Faisal Ismail, Mengajar di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dan Program Magister Studi Islam UII Yogyakarta

FENOMENA ENOMENA orang mengaku nabi sebenarnya sudah muncul di tanah Arab pasca wafatnya Nabi Muhammad di tahun 632 M. Mereka melakukan kampanye gencar dan propaganda secara masif untuk mendapatkan pembenaran kenabian mereka. Para nabi palsu atau nabi gadungan ini adalah Musailamah al-Kadzdzab, Sajah, al-Aswad al-Ansi dan Thulaihah bin Khuwailid.

Mereka mengklaim sebagai nabi karena ingin meraup popularitas, pujian dan sanjungan dari kalangan orang-orang Arab yang bersedia menjadi pengikut mereka. Para nabi palsu ini berhasil melancarkan kampanye dan propaganda sehingga memperoleh pengikut di kalangan orang-orang Arab pada masa itu. Untuk melegitimasi kenabian mereka, para nabi palsu ini mengklaim telah menerima ‘wahyu’ dari Allah. Misalnya, dalam menyampaikan wahyunya kepada para pengikutnya, Musailamah al-Kadzdzab (Musailamah Si Pendusta) berkisah tentang gajah yang mempunyai belalai panjang. Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq (khalifah al-Rasyidin yang pertama, 632-634 M) berhasil memerangi dan menumpas gerakan para nabi palsu ini sehingga kemurnian dan kebenaran Islam dapat ditegakkan.

Dewasa ini, fenomena orang mengaku mendapat bisikan dan bimbingan Malaikat Jibril atau mengklaim sebagai nabi muncul secara beruntun di Indonesia. Salah satu di antaranya adalah Lia Eden (Lia Aminuddin, lahir di Surabaya pada 21 Agustus 1947). Lia mengaku mendapat penyucian, didikan dan bimbingan langsung dari Malaikat Jibril. Dalam proses penyucian itu, Lia mengaku bahwa Tuhan telah menetapkan dirinya sebagai pasangan Malaikat Jibril sebagaimana dinyatakan dalam kitab-kitab suci.

Bahkan Lia mengklaim bahwa dialah yang dinyatakan oleh Tuhan sebagai sosok Sorgawi-Nya di dunia. Komunitas Eden yang didirikan Lia kemudian disebut sebagai kelompok agama Salamullah. Pada Desember 1997, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan aliran Lia Eden sebagai aliran yang menyimpang dari doktrin Islam yang benar. Lia balik mengkounter MUI dengan mengeluarkan ‘Undang-Undang Jibril’ yang isinya menuduh MUI sebagai tidak adil dan berlaku sewenang-wenang terhadapnya. Dituduh menodai agama, Lia diadili dan dijatuhi hukuman.

Kasus lain yang masih segar dalam benak ingatan kita adalah kasus Ahmad Mushaddeq alias Abdul Salam (63 tahun). Dikenal sebagai pendiri aliran al-Qiyadah al-Islamiyah, Ahmad Mushaddeq dengan mantap mengklaim sebagai rasul dari Betawi. Dengan memakai pakaian kebesaran (bersorban) sebagaimana layaknya pemimpin sebuah aliran keagamaan, tanpa ragu-ragu Mushaddeq mengaku sebagai Almasih Almaw’ud (Sosok Yang Ditunggu dan Dijanjikan) kedatangannya sebagai pembawa bimbingan dan petunjuk serta sebagai penegak keadilan dan ketertiban. Mushaddeq mengajarkan kepada para pengikutnya ajaran syahadat baru yang sama sekali berbeda dari ajaran syahadat yang secara baku diajarkan dalam ajaran Islam.

Formula syahadat yang diajarkan oleh Mushaddeq berbunyi asyhadi an la ilaha illallah wa asyhadu anna Alamasih Alamaw’ud Rasulullah (Aku bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwasanya Almasih Almaw’ud adalah Utusan Allah). Dalam syahadat versi Mushaddeq ini, nama ‘Muhammad’ diganti dengan ‘Almasih Almaw’ud’ (maksudnya: Mushaddeq). Setelah dinyatakan sesat oleh MUI, rasul dari Betawi itu menyatakan tobat dan kembali ke ajaran Islam yang benar.

Kasus lain adalah kasus Cecep Solihin di Bandung baru-baru ini. Ia mengklaim sebagai nabi.
Ia sudah mempunyai sekelompok pengikut, terutama dari kalangan keluarganya sendiri.
MUI menyatakan bahwa aliran Cecep Solihin adalah aliran sesat dan menyesatkan. MUI meminta kepada masyarakat untuk tidak mengikuti paham atau aliran yang didirikan oleh Cecep Solihin. Polisi didampingi oleh MUI menggerebek Cecep Solihin di rumahnya untuk kemudian diperiksa dan dimintai keterangan tentang ajaran yang ia kembangkan selama ini.

Dalam pengakuannya di media massa, Cecep Solihin mengaku bersalah. Ia dilepas (tidak ditahan) dan terus dilakukan pembinaan terhadap dirinya dan para pengikutnya untuk kembali ke jalan ajaran Islam yang benar. Akidah Islam bahwa tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad adalah akidah yang sudah baku dan final. Jika orang Islam berpegang pada ajaran yang baku dan final ini, pengakuan sebagai nabi tidak perlu ada.

KEDAULATAN RAKYAT, JUMAT KLIWON 11 APRIL 2014 ( 10 JUMADILAKIR 1947 )

Related Post

 

Tags: