Diskusi Ilmiah Bulanan Fakultas Dakwah

 

Persoalan kemiskinan yang dialami oleh Indonesia yang notabene merupakan negara mayoritas muslim menjadi salah satu argumen pentingnya interkoneksi nilai-nilai keislaman dan kesejahteraan sosial. Demikian gagasan yang muncul dari kegiatan diskusi ilmiah bulanan Fakultas Dakwah pada hari Rabu, 24 April 2013, di Gedung Teatrikal Dakwah. Diskusi kali ini mengangkat tema Quo Vadis Interkoneksi Islam & Kesejahteraan Sosial.

Diskusi yang dihadiri sekitar 75 mahasiswa dan dosen ini sekaligus untuk membedah buku Interkoneksi Islam & Kesejahteraan Sosial. Buku ini merupakan kumpulan tulisan 13 dosen Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial (Prodi IKS) Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Diterbitkan oleh CV Samudera Biru pada bulan Maret 2013.

Buku ini terdiri dari 3 bagian. Bagian pertama membahas tentang pendekatan. Bagian kedua tentang metode. Bagian ketiga tentang strategi interkoneksi nilai keislaman dengan kesejahteraan sosial. Dalam acara bedah buku ini, tiap bagian disajikan oleh Andayani, Abidah Muflihati, dan Asep Jahidin yang masing-masing ketiganya mewakili bagian dalam buku tersebut.

Diskusi dengan format bedah buku ini menghadirkan pembahas, Lathiful Khuluq, Ph.D, seorang social work expert yang menyelesaikan S1 hingga S3 tentang Social Work di Universitas McGill, Kanada.

Menurut Andayani, buku antologi gagasan dosen Prodi IKS ini berupaya mengintegrasikan pekerjaan sosial dan Islam, baik dalam aspek teori, pendekatan, dan studi kasus. Pentingnya integrasi terletak pada pemahaman bahwa manusia terdiri dari aspek fisik, mental dan spiritual. Selain itu adanya pendekatan berbasis ulayat yang mana memandang agama sebagai cara hidup dan pendekatan berbasis kekuatan klien menjadikan integrasi memiliki nilai penting.

Dalam ulasannya, Lathiful Khuluq menceritakan tentang historisitas konsep integrasi-interkoneksi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang telah mendasari pengembangan bangunan keilmuan di kampus putih ini. Kemudian beberapa pemikiran terkait integrasi-interkoneksi dalam kesejahteraan sosial disebutkannya seperti keterkaitan antara nilai-teori, dan aplikasi; relasi antara Islam dan ideologi lain; kompleksitas masalah lokal-nasional- global; makin luasnya ranah kerja atau layanan seperti pregnancy (kehamilan), childhood (masa anak-anak), youth (pemuda), adult (dewasa), parenting (keorangtuaan), marriage/divorce (perkawinan/perceraian), elderly(lanjut usia), dan sebagainya; kemudian juga keterkaitan antara faktor budaya–politik-ekonomi-sosial–psikologi, hingga kewirausahaan.

Ketika menyinggung buku tersebut, Lathiful mengapresiasinya sebagai sebuah buku yang layak menjadi referensi sekaligus sebagai panduan mahasiswa ketika akan memilih tema skripsi. Meski demikian kritik terhadap buku ini juga tak terhindarkan dan ini berkaitan dengan karakter jenis buku yang diterbitkan yaitu sejenis antologi, dimana gagasan yang dikembangkan dalam buku tersebutseringkali kurang begitu mendalam.

Di akhir pemaparan, Lathiful menyarankan kepada para peserta diskusi yang mayoritas mahasiswa Prodi IKS selaku calon pekerja sosial untuk lebih profesional, lebih kritis, lebih integratif, lebih efektif/efisien, lebih membebaskan/mencerahkan, tidak segan menggunakan ilmu-ilmu bantu, dan bisa mengkombinasikan idealisme dan realisme. (IZZUL)