oleh Faisal Ismail, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga

Wali Sanga (Wali Sembilan) dikenal sebagai tokoh penyiar Islam di Tanah Jawa dari abad ke-14–15 Masehi. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati.

Wali Sanga inilah yang memainkan peranan strategis dalam mendakwahkan Islam di Tanah Jawa. Baik secara individual maupun secara kolektif, kiprah Wali Sanga telah membuka jalan bagi tersiarnya Islam secara luas di Tanah Jawa. Di samping Wali Sanga, ada juga penyiar Islam yang lain seperti Sunan Tembayat, Sunan Geseng, Sunan Mojoagung, Maulana Ishak, dan Sunan Prawoto.

Mereka juga berjasa dalam menyebarkan Islam di Tanah Jawa. Namun, tokoh-tokoh ini tidak dimasukkan sebagai kelompok Wali Sanga. Karya besar Wali Sanga dan para sunan yang lain dalam penyiaran Islam telah memperlihatkan hasil konkretnya sehingga Islam tersebar luas di Tanah Jawa. Untuk mengenang jasa besar Wali Sanga itu, pemerintah (dalam hal ini Depag/ Kemenag) telah mengabadikan beberapa nama Wali Sanga sebagai nama IAIN/UIN, seperti UIN Malik Maulana Ibrahim (Malang),

UIN Sunan Ampel (Surabaya), UIN Sunan Kalijaga (Yogyakarta), dan UIN Sunan Gunung Jati (Bandung). IAIN (calon UIN) Semarang memakai nama Wali Sanga yang mengakomodasi semua Wali Sanga. Ini berarti tidak satu pun Wali Sanga ditinggalkan. Sedangkan UIN Jakarta menggunakan nama Syarif Hidayatullah, nama seorang tokoh pejuang muslim di Batavia yang gigih melawan pemerintahan kolonial.

Sunan Kalijaga dan Sekaten 

Salah seorang Wali Sanga yang secara cerdas dan brilian memanfaatkan unsur budaya lokal (Jawa) untuk memudahkan penyiaran agama Islam adalah Sunan Kalijaga. Menurut ukuran zamannya, Sunan Kalijaga adalah sosok yang jenius, visioner, dan memiliki perspektif dan terobosan yang inovatif, progresif, dan konstruktif. Ia tidak melihat adanya jarak antara Islam dan budaya lokal.

Justru elemen budaya lokal harus dipadukan dan dimanfaatkan untuk kepentingan tujuan dakwah agar agama Islam bisa diterima dengan mudah oleh masyarakat luas. Dengan kata lain, pola dan “strategi” dakwah Sunan Kalijaga mengombinasikan unsur budaya lokal dengan nilai-nilai keislaman sehingga dakwahnya sangat menyentuh lubuk perasaan para penerimanya. Dalam bahasa modern sekarang, gerakan dakwah Sunan Kalijaga disebut gerakan dakwah kultural-edukatif-persuasif.

Sunan Kalijaga tidak melancarkan praktik-praktik konfrontatif, tetapi menerapkan upaya-upaya persuasif dalam gerakan dakwahnya. Ada nilai-nilai sakral dan nilainilai kultural dalam gerakan dakwah Sunan Kalijaga. Menyadari bahwa masyarakat Jawa menyenangi gamelan, Sunan Kalijaga memesan alat itu kepada seorang ahli pembuat gamelan. Seperangkat gamelan yang ia pesan itu dinamai Kiai Sekati yang akan ia pakai sebagai media dakwah untuk menyiarkan agama Islam kepada masyarakat luas di Demak dan sekitarnya.

Bisa jadi nama “Sekaten” yang sekarang ini sudah menjadi perayaan tahunan di Demak dan Yogyakarta berasal dari nama Kiai “Sekati” (nama gamelan Sunan Kalijaga). Teori lain mengatakan, nama “Sekaten” berasal dari kalimat “Syahadatain” (asyhadu anla ilaha illa Allah was asyhadu anna Muhammadan Rasulullah/ aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah). Kedua teori ini mirip, tak ada perbedaan yang signifikan.

Dalam bukunya Sekitar Wali Sanga” Solichin Salam mencatat, setelah pertemuan para Wali, di Masjid Demak diselenggarakan perayaan Maulid Nabi Muhammad. Perayaan ini antara lain diramaikan dengan rebana dan diiringi lagulagu indah yang beriramakan padang pasir (Arab). Dalam acara perayaan itulah, Sunan Kalijaga menempatkan Gamelan Kiai Sekati itu di halaman Masjid Demak. Ia dan para penabuh lainnya memainkan Gamelan Kiai Sekati itu dengan ritme dan irama yang indah dan bertalu-talu untuk menarik masyarakat mengunjungi perayaan Maulid Nabi.

Upacara ini mendapat respons positif dan sambutan meriah dari masyarakat luas. Itu berarti pola, strategi, dan gerakan dakwah kultural-edukatif persuasif yang dilancarkan oleh Sunan Kalijaga dan kawan-kawannya sukses besar. Para pengunjung diperbolehkan memasuki Masjid Demak dengan syarat sudah berwudu terlebih dulu dengan menggunakan air wudu di kolam masjid. Para pengunjung yang masuk ke masjid itu diminta melalui “Gapura” Masjid Demak (Arab: Ghafura; artinya ampunan).

Prosesi simbolik ini bermakna bahwa para pengunjung itu sudah masuk Islam, sudah bersyahadat, sudah berwudu, dan sudah mendapat petunjuk dan ampunan dari Allah. Karena itu, mereka diperbolehkan masuk masjid. Secara ritual-kultural, asalusul perayaan Sekaten di Masjid Agung Demak dan Keraton Yogyakarta bisa ditelusuri dari tradisi dan budaya yang digagas dan dirintis oleh Sunan Kalijaga. Tradisi dan budaya Sekaten kini terus diawetkan dan dilestarikan di tengah-tengah arus dan gelombang gempuran modernisasi.

Tradisi, Transformasi, dan Modernisasi 

Jika dihitung dari abad ke- 15 M, budaya Sekaten telah bertahan selama enam abad. Di Yogyakarta, Sekaten telah menjadi bagian integral budaya Keraton. Sultan membuka resmi upacara ini. Tujuh hari sebelum puncak perayaan Sekaten (Grebeg Maulud), Gamelan Kiai Guntur dan Kiai Nogo Wiloyo dikeluarkan dari nDalem Keraton dan ditabuh. Upacara pengembalian kedua gamelan itu ke dalam Keraton disebut Kondur Gongso. Prosesi berikutnya adalah Grebeg Maulud (puncak Sekaten) yang ditandai dengan dikeluarkannya tujuh macam gunungan sebagai ekspresi rasa syukur kepada Tuhan YME.

Di antara tujuh gunungan itu, satu gunungan diberikan kepada masyarakat umum (mereka saling berebut) di halaman Masjid Gedhe Kauman, satu gunungan ke Kepatihan sebagai pusat pemerintahan DIY, dan satu gunungan lagi ke Keraton Pakualaman. Sudah lama Sekaten berubah menjadi ajang bisnis, promosi, dan pariwisata yang menyedot ribuan turis lokal, domestik, dan mancanegara. Nilai, pesan, dan unsur dakwah sudah tidak terasa lagi. Tidak perlu risau. Gerakan dakwah telah digantikan oleh lembaga dakwah, pesantren, ormas muslim, dan media modern.

dimuat di Koran Sindo, 3 Januari 2014

Related Post

 

Tags: