Dr. Hamdan Daulay, M.Si., MA., dosen Jurusan KPI Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga

ZAMAN edan yang pernah diramalkan  Ronggo Warsito, tampaknya kini benar-benar telah terjadi dalam panggung politik  Indonesia. Ciri-ciri zaman edan itu antara lain, sulit membedakan yang benar dengan yang salah, siapa pahlawan dan pengkhianat, siapa yang jujur dan pembohong. Moralitas elite politik semakin buram, dengan munculnya berbagai tindakan yang membingungkan rakyat. Elit politik semakin pandai bersandiwara di hadapan rakyat. Koruptor bisa berpura-pura orang baik, penuh senyum seolah tak bersalah.

Seorang koruptor bisa tampil sebagai ‘pahlawan’ dengan berbagai polesan ‘kejujuran’, keluguan, hingga mengaburkan ‘kasus korupsi’ menjadi ‘kasus politik’. Sandiwara seolah sang koruptor adalah orang bersih yang hanya menjadi korban politik rezim penguasa. Di sisi lain, koruptor juga memperkuat daya tawar politik, seolah dia memiliki informasi banyak tentang kejahatan rezim penguasa, dengan target akhir, agar kasus korupsinya tidak diusut tuntas. Rakyat begitu percaya dan mudah dikelabui dengan berbagai sandiwara yang dimainkan para elit politik pelaku korupsi. Akhirnya KPK yang mengaku dirinya bekerja fokus di jalur hukum, sepertinya  terjebak dengan sandiwara tersebut.

Betapa kontrasnya tindakan yang ditunjukkan elite politik di tengah masyarakat yang dilanda berbagai krisis dewasa ini.
Ketika  mereka mengajak rakyat hidup bersih, jujur, hemat dan sederhana, mereka justru berpoya-poya dengan tindakan korupsi, kebohongan, dan kemewahan. Realita yang demikian membuat rakyat merasa terus dibohongi dan semakin tidak percaya lagi pada tindakan dan janji-janji manis elite politik dan pejabat Negara yang begitu lihai bermain retorika. Apalagi berbagai kasus korupsi yang dilakukan pejabat Negara, mulai dari kasus Hambalang, Century, simulator SIM, pajak, korupsi migas, hingga memperjual belikan keadilan di pengadilan, telah merugikan uang negara puluhan milyar hingga triliunan rupiah.

Pada saat yang sama penderitaan dan kepedihan rakyat semakin memilukan. Tatkala ada orang miskin yang mati karena tak mampu/ditolak berobat di rumah sakit, justru korupsi terjadi di bidang kesehatan. Ketika banyak putra putri bangsa yang putus sekolah karena tak mampu menanggung biaya pendidikan yang semakin mahal, politisi justru mengkorupsi dana pendidikan. Ketika krisis moral dan kegersangan spiritual semakin parah melanda umat, justru proyek pengadaan al Qur’an juga menjadi lahan korupsi. Sungguh sudah sangat lengkap praktek korupsi yang terjadi di negeri ini, sehingga tidak brlebihan kalau Syafi’i Ma’arif mengatakan bahwa korupsi sudah merambah ke semua lini.

Sistem politik yang menuntut seorang politisi harus menyiapkan modal besar untuk mendapatkan kursi kekuasaan, justru akan menyuburkan praktik korupsi di negeri ini. Karena logikanya tidak ada orang yang mau merugi dalam setiap transaksi, termasuk dalam transaksi politik. Kalau seorang caleg harus mengeluarkan modal milyaran rupiah untuk mendapatkan kursi DPR, maka ia akan berusaha  mendapatkan dana berlipat dari modal yang dikeluarkan.

Usaha untuk membangun moralitas politik memang tidaklah semudah membalik telapak tangan. Namun demikian, dengan kerja keras dan kemauan yang besar dari segenap lapisan masyarakat, moralitas politik akan bisa terwujud. Kata kuncinya adalah  kejujuran elite politik kepada rakyat, dengan mewujudkan satunya kata dengan tindakan. Politisi tidak perlu terlalu banyak bermain sandiwara politik di hadapan rakyat, dengan retorika dan  janji-janji manis yang penuh kebohongan. Rakyat sudah muak berbagai kebohongan yang dilakukan politisi selama ini.

Kedaulatan Rakyat, Rabu, 13 November 2013

Related Post

 

Tags: