Dr Hamdan Daulay MSi MA, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

MARAKNYA pemberitaan tentang perseteruan Eyang Subur dengan Adi Bing Slamet, sesungguhnya merupakan tantangan serius dalam tugas dakwah. Kasus Eyang Subur sebagai tokoh perdukunan barangkali hanya bagaikan gunung es yang sudah menjadi bagian budaya masyarakat. Masyarakat yang ingin mendapatkan keuntungan materi dengan serba instan sering melakukan jalan pintas, termasuk lewat perdukunan. Ketika masyarakat sudah terjebak praktik perdukunan, tentu mereka tidak lagi mengindahkan nilai-nilai agama. Mereka tidak peduli lagi halal dan haram, serta pahala dan dosa. Cara pikir yang serba instan, ingin mendapatkan hasil dengan jalan pintas, tanpa menghiraukan proses kerja keras. Dalam kajian dakwah, fenomena ini termasuk kategori kemungkaran yang harus dicegah dengan pendekatan dakwah.  Atau barangkali ada pendekatan dakwah yang salah selama ini oleh para juru dakwah, sehingga membuat semakin banyak masyarakat yang terjebak pada praktik perdukunan.

Dakwah adalah ibarat lentera kehidupan yang memberi cahaya dan menerangi hidup manusia dari nestapa kegelapan. Tatkala manusia dilanda kegersangan spiritual, dengan rapuhnya akhlak, dakwah diharapkan mampu memberi cahaya terang. Maraknya berbagai ketimpangan, kecurangan dan krisis moral dewasa ini, disebabkan terkikisnya nilai-nilai agama dalam diri manusia. Tidak berlebihan jika dakwah merupakan bagian yang cukup penting bagi umat manusia saat ini.

Namun dalam realitanya, dakwah yang hadir di tengah umat saat ini masih dominan dengan retorika. Kita belum bisa mewujudkan satunya kata dengan tindakan. Betapa banyak orang begitu fasih mengucapkan kata-kata kejujuran, keadilan, anti korupsi dan lain-lain, namun realitanya mereka justru larut dengan ketidakjujuran, ketidakadilan dan korupsi. Kalau demikian, maka pesan-pesan dakwah yang disampaikan pun hanyalah sebatas kata-kata indah, sedangkan esensinya belum teraktualisasikan. Pesan dakwah yang kurang komunikatif dan kurang egaliter membuat munculnya kesenjangan antara juru dakwah dengan masyarakat, sehingga membuat masyarakat terjebak pada jalan menyimpang.

Ketika masyarakat semakin banyak terjebak pada praktik perdukunan, sesungguhnya tidaklah arif kalau semua kesalahan ditimpakan kepada Eyang Subur. Tuduhan kepada Eyang Subur sebagai penyebar aliran sesat bisa saja disampaikan, namun tentu itu bukan semata karena kesalahan Eyang Subur. Dalam hukum ekonomi disebutkan, di mana ada permintaan di situ ada penawaran. Hukum ekonomi juga menyebutkan bahwa setiap orang selalu ingin mencari keuntungan materi sebesar-besarnya. Dalam hal ini Eyang Subur mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkan kondisi masyarakat yang sedang ‘sakit’ karena ingin mendapatkan keuntungan dengan jalan pintas tanpa proses kerja keras.

Dalam perspektif agama memang banyak tindakan Eyang Subur yang salah, namun kesalahan juga ada pada juru dakwah. Tugas juru dakwah sebagai pembina umat berarti gagal membina Eyang Subur dan juga para pengikutnya yang dinilai sesat (berteman dengan syetan). Mengapa Eyang Subur selama ini tidak didakwahi bahwa tindakannya yang memiliki istri lebih dari empat tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Tindakan yang mendapatkan sesuatu dengan jalan pintas, memakai berbagai ajimat, berteman dengan syetan adalah bertentangan dengan Islam. Akibatnya tatkala sentuhan dakwah semakin jauh dari Eyang Subur dan pengikutnya, membuat mereka semakin terjebak pada penyimpangan dan kemungkaran.

Juru dakwah  (dai)  idealnya selalu menganjurkan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka hendaknya mengajak umat untuk  hidup sederhana, kerja keras, jangan menempuh jalan pintas untuk mendapatkan sesuatu, menghindari kemusyrikan, menjembatani kesenjangan sosial ekonomi, menghindari perdukunan, menegakkan keadilan dan kebenaran, mengenyahkan kemiskinan dan lain-lain. Namun dapat dibayangkan apa reaksi  dan dampaknya bagi masyarakat, jika ucapan tidak sesuai dengan tindakan.

Dakwah sesungguhnya tidak hanya berpusat di masjid, kampus, forum diskusi, pengajian dan semacamnya. Dakwah harus mengalami  desentralisasi kegiatan. Ia harus berada di bawah, di permukiman kumuh, di pinggir kali, di tempat hiburan, di lokasi perdukunan, dan di mana saja kemiskinan struktural dan kemiskinan moral seakan takkan dapat terlepaskan. Ke arah sanalah tampaknya  kegiatan dakwah harus dilangkahkan. Itu juga berarti dakwah  lebih direkayasa untuk menanggulangi gejala kefakiran yang membawa kekufuran pada masyarakat dari berbagai lapisan. Kalau dakwah mampu menyen-tuh semua lapisan umat, tentu fenomena Eyang Subur yang dianggap menyesatkan akan bisa di-hindari. Karena sesungguhnya dakwah adalah bagaikan cahaya yang mampu menerangi jalan manusia dari nestapa kegelapan. q- o.

 

KEDAULATAN RAKYAT, JUMAT PON 19 APRIL2013 ( 8 JUMADILAKIR 1946 )

Related Post

 

Tags: