Pajar Hatma presentasi ttg kajian geladangan dalam diskusi bulanan Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga

Yogyakarta merupakan Daerah Istimewa yang menyandang banyak predikat, mulai dari city of tolerance, kota pelajar, kota budaya, dan termasuk surga bagi gelandangan karena menampung banyak gelandangan dari luar kota. Demikian disampaikan oleh Waryono Abdul Ghafur, Dekan Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga ketika memberikan sambutan dalam acara Diskusi Ilmiah Bulanan Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga pada hari Selasa, 19 Maret 2013, di Ruang Pertemuan Lantai II Fakultas Dakwah.

Waryono juga menyinggung tentang pentingnya dakwah untuk menyasar kalangan ‘society undercover’, yaitu sekelompok masyarakat yang ada di bawah dan tertutup dari permukaan, salah satunya adalah kaum gelandangan.

Diskusi ini menghadirkan dua narasumber, Wahyu Budi Nugroho, peneliti muda dari UGM dan aktivis sosial Yogyakarta yang dalam kesempatan ini memaparkan hasil tesisnya tentang fenomena eksistensialisme subyek gelandangan di jalanan Kota Yogyakarta dan Pajar Hatma Indra Jaya, dosen Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga pemerhati masalah sosial kemasyarakatan.

Menurut Wahyu, fenomenologi eksistensialisme bisa dilihat pada bagaimana imajinasi seseorang ketika bertemu orang lain disekitarnya. Hal inilah yang diperlihatkan oleh para gelandangan yang menurut hasil penelitiannya memiliki kesadaran eksistensial ketika berhadapan dengan berbagai orang di jalanan yang mencemooh dan mencibirnya. Fenomenologi eksistensial merupakan metode yang digunakan para eksistensialis guna menyingkap dan menjelaskan kondisi “mengada” manusia di dunia, tepatnya ketika mereka berhadapan dengan serangkaian fakta-fakta sosial yang ada.

Gelandangan merupakan orang yang hidupnya menggelandang, berpindah-pindah, dan tidak mempunyai pekerjaan tetap, kecuali tetap mengambil sisa-sisa rezki yang tidak digunakan, demikian disampaikan oleh Pajar yang mengaku sempat ‘menggelandang’ ketika masih kuliah di Solo.

Berkaitan dengan tipologi gelandangan, ada beberapa tipe yaitu: gelandangan psikotik-psikosomatik, gelandangan ideologi, gelandangan tekanan ekonomi.

Gelandangan psikotik-psikosomatik muncul karena stress, sedangkan gelandangan ideologi timbul akibat adanya kepercayaan yang berkaitan dengan pilihan hidup baik karena keyakinan spiritual atau ideologi kebebasan tertentu, dan gelandangan karena tekanan ekonomi.

Menurut Pajar, ada dua bentuk intervensi untuk mengatasi persoalan gelandangan, yaitu tindakan preventif yaitu bagaimana mencegah orang tidak masuk menjadi gelandangan dan kuratif-rehabilitatif yaitu bagaimana mengentaskan orang gelandangan.

Berkaitan dengan pemberdayaan gelandangan, menurut Wahyu, sebelum ada pemberdayaan ekonomi atau sosial, yang diperlukan adalah pemberdayaan mental. Hal itu yang paling krusial. Pengalaman yang diceritakan adalah bagaimana proyek pemberdayaan orang miskin melalui skema PNPM Mandiri di Kabupaten Bantul itu sempat mengalami hambatan karena masyarakat menginginkan hibah bukan untuk modal bergulir melainkan untuk dihabiskan.

Pandangan lain disampaikan oleh Fajrul Munawir, Ketua Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), yang mengusulkan untuk melakukan pemberdayaan gelandangan dengan berangkat dari optimalisasi peran masjid. Fajrul kemudian menyitir kisah di era Nabi Muhammad SAW yang menyediakan salah satu ruangan di dalam masjid untuk menampung dan memberdayakan kelompok gelandangan pada waktu itu.

Bagaimana dengan agama atau religiusitas kaum gelandangan? Berdasarkan penelitian Wahyu terhadap subyek gelandangan, tipologi keagamaan gelandangan lebih cenderung mengikuti agama Islam pesisir selatan yang lebih menekankan pada aspek spiritualitas, dan bukan pada ritualitas. Menurut Wahyu, untuk lebih menelisik keagamaan orang gelandangan bisa menggunakan kajian fenomenologi eksistensial ala Soren Kierkegaard yang berpendapat bahwa Tuhan dimaknai secara individual, secara subyektif, ada pada kesadaran individu penganutnya, hal itulah yang terlihat pada konsepsi keagamaan kaum gelandangan.

Apa yang bisa dipelajari dari orang-orang gelandangan? Menurut Wahyu, kita bisa belajar dari ketahanan hidup mereka yang bertumpu pada kekuatan eksistensi mereka yang bisa dilihat dari betapa mereka menjalani kehidupan dengan santai. Prinsip mereka untuk tidak mendengar orang lain (yang mencemooh dan mencibir), prinsip kemandirian, dan sebagainya itu bisa menjadi nilai yang perlu dipelajari oleh mereka-mereka yang hidup di dunia mapan. Selain itu, pengalaman gelandangan tentang kebahagiaan yang begitu personal dan subyektif itu bisa memberikan sumbangsih bagi dirumuskannya indikator-indikator kebahagiaan dengan berangkat dari kajian eksistensialisme.

Diskusi yang dihadiri 40 mahasiswa-dosen dan merupakan kerjasama dengan Laboratorium Kesejahteraan Sosial (Labkessos) Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga ini  berakhir pada pukul 12.00 WIB disertai dengan ajakan untuk bersama-sama memikirkan dan mengatasi persoalan gelandangan di Yogyakarta yang begitu kompleks karena melibatkan aspek kesadaran eksistensial mereka. (izzul)