oleh Faisal Ismail

Pada awal 2011, Arab Spring mengguncang keras negara-negara Arab. Gelombang gerakan prodemokrasi menggelegar dan berhasil menjungkalkan rezim-rezim represif dan otoriter di beberapa negara Arab.

Rezim represif Zainal Abidin ben Ali di Tunisia, rezim otoriter Hosni Mubarak di Mesir, dan rezim diktator Muammar Khaddafi di Libya terguling dan tumbang secara tragis di tangan kekuatan gerakan prodemokrasi. Rezim Bashar al-Assad di Suriah juga goyah, tetapi sampai sekarang masih bertahan walaupun digempur pasukan oposisi di berbagai front pertempuran. Sejak awal, gerakan masif oposisi menuntut pengunduran diri Assad, tetapi sang presiden menampik mentah-mentah tuntutan oposisi.

Pada awal konflik, Presiden Assad memperlunak sikapnya dan bersedia memenuhi aspirasi dan tuntutan kelompok oposisi. Pertama, Assad mencabut undang-undang keadaan darurat yang telah diterapkan selama 50 tahun. Kedua, Assad melepaskan tidak kurang dari 200 tahanan yang sudah lama mendekam dalam penjara. Ketiga, Assad membubarkan Pengadilan Keamanan yang selama ini ditugasi mengadili para pembangkang dan kaum oposan. Keempat, Assad membolehkan demonstrasi damai. Kelima, Assad merombak kabinetnya.

Tapi kelompok oposisi tidak puas dengan pelonggaran sikap politik Assad. Kelompok oposisi terus menekan dan hendak menumbangkan Assad. Konflik politik di Suriah telah menjerumuskan negara itu ke dalam perang saudara yang dibumbui sentimen sektarian. Pijar-pijar sektarianisme inilah yang secara dominan telah menyebabkan konflik dan perang saudara di Suriah menjadi lebih eskalatif dan destruktif.

Rezim Assad yang berbasis ideologi Alawiyin (didukung Iran yang beraliran Syiah) berkonfrontasi sengit dengan kaum pemberontak yang berbasis aliran Sunni (yang disokong Arab Saudi). Bagi kelompok oposisi, yang dimaksud reformasi politik dan tatanan pemerintahan berarti Assad harus turun dari kursi kepresidenan. Di pihak lain, Assad tetap gigih dan ngotot mempertahankan dinasti, rezim, dan harga diri politiknya yang diwarisi sang presiden dari ayahnya (Hafez al- Assad) pada Juli 2000.

Jadi Presiden Bashar Assad telah duduk manis di kursi kepresidenan selama 13 tahun. Kelompok-kelompok oposisi membentuk Dewan Nasional Suriah sebagai wadah dan gerakan yang bertujuan menumbangkan Presiden Assad dan rezimnya. Pasukan oposisi berhasil merebut beberapa kota strategis, sementara pasukan pemerintah memukul mundur dan membombardir pasukan oposisi. Kedua pihak saling klaim menguasai beberapa kota strategis.

Damaskus merupakan ajang pertempuran sengit antara tentara Suriah dan pasukan pemberontak. Perang saudara dengan menggunakan senjata berat terus berkecamuk. Dalam konflik yang telah berlangsung selama lebih dari dua tahun ini, diperkirakan sudah 100.000 orang, termasuk anak-anak, tewas dalam perang saudara yang berkuah darah ini. Ribuan warga Suriah mengungsi antara lain ke Lebanon akibat perang saudara ini.

Untuk menekan Suriah agar menghentikan pembantaian terhadap rakyat, AS dan negara-negara Barat menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Suriah karena rezim Damaskus dinilai melakukan “pembunuhan” terhadap rakyat sipil dalam jumlah yang besar. Akibat embargo ini, Suriah tidak dapat menjual minyaknya ke Uni Eropa sehingga kehilangan pendapatan negara sebesar 2 miliar dolar AS.

Muncul usulan dari Prancis agar Barat melakukan intervensi militer ke Suriah, tetapi AS tidak menyetujuinya. Rusia dan China juga menolak intervensi militer Barat ke Suriah. Dalam pada itu, Suriah didepak dari keanggotaan Liga Arab sehingga semakin terkucil dari segi politik, ekonomi, dan pergaulan politik regional dan internasional. AS dan Uni Eropa memperingatkan Assad untuk tidak menggunakan senjata kimia melawan pasukan oposisi.

Situasi politik yang panas dan eksplosif di Suriah telah menyulut konflik Suriah dengan Turki (negara tetangganya). Turki merasa terancam dengan bara konflik yang terjadi di Suriah. Atas permintaan Turki, NATO menempatkan rudal patriotnya dan tentaranya di perbatasan Suriah-Turki. Di tengah- tengah kecamuk konflik ini, beberapa petinggi militer dan komandan polisi Suriah (Letjen Abdul Aziz al-Shalal) membelot.

Dilaporkan lebih dari 2000 tentara Suriah membelot ke Yordania. PM Riad Farid Hijab juga membangkang dan membelot ke Yordania. Walaupun ditinggalkan sejumlah tentara dan petinggi militernya, masih banyak tentara Suriah yang loyal kepada Assad, karena itu posisi Assad belum benar-benar terancam sampai sekarang ini. ***

Secara sosial-politik dan ekonomi, Suriah benar-benar mengalami kehancuran. Gedung, rumah, bangunan, dan fasilitas umum remuk berantakan. Ekonomi Suriah juga remuk akibat perang sipil yang belum bisa diprediksi kapan akan berakhir. Dalam himpitan krisis demikian, Assad secara mental psikologis menghadapi tekanan politik dan militer yang bertubi- tubi, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Dalam menghadapi krisis sosial-ekonomi, kemelut politik, dan perang sipil yang berkuah darah ini, Assad bersumpah tidak akan meninggalkan negaranya. Hidup atau mati, ia akan tetap bertahan di Suriah. Assad tampaknya bertekad untuk mempertahankan dinasti dan harga diri politiknya melawan kaum oposisi. Assad menyebut kelompok oposisi sebagai “kelompok teroris” yang hendak menumbangkan dirinya, dinasti, dan rezimnya.

Mampukah Assad mempertahankan rezim dan dinastinya atau dia akan tumbang mengalami nasib tragis seperti Ben Ali, Mubarak, dan Khaddafi? Pertempuran antara tentara loyalis Bashar Assad melawan pasukan oposisi terus berlanjut dan belum ada titik cerah penyelesaian damai dalam waktu dekat ini. Akhir-akhir ini, posisi Assad tampak semakin kuat karena dia mendapat dukungan dan bantuan pasukan Hezbollah (dari Lebanon yang beraliran Syiah).

Demi Assad, pasukan Hezbollah (sekitar 3000 personel) melibatkan diri dalam kancah pertempuran melawan tentara oposisi. Menteri-menteri Uni Eropa kini sedang bersidang dengan agenda hendak memasukkan Hezbollah sebagai kelompok teroris.

Pertempuran tentara Suriah versus oposisi tidak mengenal waktu, di bulan Ramadan pun berkobar. Di sebuah desa Sunni, 13 keluarga mati dibantai. Pertanyaannya: Arab Spring tidak berlaku dan tidak mempan terhadap Assad?

Dimuat di Koran Sindo, 3 Agustus 2013

Related Post

 

Tags: