“Sudahkah dakwah-dakwah di masyarakat mendorong kita untuk menjadi dan menguatkan masyarakat Bhinneka Tunggal Ika, masyarakat yang warna-warni?” demikian pertanyaan pemantik dari Dr. Waryono selaku Dekan ketika membuka  Studium General Fakultas Dakwah & Komunikasi (FDK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

                Bertempat di Convention Hall Lt. 2, FDK UIN Sunan Kalijaga pada hari Senin 9 September 2013, menyelenggarakan Studium General yang menjadi kegiatan rutin Fakultas dalam menyambut mahasiswa baru. Dengan tema Dakwah Transformatif-Progresif untuk Mewujudkan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, Studium General ini menghadirkan Moh. Sobary (budayawan) dan Abdur Rozaki (praktisi-akademisi).

                Dalam sambutannya, Dekan menyinggung tentang kondisi kontemporer dakwah di Indonesia yang belum transformatif. Beliau menyinggung fenomena dakwah yang menegasikan dan meniadakan komunitas masyarakat marginal di dalam Islam, seperti kasus peniadaan kelompok Syiah di Sampang Madura kemudian Ahmadiyah. Melalui kegiatan studium general dengan tema ini diharapkan mahasiswa baru mendapatkan pencerahan, wawasan, sekaligus orientasi terkait dengan dakwah.

                Moh. Sobary selaku narasumber pertama menyinggung tentang dakwah transformatif progresif untuk berbudaya. Sketsa pertama yang harus dipahami adalah konsepsi tentang dakwah transformatif. Sebetulnya semua corak dakwah haruslah transformatif, apapun sarananya. Dakwah-dakwah permulaan di era Mekkah itu sangat transformatif dan revolusioner, bukan hanya transformasi dalam pengertiannya yang mengubah tatanan, pola pikir hidup. Dampak dari dakwah transformatif yang sudah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW itu seperti bagaimana Islam bisa menguasai Cordoba di Eropa selama 500 tahun. Kalau dakwah transformatif, mestinya bisa menimbulkan riak-riak dan gelombang perubahan dalam masyarakat.

                Menurut Sobary, dakwah itu tidak harus ceramah, dakwah itu tidak harus baiat, dan tidak harus syahadat. “Apa gunanya syahadat didahulukan jika tidak ada kesadaran makna didalamnya”, demikian pertanyaan yang diajukannya. Dakwah transformatif merupakan dakwah yang bukan biasanya, bukan konvensional, bukan dakwah di mimbar, tetapi dakwah untuk menata kehidupan dan merubah cara-cara hidup. Ditambahkannya bahwa menerapkan iman dalam tataran hidup sehari-hari itu jauh lebih sulit daripada dalam ritual sholat.

                Berkaitan dengan konsep rahmatan lil alamin,“Rahmat bagi semesta alam itu kalau Anda bisa membangun peradaban di tengah masyarakat”, demikian ujar Sobary. Selain itu perlu ada militansi kepada kebenaran. Contoh bentuk konkret dakwah transformasi misalnya bagaimana KH Ahmad Dahlan, sekali haji dan pulang dari Mekkah terus mendirikan Muhammadiyah yang hingga kini mencerahkan masyarakat muslim, begitupun misalnya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang pulang dari Mekkah lantas mendirikan NU.

                Karena itulah dalam dakwah transformatif, pusat kegiatan tidaklah harus di masjid. Begitupun dakwah tidak harus mencari popularitas. Untuk mewujudkan dakwah transformatif itu maka kita harus menjadi orang yang militan, memiliki militansi dalam meniru perilaku nabi seperti jujur, amanah, dan sebagainya, kalau kita bisa menjalankan itu semua maka kita sudah menjalankan setengah kenabian.

                Narasumber kedua, Abdur Rozaki, memaparkan tentang Komodifikasi Islam: Kesalehan dan Pergulatan Identitas di Ruang Publik. Komodifikasi Islam disini mengacu pada pengertian Greg Fealy, dengan merujuk pada kamus bahasa Inggris Oxford tentang pengertian commodity (barang jualan) adalah sesuatu yang (1)memiliki kualitas “diinginkan atau “berguna” dan (2) benda jualan atau “obyek” perdangangan. Jadi komodifikasi islam dapat dimaknai sebagai komersialisasi (memperdangangkan) Islam atau berbaliknya keimanan dan simbol-simbolnya menjadi sesuatu yang bisa diperjual belikan untuk mendapatkan untung.

                Beberapa indikasi komodifikasi Islam itu bisa dilihat pada beberapa hal:

Pertama,Industri Cybermedia Online: Dari Fatwa Online sampai Bisnis SMS dakwah.Cyber Islam yang kini tengah berkembang membuat kalangan muslim dapat berinteraksi satu sama lain dalam mengakses dan mendistribusikan infomasi mengenai Islam ke seluruh dunia. Adanya E-fatwa (fatwa elektronik) yang disediakan oleh para sarjana agama secara online memberikan akses pada kalangan Muslim di Indonesia mengenai beragam pendapat ihwal Islam dan penafsiran-penafsirannya yang berbeda dari beragam sumber organisasi-organisasi keagamaan.

                Kedua,  Industri Spritual: Pasar Ceramah di Televisi. Dalam dekade terakhir ini bermunculan para da’i yang menjadi ikon media televisi dan memiliki pengaruh luas di kalangan pemirsa muslim. Diantaranya memang yang paling terkenal adalah Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), Ustad Arifin Ilham, Ustad Uje, berikutnya yang terbaru adalah Ustadz Maulana.

                Ketiga,  Industri Hiburan: dari Cinema Hingga Karya Sastra. Booming pasar Islam lainnya yang tidak pernah ditemukan pada dekade sebelum ini adalah mulai menjamurnya produksi film berbasis cerita Islam dan aneka penerbitan berupa buku novel dan majalah Islami lainnya.Kini film dengan setting dan alur cerita keberislaman mulai bermunculan dan terus mengundang banyak peminat komunitas muslim, seperti film tentang kisah Ahmad Dahlan karya Hanung Brmantyo dan Masjid Lima Menara karya Anwar Fuadi yang mengisahkan tentang cerita santri di pondok modern Gontor.

                Keempat, Industri Keuangan Syariah. Adanya Undang-Undang Keuangan Islam tahun 2008, juga telah menciptakan dinamika yang lebih kondusif terhadap adanya investasi, keuangan dan kredit Islam untuk lebih tumbuh perdagangan saham syariah lagi di masa depan.  

                Setelah pemaparan dari kedua narasumber, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang memancing antusiasme mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan.

                Kegiatan studium general yang dimulai sejak pukul 09.00 WIB dan diikuti 541 mahasiswa baru dari semua jurusan (KPI, BKI, MD, PMI, dan IKS) ini berakhir pada pukul 12.00 WIB setelah sebelumnya diadakan kegiatan pemberian cinderamata yang langsung diberikan oleh panitia kepada kedua narasumber.