Direktur RRI Yogyakarta, Sutrisno Santoso, menyampaikan materi Informasi Sehat untukPembentukan Karakter Bangsa

Informasi sehat dapat dipahami dari berbagai perspektif. Bisa dari pembelajaran (pedagogic), aturan (fiqih), penyeberluasan (dakwah), konten (substansi), ataupun hakekat (esensi). Hal tersebut disampaikan oleh Direktur RRI Yogyakarta, Drs. Sutrisno Santoso, pada Kamis (13/12) dalam Talk Show Fakultas Dakwah bertema “Informasi Sehat untuk Pembentukan Karakter Bangsa”  –rangkaian kegiatan Diskusi Ilmiah Bulanan Fakultas Dakwah.

“Informasi sehat adalah tentang kebenaran fakta, baik yang berwujud, kasat mata dan dapat dideteksi oleh pancaindera, kesadaran inderawi, maupun yang tidak nampak namun dapat dibuktikan secara ilmiah, kesadaran rohani, dengan kesadaran spiritual, dan dengan kesadaran tauhid.  Nah kita jangan hanya bertumpu pada kesadaran inderawi saja. Kita jangan hanya terpaku pada kesadaran-kesadaran mendasar saja,” kata Sutrisno.

Ditambahkan oleh Sutrisno bahwa informasi sehat memiliki beberapa kriteria, yaitu :

  1. Informasi sehat itu bersifat logis karena berdasarkan logika intelektual.
  2. Adanya sinkronisasi dan harmonisasi dalam aspek kognisi, afeksi, dan psikomotorik.
  3. Informasi tersebut berdampak baik secara psikologis dan bermanfaat bagi kehidupan individu dan sosial.
  4. Informasi sehat juga harus tepat sasaran, proporsi dan peruntukkannya.
  5. Terbuka untuk didiskusikan atau diuji kelaikannya.
  6. Informasi sehat itu informasi yang layak disimpan di alam atau pikiran bawah sadar (subconscious mind). Dengan demikian, perlu untuk memperhatikan ruang, waktu dan kekerapan penyampaian, penyiaran, dan penayangannya.

Berbagai informasi hilir mudik menghampiri kehidupan manusia (semesta informasi) yang tidak saja berisikan informasi yang baik tetapi juga bisa buruk. Yang diperlukan adalah filter aktif dan dinamis yang ada pada diri kita untuk menyaring semesta informasi yang datang dari berbagai ragam.
“Disinilah seharusnya jajaran pendidikan mulai dari PAUD sampai PT yang berusaha menyiapkan manusia untuk mempunyai filter yang aktif dan dinamis. Bukan sekedar menerima tetapi menyiapkan. Bagaimana menyiapkan itu? Berpikir sistemik untuk memperbaiki karakter diri,” imbuhnya.

Sutrisno menambahkan paparannya mengenai pentingnya sinkronisasi dan harmonisasi kuanta, sebagai kumpulan getaran kuantum yang ada pada diri manusia. Untuk menjelaskan hal tersebut, Sutrisno memutarkan video klip tayangan lagu karya ciptaannya yang berjudul Quantaku yang menjadi hasil renungan reflektif berkaitan dengan potensi kuantum yang ada pada diri manusia sebagai penggerak perubahan.

Kegiatan diskusi bulanan Fakultas Dakwah ini dihadiri oleh dosen dan mahasiswa Fakultas Dakwah, perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Badan Otonomi Mahasiswa (BOM) Fakultas Dakwah. Bertindak sebagai moderator, M. Noor Romadhon (dosen Fakultas Dakwah).

Talk show ini merupakan kelanjutan dari serial diskusi bulanan Fakultas Dakwah yang dimulai bulan Nopember 2012 lalu. Pada saat itu, Parni Hadi membawakan tema diskusi Jurnalisme Kenabian (Prophetic Journalism). (izzul)