Yogyakarta – Wahyu, SH (LSM Insist Yogyakarta) mengungkapkan banyak hal yang harusnya saat ini direfleksikan oleh pekerja LSM. Karena sampai saat ini, tidak banyak contoh succes story yang bisa dijadikan idol. Selain itu, banyak NGO telah menjadi kaya, sementara bagaimana dengan masyarakatnya. “Bangunannya besar, pekerjanya banyak, gajinya besar, bahkan ada NGO yang memberikan pensiun, sementara pemerintah berencana menghilangkan dana pensiun. NGO menjadi kaya, apakah masyarakatnya sudah menjadi kaya?” tanyanya retoris.

Sebagai narasumber dalam Seminar Nasional Jurusan PMI Perspektif Pengembangan Masyarakat dalam Mengatasi Kemiskinan, Wahyu banyak menyoroti tentang sepak terjang LSM selama ini. Banyak LSM yang telah mendapatkan dana dari lembaga donor, namun kurang bermanfaat ke masyarakat. Padahal LSM saat ini mempunyai tugas berat untuk memaknai ulang jargon empowerment (pemberdayaan) yang sekarang sudah diambil alih oleh para agen pembangunan (development agent). “Seharusnya NGO harus mensubversiv jargon-jargon pemberdayaan yang dikembangkan agen pembangunan,” tandas Wahyu.

Empowerment adalah jargon yang dikembangkan oleh orang-orang LSM/NGO. Dengan asumsi pada saat itu, banyak masyarakat yang masih bertahan hidup dengan asumsi pemerintah gagal. Maka LSM melakukan empowerment / pemberdayaan, agar masyarakat bisa memulihkan dirinya sendiri. “Empowerment adalah pembangunan yang lebih menghargai harkat manusia,” terang Wahyu.

Sedangkan idiom empowerment yang dikembangkan agen pembangunan –dalam hal ini ADB, IDB, World bank–adalah cara pandang heroik yang berupaya menolong masyarakat. Masyarakat dianggap tidak mempunyai kemampuan untuk bisa mengentaskan permasalahan mereka sendiri. “Mereka (agen pembangunan, red) datang ke masyarakat yang berpotensi berkembang seperti dewa penolong, dengan membawa persepsi bahwa mereka (masyarakat, red) tidak bisa mengentaskan permasalahan mereka sendiri,“ lanjut Wahyu. Dengan model seperti ini, tidak menutup kemungkinan malah akan menimbulkan ketergantungan.

Dengan keadaan seperti saat ini, dimana empowerment sudah diambil alih oleh agen pembangunan, LSM harus mencari kata baru untuk memaknai kembali arti pemberdayaan. Karena banyak orang sudah kehilangan ketajamannya untuk memahami kata empowerment tersebut.

Seminar Nasional ini diselenggarakan oleh Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Jumat (30/11) di Gedung Convention Hall UIN Sunan Kalijaga. Bersama Wahyu, SH hadir narasumber lain, Nuryuda Irdana, dari CSR Bank Mandiri.

Red :

NGO = non government organisation

LSM = lembaga swadaya masyarakat