganggap teks agama adalah kebenaran mutlak. Golongan ini  akan bertidak radikal terhadap golongan lain yang dianggap menyimpang dari teks agama. Reformasi bahkan juga telah memberi peluang merebaknya gerakan sosial keagamaan yang permisif menggunakan kekerasan atas nama agama. Beberapa hasil penelitian menunjukkan, dukungan terhadap Islam radikal dan kekerasan atas nama agama di Indonesia terus meningkat.

Maka diselenggarakannya konverensi internasional ini, menurut Inayah Rahmaniyah, bertujuan untuk mendiskusikan berbagai persoalan sosial keagamaan yang aktual di masyarakat dan bangsa Indonesia. Di forum ini akan didiskusikan berbagai hasil penelitian, pengetahuan dan pengalaman dari para peneliti, pakar dan pemerhati tentang berbagai problem sosial keagamaan dan mempetakan peran strategis dan praktis para akademisi PTAIN dalam ikut serta menyelesaikan berbagai persoalan aktual.  Dengan penyelenggaraan konverensi ini diharapkan, menjadi media untuk memperkuat komitment PTAI, disamping dapat mengeksplorasi berbagai potensi spiritualitas dari masyarakat luas, yang dapat menfasilitasi terwujudnya masyarakat madaniyang terbebas dari kekerasan atas nama agama.

Kurang lebih 200 orang, terdiri dari para dosen di lingkup PTAI, peneliti maupun aktifis dari dalam dan luar negeri dari berbagai lembaga kajian yang memiliki konsen terhadap persoalan sosial keagamaan. Pembicara pada konferensi terdiri dari pembicara panel dan pembicara paralel. Berbagai  pakar dan peneliti sosial keagamaan dalam dan luar negeri hadir menjadi pembicara pada sesi pleno, yang dibagi menjadi 3 sesi dengan tema “Multi-faces of Spirituality, Changing Faces of Radicalism dan Religion and Contemprary Issues”. “Sesi paralel menampilkan sekitar 50 pembicara yang telah mengirimkan abstrak kepada panitia dan dinyatakan diterima,” jelas Inayah. (Weni Hidayati-Humas UIN Sunan Kalijaga).

Website IC-ISRA 2012