Faisal Ismail, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

DI Indonesia dan di negara-negara yang terletak di kawasan tropis lainnya, umat Islam melaksanakan ibadah puasa selama 12 sampai 13 jam dalam sehari. Anak-anak yang sudah akil baligh, apalagi orang-orang dewasa, dapat dipastikan mereka mampu berpuasa selama 12-13 jam perhari selama sebulan di bulan Ramadan. Ringkas kata, pelaksanaan ibadah puasa Ramadan bagi umat muslim di Indonesia dan di negara-negara tropis lainnya tidak menjadi masalah. Artinya, umat muslim secara mental-spiritual dan fisikal mampu menjalankan ibadah puasa Ramadan selama rentang waktu 12-13 jam dalam sehari (sejak terbit fajar sampai dengan matahari tenggelam). Seperti halnya di Indonesia, di negara-negara Timur Tengah, ibadah puasa juga tidak menjadi masalah bagi kaum muslimin untuk melaksanakannya.

Di Amerika Serikat (AS) yang memiliki empat musim (dingin, semi, panas dan gugur), umat muslim di negara Paman Sam itu melaksanakan ibadah puasa dengan rentang waktu yang berbeda. Pada musim dingin di mana waktu siang lebih pendek daripada waktu malam, waktu puasa berlangsung lebih pendek. Tapi sebaliknya, apabila puasa  Ramadan jatuh pada musim panas, waktu berpuasa berlangsung jauh lebih lama, yaitu sekitar 17 jam. Ini berarti puasa di AS pada musim panas berlangsung 4-5 jam lebih lama daripada di Indonesia. Saya (dan beberapa kawan dosen IAIN dari Indonesia) pernah tinggal di New York (AS) dan Montreal (Kanada) dan melaksanakan puasa Ramadan baik di musim dingin maupun di musim panas. Walaupun terasa berat berpuasa di musim panas (menahan haus dan lapar selama 17 jam di lingkungan mayoritas yang tidak berpuasa), tapi umat Islam di kedua negara sekuler itu masih mampu melaksanakannya demi melaksanakan kewajiban kepada Tuhan.

Pada musim panas, problem berpuasa muncul bagi orang-orang Islam yang tinggal di negara-negara yang berdekatan dengan kutub utara (Artik). Misalnya, di kota Kiruna (terletak di wilayah Swedia paling utara), umat
muslim menghadapi problem sangat besar dan serius. Lewat situs berita Swedia, The Local, Ali Melhen (yang sudah tinggal di negara itu selama 24 tahun) mengatakan, matahari tidak pernah tenggelam di Kiruna selama bulan ini. Pertanyaannya: Apakah komunitas muslim di Kiruna wajib berpuasa selama 24 jam dalam sehari? Bukankah saat berbuka puasa itu dikaitkan dengan waktu terbenamnya matahari? Ini menjadi problem sangat besar, serius dan perlu pemecahan agar puasa itu tidak dimaknai sebagai ‘siksaan’ mental dan fisikal. Sementara Tuhan tidak membebankan kewajiban agama kepada hamba-Nya kecuali menurut kadar kemampuannya.

Solusi yang diberikan oleh ulama Syi’ah di Irak dan Iran adalah kelompok muslim-Syi’ah di Kiruna dapat mengganti puasa mereka di musim gugur dengan rentang waktu yang relatif lebih pendek. Sedang ulama Sunni memfatwakan agar warga muslim-Sunni berbuka puasa saat matahari terbenam di Mekkah (jadi mengikuti jadwal berbuka puasa waktu Mekkah). Problem besar serupa dialami juga oleh komunitas muslim di Lulea (masih di Swedia). Pada Ramadan yang jatuh pada musim panas kali ini, mereka hanya mempunyai jeda waktu selama tiga jam antara waktu berbuka puasa dan waktu sahur. Jadi waktu puasa mereka berlangsung sangat lama dan hal ini akan menimbulkan problem bagi kesehatan dan kondisi fisik mereka.

Problem yang dihadapi oleh komunitas muslim di Kiruna dan Lulea (Swedia) juga dialami oleh umat Islam yang tinggal di Skandinavia seperti Finlandia. Mencermati isu dan permasalahan ini, Komisi Fatwa Mesir mengeluarkan fatwa (pendapat hukum) yang isinya memperbolehkan komunitas muslim yang tinggal di negara-negara Skandinavia dan kutub utara melaksanakan ibadah puasa sesuai jadwal puasa waktu Mekkah.

Dengan mengikuti jadwal puasa waktu Mekkah, maka waktu berpuasa hanya berlangsung sekitar 13 jam. Solusi yang bisa diterima akal. Ibadah adalah latihan mental-spiritual dan fisikal yang memberikan ketenangan batin, bukan hukuman dan siksaan. q- g.

KEDAULATAN RAKYAT, KAMIS KLIWON 25 JULI 2013 ( 17 PASA1946 )

Related Post

 

Tags: