Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan The American Institute for Indonesian Studies (AIFIS) mengadakan acara Kuliah Umum di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin (28/4) kemarin. Tema yang dibahas adalah “Islam and Moeslim in American: Community Development Perspective”. Jaye Starr seorang mualaf warga asli Amerika hadir sebagai pembicara kuliah umum ini.

Jaye Starr menyampaikan bahwa dari segi jumlah perkembangan muslim di Amerika meningkat, dimana perkembangan awalnya dibawa oleh para budak dan diteruskan para professional (dokter, ahli kimia, insinyur).

Selain itu, Jaye Starr mengungkapkan bahwa pasca tragedy WTC tahun 2001 muncul ketakutan teradap Islam (Islam Pobia). “Banyak muslim yang diganggu ketika pergi ke tempat-tempat umum, seperti supermarket, untuk mencari bahan makanan,” katanya, “Anehnya, kelompok yang simpati dan membantu untuk mencarikan makanan ternyata orang-orang Yahudi.”

Rupanya, orang Yahudi merasa bahwa Islam Pobia di Amerika mirip dengan Holocaust yang menimpa orang-orang Yahudi di Jerman, dimana ada gerakan anti yahudi yang menimbulkan kekerasan terhadap mereka.

Islam pobia di Amerika sebenarnya terjadi karena ketidakpahaman sebagian besar masyarakat Amerika terhadap Islam, sebagian besar orang yang mengalami Islam Pobia adalah orang-orang yang belum pernah bertemu dengan orang Islam.
Sama juga dengan Yahudi Pobia di Indonesia, dimana banyak orang membenci semua orang Yahudi, namun sama sekali belum pernah bertemu orang Yahudi.

“Sama dengan orang Islam, orang Yahudi, Nasrani, dan sebagainya ada yang baik dan ada yang jahat. Orang Yahudi ada yang mendukung penjajahan Israel terhadap Palestina, namun ada juga yang memprotesnya, ” terangnya.

Hal yang masih menjadi problem bagi muslim di Amerika saat ini adalah ketersediaan makan halal dan cara untuk beribadat.

“Orang muslim di Amerika tidak makan makanan fastfood yang bahan dasarnya menggunakan daging kualitas paling jelek dan tidak terjaga kehalalannya,” imbuh Jaye, “Selain itu di Amerika tidak ada fasilitas berupa tempat untuk berwudlu, oleh karena itu mereka wudlu menggunakan wastafel atau menggunakan botol air mineral. Jadi banyak orang muslim kemana-mana membawa botol air.”