oleh FAISAL ISMAIL, Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

KORAN SINDO, 13 November 2013, memuat artikel Prof Bambang Pranowo berjudul “Allah, Bahasa, dan Fakta” sebagai jawaban terhadap tanggapan saya yang bertajuk“ Allah Milik Semua Agama?” (KORAN SINDO, 2 November 2013). Prof Bambang tetap kukuh berpendirian bahwa “… kata Allah itu sangat universal. Bisa dipakai siapa saja, agama apa saja, dan pandangan apa saja.” (artikel selengkapnya lihat bawah)

Berikut ini saya turunkan lagi catatan kritis. Pertama, tentang Allah dan ilah. Kata Allah dan ilah jelas tidak sama. Secara lughawi, kata Allah berasal dari kata Arab ilah (tuhan), mendapat awalan “al,” sehingga menjadi al-ilah.Kata alilah kemudian di-idghom-kan dan dilafazkan “Allah” (Tuhan itu). Kata Allah bersifat ma’rifah, menunjukkan zat yang sudah tertentu, spesifik, dan pasti. Sedangkan kata ilah bersifat nakirah, berkonotasi umum dan tidak spesifik. Perhatikan teks kalimat syahadat: “la ilaha illa Allah”(tidak ada ilah selain Allah).

Prof Bambang menyamakan begitu saja kata Allah dengan ilah, dan memaknai dua kata itu: tuhan. Prof Bambang lantas berlogika, kata Allah itu bersifat universal, bisa dipakai siapa saja, agama apa saja, dan pandangan apa saja. Dari sini bermula “kerancuan” logika Prof Bambang karena menyamakan kata Allah dengan ilah, mengidentikkan yang ma’rifah (Allah) dengan yang nakirah (ilah). Tinjauan gramatika diperlukan untuk memahami pemakaian kata Allah dan ilah itu secara baik dan benar.

Kedua, tentang Allah Milik Semua (semua agama dan semua orang) yang menjadi tesis Prof Bambang. Saya menolak tesis beliau. Setiap orang Islam atau orang yang baru masuk Islam sudah pasti mengucapkan dua kalimat syahadat yaitu asyhadu an la ilaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah (aku bersaksi tidak ada ilah/tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah).

Itu artinya, orang baru bisa dikatakan percaya, menyembah, dan “memiliki” Allah kalau dia beriman kepada-Nya yang dibuktikan dengan membaca kalimat syahadat. Kalau dia tidak membaca syahadat, sangat mustahil dia mengenal, menyembah, dan “memiliki” Allah. Mengenal saja tidak, apalagi memercayaidan “memiliki” Allah. Keimanan kepada Allah itu pun harus diikuti dengan keimanankepada Muhammad sebagai utusan Allah.

Dua kalimat syahadat itu harus dipercayai secara utuh yakni percaya kepada Allah dan percaya kepada Muhammad sebagai utusan-Nya. Beriman kepada Allah tanpa percaya kepada Muhammad adalah nonsense. Begitu sebaliknya, percaya kepada Muhammad tanpa beriman kepada Allah juga omong kosong. Syahadatain adalah entry point untuk mengenal, mempercayai, dan “memiliki” Allah.

Faktanya adalah kaum animis yang mempertuhankan benda alam (pohon, gunung, petir, dan sebagainya). Mereka “tidak” membaca syahadat. Karena itu, mereka tidak mengenal, tidak percaya, dan “tidak” memiliki Allah. Analog dengan fakta ini adalah umat Hindu atau pemeluk agama Kaharingan. Umat Hindu atau penganut Kaharingan tidak membaca syahadat, berarti mereka tidak percaya, tidak menyembah, dan “tidak” memiliki Allah.

Pendapat Prof Bambang yang mengatakan bahwa Allah itu milik semua agama dan semua orang (tentunya termasuk kaum animis, umat Hindu, dan pemeluk agama Kaharingan yang saya contohkan ini) pendapat sinkritis yang amat berbahaya terhadap kemurnian akidah Islam. Saya bisa menerima kalau dikatakan kaum animis, umat Hindu, pemeluk Kaharingan (dan komunitas agama yang berkepercayaan sejenis) memercayai dewa, dewi, atau tuhan (tapi bukan Allah).

Ketiga, tentang Allah Tuhan Seluruh Alam (Allahu Rabbul Alamin). Ayat ini dirujuk oleh Prof Bambang untuk menjustifikasi universalitas kata Allah dan berlogika bahwa Allah bukan sekadar Tuhan untuk orang-orang yang menjadi pengikut Nabi Adam sampai Muhammad. Jika Allah berfirman bahwa Dia adalah Tuhan Seluruh Alam, hal itu tidak berarti seluruh manusia ber-Allah kepada-Nya.

Faktanya, di dunia ini ada orang ateis, agnostik, animis, sinkritis, politeistik, musyrik, kafir, dan berakidah tauhid (monoteistik). Hanya orang yang beriman kepada Allah sajalah yang dapat disebut orang beriman kepada- Nya dengan cara mengikuti ajaran para rasul dan nabi (sejak Nabi Adam sampai Muhammad).

Di luar itu orang-orang ateis, agnostik, animis, sinkritis, politeistik, kafir, dan musyrik. “Password” memercayai Allah adalah syahadat (tiada tuhan selain Allah) yang diajarkan oleh para nabi (termasuk Nabi Muhammad) yang menjadi fondasi pokok dalam setiap agama tauhid. Lagi, logika Prof Bambang macet.

Keempat, tentang pemakaian kata Allah oleh umat Kristiani dan Yahudi. Kalau dibaca secara cermat tulisan saya “Allah Milik Semua Agama?,” ini sudah terjawab. Dalam artikel tersebut, saya tegaskan kata Allah dipakai untuk menyebut nama Tuhan dalam kepercayaan agama samawi/agama tauhid (agama yang dibawa Nabi Adam sampai Nabi Muhammad yang semuanya berjumlah 25 nabi).

Dari 25 nabi itu terdapat Nabi Musa dan Nabi Isa (Yesus Kristus) yang diutus kepada umatnya masingmasing dan mengajarkan kepercayaan kepada Allah. Jadi, pemakaian kata Allah oleh umat Yahudi (umat Nabi Musa) dan umat Nasrani (umat Nabi Isa) boleh saja. Argumen ini sekaligus merupakan “ketidaksetujuan” saya terhadap Pengadilan Tinggi Malaysia yang melarang umat Kristen memakai kata Allah di sana.

Kelima, tentang “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa” dalam Pembukaan UUD 1945. Karena perumusnya banyak yang muslim, itulah “pengaruh” mereka dalam merumuskan pembukaan UUD itu. Sebenarnya banyak kata Arab yang dicoret dari rancangan Pembukaan UUD itu misalnya kata “mukaddimah” diganti “pembukaan”. Memang, kata Allah dalam Pembukaan UUD 45 itu diterima oleh penduduk nonmuslim, tapi tidak berarti dipercayai dan diimani.

“Password” memercayai Allah adalah syahadat. Yang tidak bersyahadat tidak memercayai Allah. Tidak setiap tuhan adalah Allah, tapi Allah sudah pasti Tuhan. Baik Prof Bambang, kita setuju untuk tidak setuju. Bagimu pendapatmu dan bagiku pendapatku. Salam.

Koran Sindo, Sabtu,  16 November 2013  −  08:56 WIB

========

Artikel yang ditanggapi:
Allah, Bahasa, dan Fakta
oleh M BAMBANG PRANOWO,
Guru Besar Sosiologi Agama UIN, Ciputat/Rektor Universitas Mathla’ul Anwar, Banten

Artikel saya berjudul “Allah Milik Semua” (KORAN SINDO, 26/10) mendapat tanggapan Prof Faisal Ismail, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, yang mempersoalkan gramatika bahasa Arab dari kata Allah (ilah dan al-ilah).

Karena terjebak pada masalah gramatika, tanggapan Prof Faisal lepas dari konteks masalah yang terjadi di Malaysia tersebut. Tanggapan Prof Faisal terjebak pada persoalan gramatika linguistik bahasa Arab, padahal kata ilah dan al-ilah (allah) secara sosio-antropologis mengalami perubahan makna dari waktu ke waktu.

Belum lagi jika kata tersebut terkait konteks-konteks sosial, politik, dan antropologis—maknanya bisa berubah dan sangat dinamis. Saya tidak akan membahas kata ilah dan turunannya secara gramatik-linguistik dalam bahasa Arab. Yang ingin dijabarkan adalah betapa kata ilah dan al-ilah (Allah) sebetulnya bersifat umum dan dipakai semua agama.

Sayangnya, di Malaysia—karena alasan politik—kata ilah tadi hendak dieksklusifkan hanya untuk umat Islam. Tragisnya, politisasi kata Allah di Malaysia tersebut sedikit-banyak diikuti pula oleh orang Indonesia. Beberapa dai dan ilmuwan dengan kemampuan analisis gramatika bahasa Arabnya mencoba membenarkan eksklusivitas kata Allah tersebut.

Keputusan pengadilan Malaysia untuk melarang penggunaan kata Allah oleh orang-orang non-Islam tersebut jelas mendapat tantangan dari umat beragama di negeri jiran tersebut, khususnya yang beragama Kristen. Kitab Injil dalam terjemahan bahasa Melayu (juga bahasa Indonesia), kata Allah sudah lama dipakai. Yang menarik adalah penentangan keputusan pengadilan Malaysia oleh umat Hindu setempat.

Menurut perwakilan umat Hindu Malaysia, kata Allah juga sudah lama dipakai agama tersebut. Umat Hindu mempunya bukti tertulis bahwa kata Allah telah digunakan oleh orang Hindu India untuk menamai Tuhan mereka. Kata Allah diambil dari sebutan Sanskerta untuk Dewi Dhurga (Dewi Bulan-Allah). Nama “Allah” ini sebenarnya juga terdapat dalam Kitab Suci Hindu yaitu Rigveda (Book 3 Hymn 30 V.10).

Terkait dengan polemik kata Allah, menurut cendekiawan muslim Prof Dr Nurcholish Madjid (almarhum), kata “Allah” bukan hanya eksklusif milik umat Islam. Menurut Cak Nur—panggilan akrab Prof Dr Nurcholish Madjid—orang-orang Yahudi dan Kristen juga menyembah Allah (QS Al-Hajj 22 : 40). Jika kita menengok sejarah tiga agama Samawi (Yahudi, Kristen, dan Islam), ada cukup banyak bukti bahwa kata Allah sudah digunakan jauh sebelum agama Islam diproklamasikan oleh Nabi Muhammad pada abad VI Masehi.

Artinya, ada banyak literatur yang menyebutkan bahwa kata Allah itu dipakai sebelum era Islam. Dalam berbagai literatur yang berbahasa Ibrani, mengutip penjelasan Cak Nur, ada dua nama untuk menyebut Tuhan. Yang pertama adalah Yahwe (Allah). Kedua, El sebagai awalan yang disusul dengan kata-kata seperti “El Elyon” (El atau Allah Yang Maha Tinggi, Kejadian 14:19), “El Shadai” (Allah Yang Maha Kuasa, Kejadian 17:1), dan “El Olam” (Allah Yang Maha Kekal, Kejadian 21:33).

Nama-nama yang memakai “El” inilah yang semula dikenal oleh Ibrahim, Ishak, atau Yakub. Baru pada era Nabi Musa, nama Yahwe muncul. Namun, dalam perkembangannya, nama El yang mengandung sifat Ilahi itu diterapkan untuk Yahwe. Sejumlah inskripsi Kristen yang muncul sebelum Islam juga membuktikan bahwa dalam lingkup Kristen di Timur Tengah, kata Allah itu sudah lazim dipakai, khususnya dalam doa, kebaktian, atau misa.

Pertama, inskripsi Zabad dari Suriah (512 Masehi) yang selalu diawali dengan rumusan “Bism al-Ilah” (dengan nama al-Ilah) yang lalu disusul dengan nama diri Kristen Suriah. Teks ini juga dimuat dalam buku Mukjizat Alquran oleh M Quraisy Syihab (Mizan, Bandung, 1977, halaman 92-93). Kedua, inskripsi “Umm al-Jimmal” (dari abad VI Masehi) yang diawali dengan ucapan “Allah Ghufran” (Allah Memaafkan).

Bukti lain bisa dilihat dari nama penganut Kristen sebelum Islam datang. Bertepatan dengan Konsili Efesus (431) misalnya ada seorang peserta konsili yakni uskup wilayah Harits atau Aretas yang bernama Abdelas. Nama ini aslinya berasal dari kata “Abd-Allah” (hamba Allah) yang diyunanikan.

Terlebih bagi gereja-gereja rumpun Suriah yang mempertahankan bahasa Aram (bahasa asli yang dipakai Yesus), istilah Allah sudah dipakai dalam makna monoteis, jauh sebelum munculnya agama Islam (The History of Allah, Bambang Noorsena, PBMR Andi, Yogyakarta, 2004, hal 11) (Lihat Tempo.co, 19 Oktober 2013).

***

Jika di Malaysia orang Kristen menolak keputusan Pengadilan Malaysia yang melarangnya memakai kata Allah, di Indonesia pada suatu ketika yang terjadi sebaliknya. Sebagian orang Kristen tidak menyukai sebutan Allah karena dianggap mirip dengan orang Islam.

Beberapa aliran Kristen di Tanah Air ada yang pernah menggugat penggunaan kata Allah sebagaimana tertera dalam Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) yang dipakai secara luas oleh sebagian besar umat Kristiani (Protestan). Karena terus digugat, LAI sampai membuat penjelasan resmi pada 21 Januari 1999 bahwa:

“Dalam terjemahan-terjemahan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia, kata ‘Allah’ sudah digunakan terus-menerus sejak terbitan Injil Matius dalam bahasa Melayu yang pertama (terjemahan Albert Cornelis Ruyl, 1692), begitu juga dalam Alkitab Melayu yang kedua (terjemahan Hillebrandus Cornelius Klinkert, 1879) sampai saat ini.”

Mereka yang tak puas dengan penjelasan LAI sampai menerbitkan Alkitab tersendiri, yang membuang semua kata Allah. Aliran kecil Kristen ini menerbitkan “Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru”, Indonesian Literal Translation (ILT), terbitan Yayasan Lentera Bangsa, Jakarta, 2008.

***

Sekali lagi, Prof Faisal tampaknya terjebak pada gramatika bahasa Arab tanpa memperhatikan aspek sosiohistoris– antropologis dari kata Allah tersebut. Padahal, bahasa sangat fleksibel dan perkembangannya amat dinamis. Dalam kehidupan nyata, bahasa mengikuti fakta, bukan fakta yang mengikuti bahasa. Ini artinya, faktor sosio-historis antropologis seharusnya menjadi pertimbangan dalam menganalisis makna dari kata Allah tersebut.

Di Indonesia, meski dalam Pancasila tidak tercantum kata Allah, dalam pembukaan UUD 45, kata Allah muncul pada paragraf ketiga Pembukaan UUD 45 (baca: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”).

Ternyata kata Allah tersebut diterima oleh seluruh penduduk Indonesia. Ini artinya, penduduk Indonesia yang beragama agama pun, sudah menerima kata Allah sebagai sebutan untuk Tuhannya. Kenapa demikian? Karena, semua agama pasti mempunyai Tuhan dan Tuhan dalam bahasa Arab adalah Allah. Kalau Prof Faisal memperhatikan ayat pertama surah Al-Fatihah—Alhamdulillahi Rabbil Alamin—mestinya dari ayat ini sudah cukup jelas, betapa Allah itu kata yang universal.

Allah itu Tuhan seluruh alam. Jika kemudian gramatika bahasa Arab mengotak-atiknya dengan menyebut Allah hanya milik orang Islam atau pinjam tulisan Prof Faisal—kata Allah dipakai untuk agama-agama yang dibawa para nabi, Nabi Adam sampai Nabi Muhammad—, bagaimana pula agama-agama yang tidak masuk dalam koridor batasan tersebut?

Umat Islam mestinya bersyukur karena kitab sucinya, Alquran, ketika dibaca ayat-ayat awalnya langsung menunjukkan universalitas kata Allah— Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Segala Puji untuk Tuhan Seluruh Alam.

Jadi Alquran sejak awal, di ayat-ayat paling awal, sudah menjelaskan bahwa Allah itu Tuhan untuk seluruh alam. Allah bukan sekadar Tuhan untuk orang-orang yang menjadi pengikut Nabi Adam sampai Muhammad.

Sindo, Rabu 13 November 2013

Related Post

 

Tags: