Jogjakarta, 13 Februari 2014, FDK UIN Suka,- Hari ini (13/2) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga menyelenggarakan diskusi Fakultas edisi Februari 2014. Salah satu dosen jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Nanang Mizwar Hasyim, S.Sos., M.Si. hadir sebagai narasumber. Pokok bahasan dalam kesempatan ini adalah MEDIA dan DAKWAH, Rekonstruksi Peran Media Massa dalam Dakwah.

Diskusi ini bertujuan untuk menyegarkan kembali  posisi media sebagai penyalur informasi, pengetahuan, nilai-nilai budaya yang bebas dari komersialisasi. Prakteknya, saat ini media berparameternya pada market regulated. “Jadi bila ngomong dakwah di dalam media, dakwah atau agama islam secara umum hanya akan menjadi sebuah objek komodifikasi saja,” terang Nanang Mizwar. “Program agama di media akan menarik khalayak yang notabene mayoritas islam, sehingga ratingnya banyak. Selanjutnya berharap mendapatkan revenue yang banyak juga.”

Ketika itu dibiarkan terus menerus maka yang terjadi, berdampak pada sisi-sisi negatif dalam proses pemahaman agama. Dimana proses pemahaman tentang pengetahuan agama dahulu diperoleh dari sebuah perenungan, pembelajaran, yang membutuhkan waktu lama. Dengan adanya media massa seperti televisi, maka proses pemahaman yang terjadi bersifat instan. Dikarenakan adanya pengaruh yang kuat dari motivasi yang hanya ingin mendapatkan hiburan.
Bisa jadi media akan berubah menjadi sebuah referensi utama dalam pemahaman agama, yang menihilkan adanya referensi utama seperti lembaga agama tradisional di masyarakat seperti masjid pesantren, dll.

Masih lanjut Nanang, seharusnya dalam menyajikan program yang mengandung nilai-nilai keagamaan, media harus memaparkannya sesuai dengan peraturan-peraturan penyiaran. Dalam konteks ini peraturan penyiaran berasal dari nilai budaya kebangsaan, ideologi bangsa, keyakinan, dan agama. Tetapi pada realitasnya banyak program-program keagamaan di televisi melanggar kode etik penyiaran tersebut.
“Misalkan dari beberapa kasus yang mendapat peringatan dari KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), seperti Tukang Bubur Naik Haji, Ustad Fotocopy. Mereka merepresentasikan simbol agama, seperti haji, orang berjilbab, tetapi sama sekali tidak berperilaku sesuai ajaran Islam,” jelas Nanang Mizwar. (ahmd)