Oleh Parni Hadi**

Banyak keluhan tentang praktek jurnalistik saat ini yang dianggap tidak mendukung nation and character building dan bahkan memprovokasi publik menjadi individualitis, konsumtif dan agresif yang berakhir pada maraknya korupsi, hidup boros, dan menyulut aksi tawuran dan konflik SARA (Suku, Antara Golongan, Ras dan Agama).

  1. Banyak keluhan tentang praktek jurnalistik saat ini yang dianggap tidak mendukung nation and character building dan bahkan memprovokasi publik menjadi individualitis, konsumtif dan agresif yang berakhir pada maraknya korupsi, hidup boros, dan menyulut aksi tawuran dan konflik SARA (Suku, Antara Golongan, Ras dan Agama).
  2. Pratek jurnalistik seperti itu tidak hanya dilakukan oleh wartawan dan media cetak dan elektronika (radio dan TV) saja tapi lebih oleh citizen journalists sebagai individual content providers melalui media sosial, yang lebih cepat mencapai publik dan mendapat reaksi balik plus dampaknya.
  3. SMS, Twitter, Facebook, BBM dan Youtube telah melahirkan budaya instan, serba cepat, tanpa perenungan dan pengendapan, kurang memikirkan dampak sosialnya yang negatif. Harus diakui, media sosial telah berjasa besar dalam membuat orang lebih ekspresif dan responsif. Tumbangnya para penguasa di Timur Tengah melalui revolusi “Arab Spring” juga berkat media sosial, yang ternyata lebih kuat pengaruhnya dari pada media tradisional atau profesional.
  4. Untuk menjawab keluhan itu, diperlukan sebuah genre jurnalisme baru, di samping upaya pendidikan melek media (media literacy) baik bagi penyedia konten profesional (cetak dan elektronika), dan penyedia konten invididual dan lebih-lebih masyarakat luas. Penyedia konten perlu dilatih ulang untuk lebih memahami dampak negatif dari apa yang disiarkan. Sedangkan, masyarakat dilatih agar tidak mudah menganggap apa yang disiarkan media massa dan sosial media itu betul semua. Masyarakat perlu diajari untuk menyaring, memilih, dan memilah apa yang benar dan baik untuk diserap.
  5. Ada yang mengusulkan Jurnalisme Islam sebagai jawabannya. Tapi, apakah Jurnalisme Islam itu? Ini bisa sebuah pertanyaan filsafati atau praktis. Secara filsafah, jawabannya akan panjang, karena harus merunut dan merujuk hal-hal yang menyangkut pemahaman tentang Islam secara menyeluruh dan, untuk itu saya bukan ahlinya. Secara praktis, jawabannya adalah praktek jurnalistik yang berdasarkan Al Quran dan Hadits Rasulullah SAW. Ini pun bisa multi tafsir seperti di bawah ini.
  6. Jurnalisme Islam adalah :
    • Praktek jurnalistik yang dilakukan oleh orang-orang yang beragama Islam.
    • Praktek jurnalistik yang dilakukan oleh orang-orang Islam dengan berdasar Al-Qur’an dan Haditsrnalisme Islam Eksplisit/eksklusif.
    • Praktek jurnalistik yang dilakukan orang-orang Islam tidak hanya berdasar Al Qur’an dan Hadits, tetapi juga ideologi lain dan tujuannya tidak hanya untuk memperjuangkan kepentingan umat Islam, tapi seluruh manusia. Nama media, logo dan jargon yang digunakan tidak harus bernuansa Arab. Ini jurnalisme Islam Inklusif.
    • Praktek jurnalisme yang dilakukan oleh orang Islam dan Non Islam, bertujuan untuk membela kebenaran dan keadilan untuk semua. Nama media, logo dan jargon yang digunakan bebas, bisa bernuansa nasional dan bahkan daerah dari suatu negara. Ini bisa disebit jurnalisme yang Islami dalam pengertian membawa kebajikan bagi kebaikan seluruh makhluk sedunia, atau rahmatan lil ‘alamin, sekalipun tanpa mengibarkan panji-panji Islam.
  7. Merujuk kepada pengertian pada butir di atas, apa yang disebut pers atau jurnalisme Islam itu memang ada. Misalnya, Harian Republika, Majalah UMMAT (alm), keduanya saya ikut membidani; Harian ABADI (Masyumi), IRIB (Islamic Republic of Iranian Broadcasting) atau radio TV Islam Iran dan IINA (International Islamic News Agency) atau kantor berita Islam Internasional yang berpusat di Jeddah, Saudi Arabia dan kantor berita ANTARA menjadi salah satu anggotanya.
  8. Mana yang terbaik dari keempat jenis jurnalisme Islam tersebut pada butir 6 di atas? Menurut sabda Rasulullah, Muhammad SAW, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Sekalipun mengusung panji-panji Islam, kalau tidak banyak manfaatnya, praktek jurnalisme itu belum Islami.
  9. Berdasar pemahaman itu dan setelah berdiskusi panjang lebar dengan tokoh-tokoh Islam termasuk Prof. Dr. Nazaruddin Umar, sekarang Wakil Menteri Agama, dan jajaran pengajar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, saya memilih istilah Jurnalisme Islami daripada Jurnalisme Islam.
  10. Saya berpendapat Jurnalisme Islami adalah jurnalisme yang meneladani empat akhlaq mulia Rasulullah, Muhammad SAW, yakni:
    • Sidhiq (berdasar kebenaran)
    • Tabligh (disampaikan dengan cara mendidik),
    • Amanah (dapat dipercaya) dan
    • Fathonah (dengan penuh kearifan).

    Ke empat akhlak Rasulullah itu bersifat universal, karena itu jurnalisme Islami juga bersifat universal, tidak tergantung agama yang dianut.

  11. Bagi wartawan non Muslim, tentu boleh mengambil teladan dari para nabi/rasul dan orang suci masing-masing, sekalipun ke empat akhlak Muhammad itu bersifat universal.
  12. Tugas Nabi/Rasul adalah membawa risalah demi kebaikan umat manusia di seluruh dunia. Semua nabi menyebarkan risalah itu dengan dan demi Cinta sebagai ibadah dan sesuai petunjuk yang mereka terima dari Allah, Tuhan Sang Maha Pencipta dan Maha Pecinta sekaligus.
  13. Nabi itu bahasa Inggrisnya adalah prophet, karena itu praktek jurnalisme Islami yang menebar Cinta ini, saya namakan prophetic jorunalism atau jurnalisme kenabian/kerasulan dan juga jurnalisme Cinta.
  14. Seperti kita sudah maklum, pada awalnya adalah Cinta. Berkat Cinta dunia dan kehidupan ini ada dan berkembang sampai sekarang.
  15. Salah satu bukti dari Cinta adalah Peduli (Kepedulian).
  16. Jurnalisme adalah kegiatan untuk menyampaikan pesan (gagasan/ ide dan informasi) dalam bentuk tulisan, gambar dan suara yang meliputi proses pencarian, pengumpulan, pengolahan dan penyebaran/ penyiarannya kepada orang banyak atau publik.
  17. Jurnalisme digerakkan oleh orang (-orang) yang peduli akan kepentingan orang banyak (publik). Seseorang tertarik atau terpanggil memasuki dunia jurnalisme atau menjadi jurnalis (praktisi media) pada umumnya karena digerakkan oleh keinginan untuk peduli dan berbuat demi kepentingan orang banyak.
  18. Keinginan atau motivasi untuk berbuat demi kebaikan orang banyak didorong oleh kebutuhan (need) yang tumbuh berkembang berkat keyakinan akan kebenaran ajaran nilai-nilai tradisi, kearifan, budaya, agama dan ideologi.
  19. Seorang jurnalis (wartawan) umumnya adalah seorang idealis, aktivis dan humanis, dalam pengertian peduli terhadap kehidupan di sekitarnya demi kepentingan orang banyak.
  20. Prophetic Journalism, atau Jurnalisme Kenabian, atau Jurnalisme Profetik adalah jurnalisme yang mengemban Tugas Kenabian, yakni menyampaikan risalah yang bermanfaat untuk semua orang berdasar Cinta sebagai ibadah kepada Allah, dengan cara:
    • mengungkapkan Kebenaran (Truth)
    • menegakkan Keadilkan (Justice)
    • mendukung terciptanya Kesejahteraan (Prosperity)
    • menciptakan Perdamaian (Peace)
    • menjunjung tinggi Kemanusiaan universal (Universal Humanity).
  21. Wartawan yang mengemban jurnalisme kenabian adalah:
    • orang yang Tercerahkan (Enlightened)
    • orang yang Terpanggil/Terpilih (Chosen)
    • orang yang Yakin (Convinced)
    • orang yang Berkhidmat untuk Berbuat (Committed)
  22. Wartawan profetik adalah orang yang sadar akan panggilan Hati Nurani (Conscience) dan melakukan sesuatu berdasarkan Keyakinan sebagai aktualisasi diri (mengaktuliasikan dan mengabdikan seluruh potensi dan kompetensinya: energi, inteligensi, emosi dan nuraninya) sebagai Ibadah. Ia bekerja bukan hanya untuk mencari gaji/penghasilan, dan atau pujian/popularitas belaka.
  23. Wartawan profetik berani mengambil Resiko demi keyakinannya akan Kebenaran, dan Keadilan demi mewujudkan Kesejahteraan, Perdamaian bagi seluruh umat manusia tanpa memandang jenis kelamin, suku, ras, bangsa, negara dan agama.
  24. Seorang wartawan profetik menyandang tugas sebagai Pembaharu untuk humanisasi/emansipasi, liberasi dan transendensi yang dalam Islam terkandung dalam QS Ali Imran,ayat 110 ( Kuntowijoyo dalam Islam sebagai Ilmu, 2006).
  25. Tingkat-tingkat wartawan:
    • Perakit, penyusun data, kata-kata dan gambar menjadi kalimat dan cerita.
    • Pekerja Intelektual (membedakan benar dan salah, logika)
    • Pekerja hati nurani atau Pekerja Spiritual (menjunjung kemuliaan budi pekerti).

    Pada setiap tingkatan, intelektualitas dan hati nurani terlibat, makin lama kadarnya harus semakin makin tinggi.

  26. Syarat-syarat menjadi wartawan professional:
    • memiliki keahlian/ketrampilan profesional berkat pendidikan dan pelatihan
    • memegang teguh dan melaksanakan kode etik profesi
    • mendapat imbalan yang dapat menjamin kesejahteraan hidupnya.
  27. Seorang wartawan profesional dapat berkembang menjadi wartawan profetik, jika ia melakukan tugasnya dengan niat dan demi CINTA kepada sesama tanpa diskriminasi berdasarkan ras, suku, agama dan ideologi. Untuk itu ia perlu menempuh laku pengendalian diri melalui kontemplasi dan laku spiritual berdasar ajaran agama dan orang-orang suci untuk mengasah kepekaan dan kecerdasan spiritualnya. Singkatnya, seorang wartawan profetik adalah seorang wartawan yang bekerja dengan menggunakan kemampuan profesional dan kecerdasan spiritualnya sekaligus.
  28. Keberhasilan seorang wartawan profetik ditentukan oleh pengolahan/pengasahan bakat/talenta, kemampuan otak dan kecerdasan spiritual yang dimilikinya dan pengalaman kerja dan spiritualitasnya.
  29. Untuk melaksanakan tugas kenabiannya, seorang wartawan profetik akan terdorong untuk menghasilkan banyak laporan investigasi (Investigative reporting) untuk menegakkan kebenaran dan keadilan dan menghilangkan kejahatan, saat ini korupsi; berdasar perintah amar ma’ruf nahi munkar. Juga laporan-laporanyang mencari solusi dan mendamaikan (problem- solving, peaceful reporting).
  30. Tujuan jurnalisme profetik dapat diwujudkan melalui karya–karya jurnalistik, yang berfungsi:
    • Memberi Informasi (informing), sehingga publik mengetahui
    • Mendidik/mencerdaskan(educating)
    • Menghibur (entertaining)
    • Memberi advokasi (advocating)
    • Mencerahkan(enlightening)
    • Memberdayakan (empowering)
  31. Fungsi-fungsi itu hanya dapat diwujudkan jika ada:
    • Kebebasan untuk berekpresi (freedom of expression) tanpa rasa takut dan tekanan dari mana pun, kecuali kepatuhan akan perintah Allah.
    • Kemandirian (Independence) dalam dalam sikap.

    Seringkali disinilah letak tantangan pertama dan utama dari pihak ekternal (Undang-undang dan regulasi pemerintah yang represif dan internal (peraturan lembaga/perusahaan tempat bekerja)

  32. Kebebasan dan Kemandirian (freedom & independence) bukan berarti bebas berbuat tanpa aturan. Kebebasan hanya akan bermakna bila diabdikan untuk: Kebenaran, Keadilan, Kesejahteraan, Perdamaian, Kemanusiaan universal sebagai ibadah untuk mewujudkan cinta bagi seluruh makhluk (rahmatan lil alamin).
  33. Persyaratan dasar untuk menjadi wartawan profetik adalah memiliki kepedulian untuk mewujudkan kemaslahatan seluruh umat manusia berdasar CINTA.
  34. Informasi berkeadaban dicapai melalui proses jurnalisme profetik sbb:
    • Cinta
    • Kepedulian
    • Kebebasan
    • Kemandirian
    • Kebenaran
    • Keadilan
    • Kesejahteraan
    • Perdamaian
    • Kemanusiaan universal (rahmatan lil alamin)
  35. Agar bisa mengemban tugas jurnalisme kenabian dengan baik, seorang wartawan harus melakukan:
    • Olah raga secara teratur biar tetap bugar
    • Olah pikir untuk meningkatkan kecerdasan intelektual dengan banyak membaca dan menulis
    • Olah rasa untuk meningkatkan kecerdasan sosial
    • Olah hati untuk mendapatkan Kecerdasan Spiritual melalui kontemplasi, perenungan atau tafakur agar bathin terasah untuk selalu bertanya (A questioning mind) untuk berbuat yang terbaik bagi kemanusiaan sebagai ibadah kepada Allah.
  36. Jurnalisme Kenabian bisa menjadi salah satu bentuk pengamalan Sistem Pers Pancasila.

*Disampaikan pada Ceramah di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, tanggal 15 Desember 2012 (Dakwah Annual Conference yang pertama)

** Memulai karir sebagai Wartawan ANTARA tahun 1973, Dirut RRI (2005-2010), Pemimpin Umum/Pemred ANTARA (1998-2000), Pemimpin Umum/Pemred Republika (1993-2001), Sekjen PWI (1993-1998), Sekjen Organisasi Kantor-kantor Berita Asia Pacifik (OANA), 1988-1991. Pemimpin Umum Majalah SwaraCinta (Voice of Love), diterbitkan Dompet Dhuafa 2011-sekarang.

** Bahan Pustaka:

  • Himpunan Peraturan dan Perundangan serta Ketentuan Ketentuan yang berkaitan dengan Pers Nasional, Deppen, 1988
  • UU No 40, 1999 tentang Pers
  • UU No 32 tahun 2002 tentang Penyiaran
  • Kode Etik Jurnalistik
  • UU Pers dan Peraturan Dewan Pers, 2010
  • Manufacturing Consent, Noam Chomsky, 1988
  • Islam sebagai Ilmu (Kuntowijoyo).
  • Pengalaman dan renungan pribadi.
 

Tags: