Hamdan Daulay, dosen Jurusan KPI Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

SETIAP tanggal 3 Januari diperingati sebagai hari kelahiran atau Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama RI. Di tengah pluralitas yang ada di negara ini, tentu dimaklumi betapa berat tugas yang diemban oleh kementerian agama, khususnya dalam menjaga kerukunan di tengah perbedaan agama, paham dan aliran yang ada di tengah masyarakat. Ancaman dan gangguan terhadap kerukunan senantiasa ada dan harus diwaspadai, baik menyangkut internal umat beragama antarumat beragama dan juga hubungan umat beragama dengan pemerintah.

Tidak hanya persoalan kerukunan umat beragama yang menjadi tugas berat Kemenag saat ini, namun juga manajemen kerja Kemenag begitu banyak mendapat sorotan masyarakat. Mulai dari persoalan korupsi, pengelolaan haji, hingga sistem kerja pegawai Kantor Urusan Agama (KUA) yang dinilai banyak menerima gratifikasi dalam urusan pernikahan.

Tindakan intoleransi terhadap kelompok lain, karena perbedaan keyakinan, etnis, budaya dan lain-lain, kini semakin marak di tengah masyarakat. Akibat tindakan intoleransi tersebut mucul suasana disharmoni, dan bahkan konflik antara kelompok satu dengan kelompok lain. Kasus pengusiran warga syiah di Sampang (Madura), perusakan tempat ibadah warga Ahmadiyah di Tasikmalaya, penolakan pembangunan gereja di Bogor dan Bekasi, hingga maraknya ancaman teroris di berbagai daerah, menambah daftar panjang tindakan intoleransi dewasa ini. Kasus-kasus intoleransi tersebut kalau tidak segera diatasi dengan baik, akan bisa menjadi ‘bom waktu’ yang akan mengoyak persatuan bangsa. Demikian pula dengan paham teroris yang dalam perjuangannya sering mengatasnamakan agama, dan menafsirkan ‘jihad’ dengan sempit dan subjektif, menjadi tantangan serius dalam mewujudkan kerukunan di tengah masyarakat.

Dalam realitanya, dakwah yang hadir saat ini di tengah umat masih dominan dengan retorika. Artinya, belum bisa mewujudkan satunya kata dengan tindakan. Dakwah juga terkadang tidak bisa memberi kesejukan kepada umat, justru terkadang menimbulkan keresahan manakala dakwah yang disampaikan sangat eksklusif dengan menganggap kelompoknyalah yang paling benar dan kelompok yang lain salah dan sesat. Apalagi saat ini semakin banyak kelompok dan ormas keislaman di tengah masyarakat, membuat paham dan aliran pemikiran juga semakin bervariasi. Ketika model dakwah yang disampaikan oleh ormas keislaman itu bisa member kesejukan dan kedamaian di tengah masyarakat, tentu tidak ada masalah dan justru member dampak positif.

Namun manakala model dakwah disampaikan sangat eksklusif dan menganggap kelompoknyalah yang paling benar, dan kelompok lain salah dan sesat, akan bisa menimbulkan masalah dan keresahan, sehingga akan menimbulkan dampak negatif di tengah masyarakat. Sesungguhnya budaya masyarakat Indonesia yang pluralistik ini terkenal sangat toleran, santun dan menghargai perbedaan yang ada. Kemauan untuk menghargai dan menghormati perbedaan adalah merupakan bagian dari kebudayaan yang sangat luhur.

Masyarakat yang menghargai nilai-nilai budaya tidak akan terjebak pada konflik, karena bagi masyarakat yang berbudaya, perbedaan adalah suatu keindahan yang harus dipelihara dengan baik. Kebudayaan merupakan segala sesuatu yang diciptakan oleh akal budi manusia. Manusia dan kebudayaan tidak bisa dipisahkan, karena keduanya merupakan suatu jalinan yang saling erat berkait. Kebudayaan tidak akan ada tanpa ada masyarakat dan tidak ada satu kelompok manusia pun, betapa terasing dan bersahajanya hidup mereka, yang tidak mempunyai kebudayaan.

Dalam kasus konflik umat beragama misalnya, faktor penyebabnya bukanlah dari doktrin agama, melainkan bisa karena faktor politik dan sosial ekonomi. Kesenjangan ekonomi antara penganut agama yang satu dengan penganut agama yang lain, bisa menjadi sumber konflik antarumat beragama. Demikian pula dengan perlakuan politik yang dianggap kurang adil berdasarkan agama yang dianut, bisa merambah pada terjadinya konflik antar umat beragama. Sebab dengan perlakuan yang dianggap kurang adil, akan membuat kecemburuan dari kelompok satu terhadap kelompok lain. Kalau masyarakat sudah terjebak pada kondisi intoleransi dan disharmoni, akan membuat masyarakat terjebak pada konflik yang menakutkan.

Kedaulatan Rakyat, Jumat, 3 Januari 2014

Related Post

 

Tags: