Faisal Ismail, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

PADA tanggal 5 Maret 2013, ditemukan potongan tubuh mayat yang tercecer di jalan Tol Cikampek, Jakarta. Peristiwa tragis itu menjadi berita utama di berbagai media massa baik di ibu kota maupun di daerah. Segera pihak kepolisian melakukan investigasi siapakah identitas korban pembunuhan itu dan siapa pula identitas pelaku pembunuhan secara mutilasi tersebut. Pihak kepolisian pada 7 Maret 2013 berhasil mengidentifikasi mayat tersebut sebagai wanita ber-nama Darna Sri Astuti (32), sedang pembunuhnya adalah BS yang tidak lain suami korban. Pihak kepolisian pun berhasil menangkap BS dan sekarang menahannya guna penyelidikan lebih lanjut untuk menjalani proses hukum atas perbuatannya yang keji, kejam, sadis dan biadab itu.

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak kepolisian terungkap bahwa motif pembunuhan itu adalah karena BS merasa sangat cemburu terhadap istrinya yang, kata dia, ada main dengan lelaki lain. Kecemburuan inilah yang meletupkan bara dendam yang mem-bakar dalam diri BS. Dendam yang tak terkendalikan akan mengubah watak manusia menjadi binatang buas. Binatang buas yang memangsa binatang yang lemah adalah suatu hal yang wajar karena binatang buas itu memang mencari makan dengan cara demikian. Tapi manusia yang membunuh sang istri (manusia lain) secara mutilasi sebenarnya lebih buas daripada binatang buas. Ia adalah manusia yang tidak mempunyai rasa perikemanusiaan, biadab, bengis dan sadis. BS memotong-motong jasad sang istri dan membuangnya berceceran di jalan Tol Cikampek untuk menghilangkan jejak perbuatan sadisnya, tapi perbuatannya terungkap juga.

Dalam waktu yang bersamaan (4 Maret 2013), pembunuhan secara mutilasi juga terjadi di kecamatan Atambua (Nusa Tenggara Timur). Silvester Bria (48), bekerja sebagai petani, membunuh dua orang sekaligus, yaitu istrinya yang bernama Rosalina Bete (45) dan anaknya yang bernama Emelia Putri alias Esrah (2,5). Perbuatan sadis yang dilakukan Silvester terhadap istrinya justru terjadi saat sang istri sedang hamil tiga bulan. Silvester memotong tubuh sang istri dan tubuh anaknya lalu dikubur dalam satu lubang. Tragis dan sadis. Wakil kepala Polres Belu, Ajun Komisaris Riswanto Yuwono, mengatakan pelaku sudah menyerahkan diri dan ditahan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.

Jika pembunuhan secara mutilasi oleh BS terhadap sang istri didorong oleh cemburu dan dendam, tidak demikian halnya yang dilakukan oleh Silvester terhadap istri dan anaknya. Pembunuhan secara mutilasi oleh Silvester dimotivasi oleh perasaan tersinggung dan harga diri. Pada 24 Februari 2013, Klau (keluarga besar mertua Silvester) terkena musibah, yaitu salah seorang anggota keluarganya meninggal dunia.

Menurut tradisi Tetun Timor, Silvester sebagai menantu harus menyerahkan ‘tais’ (kain penutup jenazah) ke rumah duka. Ditemani oleh sang istri dan anaknya, Silvester menyerahkan tais itu ke rumah duka tetapi pihak keluarga besar menganggapnya kurang pantas. Silvester dinilai sebagai menantu yang kurang bertanggung jawab dan penilaian ini menyebar dari mulut ke mulut dalam masyarakat. Timbullah rasa malu pada diri Silvester yang ia rasakan sebagai pelecehan terhadap harga dirinya yang menyebabkan ia tersinggung sekali. Ia segera mengajak pulang istri dan anaknya dari rumah duka. Sesampainya di rumah, ia menjadi kalap dan menusuk istri dan anaknya dengan sebilah parang.

Masih ingat Verry Idham Henyansyah alias Riyan? Pemuda tampan asal Jombang berusia 30 tahun itu juga pelaku pembunuhan yang memutilasi para korbannya secara keji, bengis, kejam dan sadis. Sebelas korbannya dibunuh lantas mayatnya dipotong-potong dan dikubur untuk menghilangkan jejak perbuatan biadabnya. Ada yang dibunuh di Jakarta dan sebagian besar korbannya dikubur di lingkungan rumahnya di Jombang. Salah seorang korbannya adalah Grandy, wanita asal Belanda. Motif utama pembunuhan yang dilakukan oleh Riyan adalah keuangan (ekonomi). Pada tahun 2008, Riyan dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan karena pembunuhan dan mutilasi yang telah ia lakukan. Mutilasi dan sadisme harus dihentikan dan dilenyapkan dari peradaban dan keadaban manusia. q- k.

KEDAULATAN RAKYAT, KAMIS PAHING 14 MARET 2013 ( 2 JUMADILAWAL 2013)

Related Post

 

Tags: