oleh Faisal Ismail

BERPUASA pada Ramadan merupakan pilar ketiga rukun Islam. Perintah Allah kepada umat Islam untuk berpuasa pada Ramadan terdapat dalam Alquran Surah Al-Baqarah ayat 183.

Ritual puasa sebenarnya diwajibkan juga kepada umat-umat terdahulu. Walaupun berbeda tata cara dan lamanya berpuasa, esensi dan tujuan utama ibadat puasa yang diajarkan Allah masih sama yaitu hendak merengkuh nilai-nilai takwa kepada-Nya. Takwa adalah pangkal tolak dan tujuan akhir hidup manusia. Allah mengetahui “kendala” yang dihadapi manusia. Karena itu, Dia memberikan kemudahan (rukhsah).

Orang yang sudah sangat tua (jompo) atau sudah uzur diperbolehkan tidak berpuasa dengan ketentuan memberi makan kepada fakir miskin (fidyah). Perempuan yang mengalami menstruasi atau baru melahirkan anak karena menyusui diperbolehkan tidak berpuasa, tapi berkewajiban menggantinya di luar Ramadan sebanyak hari yang dia tinggalkan. Orang yang sakit (biasa) atau bepergian jauh boleh juga tidak berpuasa, tapi dia harus menggantinya sebanyak hari yang ia tinggalkan.

Allah memberikan perintah ibadah kepada hamba-Nya sebatas kemampuannya. Jika dilaksanakan dengan penuh keimanan dan kesadaran, ibadah sebenarnya bukan beban, melainkan “kebutuhan” ruhaniah yang memberikan kenikmatan batin. Puasa secara harfiah berarti menahan yaitu menahan diri dari makan-minum dan hubungan seksual antara suami-istri sejak fajar terbit sampai matahari terbenam.

Agar puasa kita mencapai bobot dan kualitas yang tinggi dan prima, kita harus menjauhkan diri dari perilaku yang mereduksi nilai puasa kita. Itu artinya, kita harus berpuasa secara total, tidak parsial. Jiwa, hati, dan pikiran kita harus berpuasa dalam arti tidak menaruh dendam, dengki, hasut, dan berprasangka buruk. Mata dan telinga kita harus berpuasa dalam arti tidak melihat atau mendengar ihwal maksiat.

Mulut kita harus berpuasa misalnya tidak berdusta, ngrasani, mencaci maki, bersaksi palsu, atau menyumpah serapah. Tangan kita harus berpuasa dalam arti tidak menyakiti atau mencuri milik orang lain. Kaki kita harus berpuasa misalnya tidak melangkah ke jalan dan tempat maksiat. Nabi Muhammad memperingatkan, banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, kecuali rasa haus dan lapar, karena kualitas puasanya sangat rendah.

Kita tentu tidak ingin termasuk dalam kategori puasa seperti ini. Puasa mendidik kejujuran kepada Allah, kepada diri sendiri, dan kepada orang lain. Puasa adalah simbiosis kepekaan ritual dan moral. Para pengamal puasa secara langsung merasakan haus, lapar, dan “penderitaan” seperti yang dialami para fakir miskin dan kaum dhuafa. Puasa adalah ibadat yang menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai ketuhanan dalam jiwa orang yang berpuasa.

Penyair humanis, Iqbal, berpesan kepada kita, ”Tanamkan sifat-sifat Tuhan dalam dirimu.” Melalui intensitas pengamalan ibadah puasa dan ibadah-ibadah yang lain, kita rengkuh moral kenabian dan ketuhanan itu dan kita tanamkan di lubuk jiwa kita dalam-dalam.

Kita aktualisasikan nilai-nilai ilahiah dan insaniah itu dalam kerja dan karya nyata. Sebaik-baik manusia adalah orang yang bisa memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada orang lain.

Dimuat Koran SINDO, Rabu,  17 Juli 2013

Related Post

 

Tags: