oleh Faisal Ismail, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga

AGAMA di Barat sudah mengalami kemunduran. Hal-hal yang agamawi dipisahkan dari urusan duniawi. Urusan duniawi berjalan sendiri tanpa dibarengi nilai-nilai agamawi. Contoh konkretnya, pasangan suami istri karena alasan tertentu bisa menyewa rahim perempuan lain sebagai ibu pengganti (surrogate mother).

Sperma dan ovum yang telah dibuahi dari pasangan suami istri tadi ditanamkan ke dalam rahim perempuan yang telah disewa itu. Bayi yang dilahirkan dari rahim perempuan yang disewa itu menjadi milik pasangan suami istri yang menyewa rahim perempuan tersebut. Pasangan suami istri tadi membayar sewa rahim kepada perempuan tersebut sesuai kesepakatan kedua belah pihak. Walaupun agama di Barat dipisahkan dari urusan duniawi, tetapi masyarakat Barat sangat menjunjung etika sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Orang Barat tidak mau melakukan mental menerabas. Orang Barat tidak suka dan tidak mau mengganggu orang
lain. Mereka antre dengan sabar, sopan, tertib dan tidak mau mendahului orang lain yang sama-sama antre. Bagi mereka, mendahului orang lain yang sama-sama antre merupakan pelanggaran etika sosial dan itu tabu bagi mereka. Di Barat, etika sosial seperti ini telah ditanamkan kepada anak-anak sejak kecil, sehingga menjadi kesadaran yang mendalam dalam lubuk jiwa dan perilaku mereka. Mereka merasa ‘risih’ dan bersalah kalau mereka melanggar etika sosial itu.Hak-hak sosial orang lain sangat dihormati di Barat.

Kita di Indonesia berperilaku dan berulah lain. Diminta antre ketika menerima uang zakat, para (calon) penerima malahan tidak tertib, saling berdesakan, saling mendahului dan berebut untuk dapat menerima zakat lebih dulu. Akibatnya, ada yang terinjak dan jatuh pingsan. Peristiwa tragis yang sama terjadi ketika para (calon) penerima daging kurban saling berebut duluan. Akibatnya sangat fatal, ada yang meninggal dunia. Tragedi ini terjadi di halaman Masjid Istiqlal tahun ini. Kapan masyarakat kita bisa tertib dan beretika sosial yang baik ? Dalam hal merokok, kalangan masyarakat kita belum memiliki kepekaan etika sosial. Peraturan daerah (Perda) sudah lama dikeluarkan dan disosialisasikan secara luas. Ditambah lagi dengan penempelan seruan dan gambar di dinding kantor yang berisi larangan merokok. Sebenarnya, Perda itu bukan berisi larangan merokok, tapi mengatur di mana orang boleh dan tidak boleh merokok. Jadi, orang merokok itu juga punya etika. Orang tidak boleh merokok di ruang publik yang bisa mengganggu orang lain yang tidak merokok. Orang boleh merokok di tempat yang jauh dari ruang publik.

Di suatu universitas Islam negeri di Yogyakarta, seruan dan rambu-rambu dipasang di dinding setiap fakultas yang ditujukan antara lain kepada para mahasiswa untuk tidak merokok di koridor-koridor ruangan kantor. Para mahasiswa-perokok tentunya secara terang benderang sudah membaca dengan mata kepala mereka sendiri tentang peraturan tidak boleh merokok itu. Tapi aneh, masih banyak mahasiswa yang tidak peka, tidak sensitif dan tidak peduli dengan peraturan tidak boleh merokok itu. Mereka menghisap rokok dalam-dalam dan mengepulkan asap rokok mereka di ruang publik di kampus itu. Mereka merasa nikmat, tetapi sekaligus menebar asap racun rokok kepada guru besar, dosen, karyawan dan mahasiswa lain yang tidak merokok. Akibat menghirup asap rokok setiap hari, yang tidak merokok menjadi perokok pasif. Tentu, kalangan yang tidak merokok di kampus universitas itu merasa terganggu dan bahkan dirugikan karena disuguhi asap rokok yang sebenarnya tidak mereka harapkan.

Sudah saatnya kita menjunjung tinggi dan menegakkan etika sosial di kampus. Lebih- lebih lagi, di suatu kampus universitas yang berlabel Islam. Para mahasiswa-perokok hendaknya merokok di tempat/halaman yang jauh dari ruang publik. Di kampus-kampus universitas Barat, para dosen, karyawan dan mahasiswa yang merokok melakukannya di tempat/halaman yang jauh dari ruang publik. Ada nuansa ‘Islami’ di kampus sekuler. Masa di kam pus Islam tidak bisa diciptakan nuansa ‘Islami’?

Kedaulatan Rakyat, 16 Desember 2013

Related Post

 

Tags: