oleh Faisal Ismail, Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

MENURUT doktrin Islam, nabi terakhir adalah Muhammad SAW. Muhammad adalah nabi penutup para nabi (khatamun nabiyyin). Sejarah hidup dan rekam jejak Muhammad sangat gamblang dan jelas. Ia lahir pada 570 M di Mekkah dari pasangan Abdullah (ayah) dan Aminah (ibu).

Muhammad wafat pada 632 M di Madinah. Ia pertama kali menerima wahyu dari Allah yang disampaikan oleh Malaikat Jibril pada usia 40 di Gua Hira. Semua wahyu yang ia terima telah dihimpun dalam sebuah kitab suci yang disebut Alquran. Muhammad melaksanakan misi kenabiannya selama 23 tahun (13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah).

Nabi Muhammad dimakamkan di Masjid Nabawi di Madinah dan makam itu sampai sekarang (sudah lebih dari 14 abad lamanya) masih tetap utuh serta menjadi saksi dan bukti rekam jejak historis kenabiannya.

Umat Islam tidak seujung rambut pun meragukan kenabian dan kerasulan Muhammad sebagai nabi terakhir yang diutus oleh Allah. Bahkan Allah menyatakan dengan tegas bahwa Muhammad diutus sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Setelah Nabi Muhammad wafat, muncullah beberapa orang Arab yang mengklaim sebagai nabi. Tidak dapat diragukan lagi, mereka adalah orang-orang yang berpikiran absurd sekaligus merupakan nabi palsu atau nabi gadungan yang bergentayangan pada masa itu.

Mereka adalah Musailamah al-Kadzdzab, Sajah, al-Aswad al-Ansi, dan Thulaihah bin Khuwailid. Mereka melancarkan kampanye dan propaganda yang intensif, ekstensif, dan masif di kalangan orang-orang Arab pada masa itu untuk mendapatkan legitimasi dan pengakuan sebagai nabi. Mereka sangat ambisius ingin menyandang popularitas, pujian, dan sanjungan dari kalangan orang-orang Arab yang bersedia menjadi pengikut mereka. Seraya mengaku sebagai nabi, mereka menyampaikan kepada para pengikutnya bahwa mereka telah menerima ”wahyu” dari Allah.

Misalnya, ”wahyu” yang diklaim diterima oleh Musailamah berisi cerita tentang katak atau gajah. Diceritakan oleh Musailamah bahwa gajah itu adalah binatang yang belalainya panjang. Cerita Musailamah itu sama sekali tidak pantas diklaim sebagai ”wahyu” dari Allah. Sangat absurd.Nonsens. Masa peralihan kepemimpinan dari Nabi Muhammd ke Abu Bakar ash-Shiddiq (Khalifah pertama, 632-634 M) memang merupakan masa yang sangat kritikal dalam sejarah Islam.

Selain muncul beberapa nabi gadungan, muncul pula orang-orang murtad (keluar dari agama Islam) dan orang-orang yang tidak mau membayar zakat. Tiga tantangan krusial (nabi-nabi palsu, orang-orang murtad, dan orang-orang pembangkang yang tidak mau bayar zakat) inilah yang menghadang pemerintahan Abu Bakar pada masa awal kepemimpinannya. Islam pada saat itu dalam kondisi kritikal dan dalam situasi ”hidup” atau ”mati”.

Jika ketiga golongan pembangkang dan pengacau tadi dibiarkan, Islam akan berada dalam bahaya dan terancam eksistensinya. Itulah sebabnya Khalifah Abu Bakar memerangi dan menumpas ketiga golongan pengacau tadi demi tegaknya agama Islam yang pada saat itu baru saja mulai bersemi. Khalifah Abu Bakar berhasil menumpas ketiga golongan pengacau itu sehingga stabilitas politik dan dinamika pemerintahannya dapat berjalan sesuai harapan dan cita-citanya.

Dari paparan sejarah di atas, klaim seseorang bahwa dirinya nabi tidak hanya terjadi pada masa sekarang. Setelah wafatnya Nabi Muhammad sudah ada orang-orang yang mendakwahkan diri mereka sebagai nabi. Mereka adalah nabi palsu atau nabi gadungan. Bahwa Muhammad adalah nabi terakhir adalah doktrin Islam yang baku dan final. Hal ini merupakan doktrin yang sangat elementer (dasar) yang seharusnya setiap orang Islam mengetahui dan memahaminya.

Sebenarnya, tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk tidak mengetahui dan tidak memahami ajaran yang sangat dasar ini. Tapi mengapa masih ada saja orang yang mengklaim sebagai nabi atau rasul pada masa sekarang ini? Keawaman atau perburuan gebyar popularitas (maaf) yang semu? Kalau seseorang merasa memang tidak tahu atau masih awam tentang ajaran dasar ini, seharusnya tidak usah mendakwahkan dirinya sebagai nabi atau rasul. Ini masalah peka bagi akidah umat Islam. Tak usah mencari masalah.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan umat Islam sudah pasti mengecapnya sebagai (aliran) sesat dan menyesatkan. Ini bukan persoalan kebebasan berkeyakinan, tapi merupakan praktik penyebaran kesesatan yang harus dicegah. Contoh yang masih segar dalam ingatan kita adalah kasus Ahmad Mushaddeq alias Abdul Salam (63 tahun). Ia dikenal sebagai pendiri aliran Al-Qiyadah al-Islamiyah dan dengan mantap mengklaim sebagai rasul dari Betawi. Dengan memakai pakaian kebesaran sebagaimana layaknya pemimpin sebuah aliran keagamaan, tanpa ragu-ragu Mushaddeq mengaku sebagai Almasih dan Almaw’ud.

Mushaddeq mengajarkan kepada para pengikutnya lafaz syahadat baru yang sama sekali berbeda dari lafaz syahadat dalam ajaran Islam. Lafaz syahadat ajaran Mushaddeq berbunyi ”Asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna Alamasih Alamaw’ud Rasulullah.”

Dalam syahadat versi Mushaddeq ini, kata ”Muhammad” diganti ”Almasih Almaw’ud” (maksudnya: Mushaddeq). Setelah dinyatakan sesat oleh MUI, rasul dari Betawi itu menyatakan tobat dan kembali ke ajaran Islam yang benar. Kasus lain adalah kasus Cecep Solihin di Bandung baru-baru ini.

Ia mengklaim sebagai nabi. MUI menyatakan bahwa aliran Cecep Solihin adalah aliran sesat dan menyesatkan. Polisi disertai MUI menggerebek Cecep Solihin di rumahnya untuk kemudian memeriksa dan meminta keterangan Cecep tentang ajaran yang ia kembangkan selama ini.

Menurut laporan di media massa, Cecep Solihin dilepas (tidak ditahan) dan beserta para pengikutnya dia terus dibina untuk kembali ke jalan ajaran Islam yang benar. Doktrin Islam bahwa tidak ada nabi setelah Muhammad adalah ajaran yang sangat dasar dan semua orang Islam sudah mafhum. Klaim seseorang bahwa dirinya adalah nabi adalah perbuatan yang absurd.

Dimuat di Koran Sindo, Sabtu, 19 April 2014

Related Post

 

Tags: