Dr Hamdan Daulay MSi MA, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

TATKALA Nabi Muhammad SAW pertama kali menyampaikan peristiwa Israk Mikraj yang legendaris itu, banyak orang tidak percaya. Kaum kafir Quraish bahkan menuduh Nabi telah gila. Karena secara rasional, perjalanan yang ditempuh Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian naik ke langit, tidak mungkin ditempuh hanya dalam satu malam. Adalah Abu Bakar satu-satunya sahabat Nabi yang pertama percaya atas peristiwa tersebut. Kepercayaan Abu Bakar bukan atas dasar rasio, tetapi  karena keimanan yang kokoh dan kejujuran yang ditunjukkan Nabi selama ini.

Sungguh mengharukan dan menggetarkan uraian Annemarie Schimmel dalam bukunya, Dan Muhammad Adalah Utusan Allah. Schimmel sebagai seorang orientalis, ternyata mampu menilai secara jujur dan objektif sejarah Nabi yang mulia itu. Dia mengakui, Nabi adalah seorang tokoh moral yang tak ada tandingannya.
Nabi Muhammad selalu memberi teladan kejujuran kepada umatnya dengan mewujudkan satunya kata dengan tindakan, sehingga tidak ada keraguan bagi sahabat-sahabatnya ketika ia menceritakan peristiwa Israk Mikraj yang luar biasa itu.

Dalam peristiwa ini dengan penuh kejujuran Schimmel menilai, esensi yang terkandung di dalamnya sesungguhnya bukan memperdebatkan benar tidaknya Nabi secara jasmani melakukan Israk Mikraj. Tetapi yang lebih penting sesungguhnya, untuk memahami kandungan Israk Mikraj itu sendiri, yaitu perintah untuk menjalankan ibadah salat bagi umat Islam. Suatu peristiwa yang mengandung makna penting dan ada pesan sosial yang luar biasa. Lewat ibadah salat, umat Islam mampu menjalin solidaritas yang tinggi, kedisiplinan, membersihkan diri lewat air wudu, hingga pesan kepemimpinan dengan adanya imam dalam setiap salat berjamaah.

Ketika terjadi peristiwa itu, Nabi memang sedang dilanda duka cita, sehingga tahun itu disebut dengan tahun duka cita. Duka cita yang menimpa Nabi waktu itu, karena wafatnya dua orang tokoh pendukung dakwahnya, yaitu pamannya Abu Thalib dan istrinya Hadijah. Padahal waktu itu Nabi sedang menghadapi tugas dakwah yang cukup berat, yaitu menghadapi tantangan keras dari kaum Quraish yang dilanda peradaban jahiliyah.

Hingga kini pesan Israk Mikraj masih terus bergema di tengah umat Islam, yaitu dengan tetap dijadikannya salat sebagai tiang agama. Namun yang menjadi persoalan sekarang, di tengah banyaknya umat yang menjalankan salat, kegersangan spiritual dan krisis moral di sisi lain tampaknya terus melanda umat manusia.
Seolah jahiliyah baru telah hadir kembali di tengah-tengah umat. Walaupun umat Islam banyak yang menjalankan salat, haji dan menghadiri pengajian, namun di sisi lain praktik kemungkaran, seperti ketidakadilan, korupsi, penindasan pada kaum lemah masih terus terjadi dan bahkan semakin memprihatinkan.

Pesan kepemimpinan dalam salat sesungguhnya sangat jelas, yaitu mereka yang menjadi imam (pemimpin) dalam salat adalah yang paling bagus bacaan Alqurannya, yang jujur, yang lebih tua dan memiliki akhlak yang baik di tengah masyarakat. Ini bisa dianalogkan dalam memilih pemimpin masyarakat, dengan mengutamakan kejujuran dan akhlak dari calon pemimpin. Namun kalau dalam memilih pemimpin politik tidak diperhatikan lagi aspek kejujuran dan akhlak, yang terjadi sekarang adalah munculnya pemimpin pembohong, koruptor dan penipu rakyat, sehingga dari waktu ke waktu semakin banyak pemimpin yang ditangkap KPK dan masuk penjara. Ini sungguh sangat tragis, tatkala pesan yang terkandung dalam salat terkait aspek pemimpin tidak diperhatikan lagi.
Karena masyarakat saat ini sudah sangat pragmatis dan materialis dengan memilih pemimpin berdasarkan  jumlah uang yang diperoleh. Akibatnya praktik money politics sudah menjadi lingkaran setan yang sulit dihindari.

Betapa banyak krisis moral yang melanda umat dewasa ini. Tingkah laku manusia tampaknya semakin tercerabut dari nilai-nilai agama. Pesan utama dalam ibadah salat yang diharapkan bisa memberi pencerahan spiritual, dengan munculnya keteladanan moral, ternyata belum bisa maksimal. Masih banyak umat dalam praktik salatnya hanya sebatas ritual dengan gerakan berdiri, rukuk dan sujud, namun sama sekali tak mampu mengaktualisasikan esensi salat. Pesan kejujuran, kedisiplinan, solidaritas sosial hingga kepemimpinan yang ada dalam salat belum teraktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal idealnya orang yang khusuk dan mau memahami esensi salat, mampu mengaktualisasikan kejujuran, keteladanan akhlak dan kepemimpinan yang egaliter dalam kehidupan sehari-hari. q- c

 

”KEDAULATAN RAKYAT” HALAMAN 12, RABU KLIWON 5 JUNI 2013 ( 26 REJEB 1946 )

Related Post

 

Tags: