oleh Faisal Ismail, Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Muhammad lahir pada 12 Rabiulawal, Tahun Gajah/Amul Fil (20 April 571 M). Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muthalib dan ibunya bernama Aminah binti Wahab. Ayahnya telah meninggal dunia ketika Muhammad masih dalam kandungan sang ibu.

Muhammad lahir sebagai anak yatim, sama sekali tidak mengenal sosok dan wajah sang ayah. Bunda Aminah dengan penuh cinta mengasuh Muhammad. Ketika Muhammad berumur enam tahun, sang bunda meninggal dunia. Muhammad kecil diasuh oleh kakeknya tercinta, Abdul Muthalib, pemuka suku Quraisy yang terkenal dan berpengaruh. Tak lama kemudian, Abdul Muthalib pun tutup usia.

Muhammad diasuh oleh pamannya tercinta, Abu Thalib, yang mengajarinya berniaga. Pengalaman dagangnya itu mengantarkan perkenalannya dengan Khadijah binti Khuwailid. Muhammad membawakan barang dagangan Khadijah ke negeri Syam dan bisnis ini memberinya keuntungan yang sangat menggembirakan. Muhammad memberikan semua keuntungan itu kepada Khadijah. Hubungan bisnis ini akhirnya mengantarkan kedua insan itu sepakat untuk hidup dalam ikatan pernikahan.

Misi Suci 

Predikat ”jahiliah” diberikan kepada masyarakat Arab pra- Islam karena akidah dan akhlak mereka sudah bobrok. Di tengah kehidupan kaumnya yang sudah dekaden, Muhammad memperlihatkan personalitasnya yang penuh kejujuran, kebenaran, dan keadilan. Ia digelari Al-Amin (Yang Tepercaya). Pada waktu Muhammad berusia 30 tahun, pecahlah perselisihan antarkabilah Quraisy tentang siapakah pemimpin mereka yang berhak mengembalikan Hajar Aswad ke tempat asalnya setelah mereka selesai memperbaiki Kakbah.

Pertentangan antarkabilah semakin sengit dan nyaris menimbulkan pertumpahan darah. Akhirnya kabilah-kabilah Quraisy sepakat menyerahkan persoalan krusial itu kepada Muhammad untuk diselesaikan. Muhammad lantas menghamparkan kain dan meletakkan Hajar Aswad di atasnya. Kemudian Muhammad menyuruh wakil-wakil kabilah memegang tepi kain dan secara bersama-sama mengangkat Hajar Aswad ke posisi asalnya.

Setelah sampai di tempatnya semula, Muhammad meletakkan Hajar Aswaditu. Mereka semua sangat puas dengan cara penyelesaian Muhammad yang sangat demokratis itu. Pertumpahan darah pun dapat dihindari di antara mereka. Itulah potret Muhammad: integritas pribadi yang merangkum segala sifat keadilan, keterpujian, dan kelembutan yang dimotivasi oleh kebesaran jiwa, sikap toleransi, dan demokrasi yang mengagumkan dalam menyelesaikan persoalan yang sangat pelik sekali pun.

Muhammad menerima wahyu pertama di Gua Hira’ pada 17 Ramadan pada usia 40 tahun saat ia melakukan renungan yang sangat intens. Ketika itulah Malaikat Jibril menurunkan wahyu (Surah al-Alaq: 1-5) seraya berseru, “Bacalah!” Muhammad menjawab, “Saya tidak bisa membaca.” Kemudian Malaikat Jibril menuntun Muhammad membaca ayat-ayat itu. Beberapa waktu kemudian, Malaikat Jibril datang lagi kepada Muhammad dan menyampaikan wahyu (Surah al-Muddatstsir: 1-7). Wahyu inilah yang berisi perintah Allah kepada Muhammad untuk menyeru manusia ke jalan Allah (Islam).

Misi suci Nabi Muhammad tidak terbatas kepada masyarakat Arab, tetapi juga kepada seluruh umat manusia sesuai firman Allah: “Tidaklah Kami utus engkau Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam” (rahmatan lil alamin). Mulanya Nabi Muhammad menyiarkan Islam secara diamdiam, tetapi kemudian beliau melakukannya secara terbuka. Dua puluh tiga tahun Nabi Muhammad menyiarkan agama Islam: 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah.

Hanya dalam waktu 23 tahun Nabi Muhammad telah berhasil menyiarkan Islam di Arab. Beliau melenyapkan kabilahisme, sukuisme, rasisme, dan berhasil membangun persatuan dan persaudaraan di bawah panji ukhuwah islamiah. Beliau berhasil membangun masyarakat muslim dan meletakkan dasar yang sangat kuat bagi kebangkitan kebudayaan dan peradaban Islam.

Tatanan masyarakat plural, masyarakat madani, demokrasi, dan toleransi yang dibangun dan dikembangkan Nabi Muhammad dibuktikan secara nyata dengan dilaksanakan butir-butir Piagam Madinah yang secara hakiki mengakui eksistensi komunitas Yahudi dan Arab nonmuslim serta berkoeksistensi damai dengan mereka.

Paling Berpengaruh 

Michael Hart dalam bukunya, The 100: A Ranking of the MostInfluential Persons in History” (Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh di Dalam Sejarah), menempatkan Nabi Muhammad sebagai tokoh teratas yang paling berpengaruh di pentas sejarah. Hart memakai kriteria objektif yaitu: (1) Orangnya benar-benar pernah hidup dan tidak hanya ada dalam dongeng- dongeng. (2) Ia mempunyai pengaruh terhadap generasi sekarang dan generasi yang akan datang.

(3) Prestasinya mempunyai pengaruh terhadap generasi yang akan datang dan terhadap peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. (4) Karya, ide, dan cita-citanya merupakan hasil individual dan bukan buah pikiran kolektif. Atas dasar kriteria ini, Hart menempatkan Muhammad di peringkat pertama tokoh paling berpengaruh di pentas sejarah. Hart mengomentari pribadi Muhammad, “He was the only man in history who was supremely succesful on both the religious and secular levels,” (Dialah satu-satunya manusia di pentas sejarah yang berhasil secara luar biasa baik yang menyangkut bidang keagamaan maupun bidang keduniawian).

Mengapa Hart memilih Muhammad sebagai orang pertama yang paling berpengaruh di panggung sejarah di antara 100 tokoh itu? Mengapa bukan tokoh lain seperti Yesus Kristus, Umar bin Khattab, Buddha Gautama, Albert Einstein, Lenin, Mao Tse Tung, atau Karl Marx? Hart mengajukan argumen: (1) Muhammad merupakan penerjemah tunggal Alquran, kalimat Tuhan yang diterimanya. (2) Muhammad adalah sosok pemimpin tidak hanya di bidang agama, tetapi juga di bidang politik. Sejarah mencatat, penaklukan dunia oleh bangsa Arab digerakkan oleh Muhammad.

Hart mengakui: “It is the combination of secular and religious influence which I feel entitles Muhammad to be considered the most influential single figure in human history” (Kombinasi pengaruhnya di bidang duniawi dan ukhrawi sekaligus menyebabkan Muhammad harus ditempatkan sebagai figur yang paling berpengaruh di dalam lintasan sejarah). Hart jujur dan objektif dalam mengemukakan pandangan dan penilaiannya terhadap sosok pribadi Nabi Muhammad.

Dimuat di KORAN SINDO,  14 Januari 2014

Related Post

 

Tags: