Hamdan Daulay, dosen Jurusan KPI Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

GERAKAN kerukunan beragama menjadi program penting Kementerian Agama di akhir tahun 2013. Di berbagai kota besar di Indonesia, Kementerian Agama sudah memulai aksi gerakan kerukunan tersebut dengan mengadakan dialog, diskusi keagamaan, pertemuan tokoh agama, kegiatan sosial, hingga acara jalan sehat.

Di Yogyakarta beberapa hari yang lalu, gerakan kerukunan juga sudah dilaksanakan dengan kehadiran Menteri Agama, tokoh-tokoh agama, rektor perguruan tinggi dan juga dukungan media massa. Walaupun Yogyakarta terkenal sebagai kota yang rukun, namun gerakan kerukunan menurut Menteri Agama, tetap penting dilaksanakan di tengah pluralitas yang ada. Karena sesungguhnya esensi pembinaan kerukunan tidak boleh berhenti dan tidak hanya ketika terjadi gejolak, namun setiap saat gerakan kerukunan harus tetap dilaksanakan.

Media massa memiliki andil yang cukup besar dalam membangun budaya di tengah masyarakat, termasuk dalam budaya kerukunan beragama. Berita yang disajikan oleh media massa memiliki pengaruh dalam menentukan bentuk budaya yang dianut oleh masyarakat. Dengan demikian media massa juga memiliki kaitan yang sangat erat dengan persoalan kerukunan umat beragama. Manakala media massa menyampaikan informasi yang sejuk, damai dan objektif, maka akan bisa membantu terciptanya kerukunan beragama di tengah masyarakat.

Menurut Mukti Ali, kehadiran media dan kualitas berita sangat menentukan terwujudnya budaya yang rukun di masyarakat. Sebagai masyarakat yang plural dengan berbagai etnis dan agama, sesungguhnya pers bisa mengupayakan dan memprioritaskan nilai-nilai perekat persatuan dan kesatuan. Upaya meningkatkan tiras sudah merupakan suatu yang harus diperjuangkan dalam suatu penerbitan. Namun masalahnya, upaya meningkatkan nilai ekonomi dalam memanajemen industri pers jangan sampai menomorduakan nilai persatuan dan kesatuan bangsa.

Dalam perspektif budaya Islam, pers adalah bagian dari pendukung kegiatan dakwah dalam rangka mewujudkan pembangunan di tengah masyarakat. Dakwah bertujuan untuk mengajak masyarakat supaya melakukan perbuatan baik. Cara mengajak yang dimaksud dalam dakwah Islam bisa lewat media massa atau juga pesan lewat tatap muka. Dengan demikian tujuan dakwah dan tujuan pembangunan sesungguhnya berjalan seiring. Realitas masyarakat dengan pluralitas yang ada sangat besar potensi terjadinya intoleransi. Dengan demikian gerakan membina kerukunan oleh semua lapisan masyarakat, tidak mengenal kata berhenti.

Tindakan intoleransi (tidak toleran) terhadap kelompok lain, karena perbedaan keyakinan, etnis, budaya dan lain-lain, semakin marak di masyarakat. Akibat dari tindakan intoleransi tersebut membuat munculnya suasana disharmoni dan bahkan konflik antara kelompok satu dengan kelompok lain. Kasus perusakan tempat ibadah warga Ahmadiyah di Tasikmalaya, pengusiran warga syiah di Sampang, penolakan pembangunan gereja di Bogor dan Bekasi, hingga maraknya penangkapan teroris di berbagai daerah, menambah daftar panjang tindakan intoleransi dewasa ini. Kasus-kasus intoleransi tersebut kalau tidak segera diatasi dengan baik, akan bisa menjadi ‘bom waktu’ yang akan mengoyak semangat nasionalisme dan persatuan bangsa. Sejatinya nilai-nilai Islam memiliki komitmen yang tinggi pada kerukunan, toleransi dan kehidupan yang harmonis.

Kalau dikaji lebih mendalam, sesungguhnya setiap agama mengajarkan tentang kerukunan. Tidak satu pun agama yang
mengajarkan konflik. Namun dalam praktiknya konflik internal dan antarumat beragama terkadang tidak bisa dihindari. Konflik itu bisa terjadi karena emosi umat yang tak terkendali. Untuk menghindari terjadinya konflik antar umat beragama, perlu terus ditingkatkan gerakan kerukunan oleh semua komponen masyarakat.

Gerakan kerukunan yang digagas kementerian agama ini sungguh tepat dan patut didukung di tengah pluralitas yang ada. Lewat gerakan kerukunan ini menjadi pesan bagi semua pihak bahwa sangat tidak pantas menyebar permusuhan dengan mengatasnamakan agama. Aktualisasi dari pembinaan umat beragama sesungguhnya sudah dilakukan dengan baik. Tokoh-tokoh agama dengan tidak mengenal lelah sudah memberi khotbah dalam rangka membina umat. Lewat pembinaan tersebut, umat beragama diharapkan bisa menjadi kelompok masyarakat yang santun, toleran serta mencintai kerukunan dan perdamaian. Umat beragama yang taat tentu tidak akan memusuhi umat agama lain, walaupun ada perbedaan di antara mereka.

Kedaulatan Rakyat, Jumat, 29 November 2013

Related Post

 

Tags: