Kota Jogja mendapat julukan sebagai kota pelajar mengingat banyaknya sekolah dan kampus yang tak ayal lagi menarik ratusan ribu pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Meskipun demikian, status sebagai kota pelajar tidak selamanya tanpa noda. Berbagai peristiwa tawuran antar pelajar belakangan ini menjadi isu yang mencoreng muka kota Jogja. Demikian yang menjadi latar belakang Diskusi Fakultas Dakwah & Komunikasi dengan tema Pencegahan Tawuran di Kalangan Pelajar Kota Jogja yang diselenggarakan pada hari Kamis, 30 Mei 2013, di Gedung Teatrikal Dakwah UIN Sunan Kalijaga.

Diskusi bulanan Fakultas Dakwah & Komunikasi (FDK) UIN Sunan Kalijaga kali ini menghadirkan Agus Suswanto (koordinator Guru BK SMAN 6 Yogyakarta), Kompol Fathurrahman (Kepala Satuan Binmas Polresta Yogyakarta), dan Said Hasan Basri (dosen Jurusan Bimbingan & Konseling Islam FDK UIN Sunan Kalijaga. Diskusi dihadiri oleh 150-an peserta dari kalangan mahasiswa, dosen maupun masyarakat umum lainnya.

Dalam presentasinya, Agus sebagai pemakalah pertama dalam diskusi tersebut menguraikan tentang sejarah kelam SMAN 6 yang hingga awal tahun 2000-an sering dikenal dengan kasus tawuran antar pelajar dan kini sudah bisa terlepas dari warisan masa silam. Beliau juga memaparkan data tentang geng-geng di beberapa SMA Jogja. Yang cukup mencengangkan adalah betapa hampir tiap sekolah menengah atas di Jogja ‘memiliki’ geng pelajar.

Kompol Fathurrahman menceritakan tentang beberapa sebab terjadinya tawuran di kalangan pelajar yang dimulai dari hal-hal sepele seperti lirik-lirikan, perlombaan/pertandingan antar sekolah yang tidak disertai dengan sportivitas/siap kalah, permasalahan rebutan pacar/cewek, dan juga adanya alumni sekolah yang melibatkan diri dalam kegiatan ekstra sekolah dan mempengaruhi terhadap potensi munculnya perkelahian antar sekolah.

Selanjutnya, beliau juga menguraikan data tentang wilayah tawuran di Kota Jogja seperti Gondokusuman (SMA 9, SMK BOPKRI  1 & 2, MAN 1, dan STM PIRI 1), Umbulharjo (SMKN 5, SMA Muh 2, SMA 8), Kotagede (SMA 5), Kraton (SMP 15),  Tegalrejo (SMA 2, SMA 4, dan SMA Muh 1), Wirobrajan (SMA Muh 3). Beliau juga memberikan apresiasi terhadap SMA 6 yang keluar dari catatan kepolisian.

Menurut Said, maraknya tawuran seakan mengindikasikan adanya kelebihan jam kosong atau waktu luang untuk mengisi kehidupan para pelajar, sehingga harus menambahnya dengan tawuran selepas jam bubaran sekolah. Seolah-olah sudah menjadi agenda rutin sepulang sekolah, sebagai kegiatan ekstra kurikuler, dan menjadi salah satu tugas perkembangan pelajar yang harus dikuasainya ketika menginjak remaja.

Agus Suswanto selaku praktisi konselor sekolah menyebutkan ada beberapa faktor- faktor yang menyebabkan tawuran pelajar, diantaranya : Faktor Internal dan Faktor Eksternal. Hal tersebut juga diamini oleh Said.

Faktor Internal, yang ini terjadi dari dalam diri individu itu sendiri yang berlangsung melalui proses internalisasi diri yang keliru dalam menyelesaikan permasalahan disekitarnya dan semua pengaruh yang datang dari luar. Tawuran yang terjadi dipicu oleh kegagalan remaja melakukan adaptasi dengan lingkungan yang kompleks. Ditambahkan oleh Said, faktor internal itu bermuara dari kontrol diri yang lemah, krisis identitas, dan krisis eksistensi. Adapun faktor eksternal, yaitu faktor yang datang dari luar individu, yaitu : a. Faktor Keluarga, b. Faktor Sekolah, c. Faktor Lingkungan.

Di akhir pemaparan, Agus Suswanto berbagai beberapa solusi untuk mencegah terjadinya tawuran pelajar antara lain adalah :

  1. Membekali pelajar dengan pengetahuan keagamaan secara berkala dan tumbuhkan kesadaran siswa untuk selalu berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur;
  2. Pengawasan orang tua;
  3. Mengikuti kegiatan tambahan di sekolah;
  4. Pengawasan sekolah;
  5. Menghindari nongkrong habis pulang sekolah. Nongkrong habis pulang sekolah sering menjadi pemicu awal terjadinya pertikaian antar sekolah. Jika suatu kelompok siswa bertemu dengan kelompok siswa dari sekolah lainnya, rentan sekali terjadi gesekan gesekan yang bisa memicu tawuran antar pelajar;
  6. Jalin silaturrahmi antar sekolah, bisa dengan cara mengadakan pertandingan pertandingan olah raga antar sekolah.
     

Mengenai peran BK (Bimbingan Konseling) dalam pencegahan tawuran di kalangan pelajar, Said memberikan gagasan tentang  pentingnya pihak sekolah melalui guru BK dibantu elemen sekolah lainnya bekerjasama dengan orang tua, dapat melakukan beberapa langkah berikut:

  1. Identifikasi siswa-siswa yang berisiko terlibat tawuran;
  2. Memberikan pendidikan moral, sekaligus pendidikan tentang dampak kenakalan remaja termasuk di dalamnya adalah tawuran, yang dilakukan secara terjadwal;
  3. Setiap guru wajib menjadi seorang figur yang baik, sabar yang dapat dicontoh oleh para pelajar;
  4. Memberikan perhatian dan motivasi yang lebih untuk para remaja yang sejatinya sedang mencari jati diri;
  5. Memfasilitasi para pelajar untuk dapat melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat sesuai bakat dan minatnya melalui beberapa wahan aktualisasi diri seperti OSIS, PMR, Pramuka, dan sebagainya;
  6. Mengundang orang tua atau wali siswa secara berkala, mungkin tiga bulanan, untuk memberikan sosialisasi tentang peran keluarga terhadap perkembangan anaknya. Agar orang tua memahami bagaimana memperlakukan anaknya yang menginjak remaja, dengan memperhatikan pola pengasuhan yang tepat serta pemberian dukungan sosial dan perhatian yang cukup. (izzul)