oleh Prof Dr Faisal Ismail, Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

SANGAT tepat jika Pemerintah Kota Yogyakarta mengusung motto ‘Yogya Berhati Nyaman’. Motto ini sangat ideal dan sejalan dengan ikon Yogya sebagai kota pendidikan, budaya dan pariwisata. Sebagai kota pendidikan, budaya dan pariwisata, Yogya tentunyaya harus rapi, bersih, indah dan nyaman baik bagi para warganya sendiri maupun bagi para pengunjung (termasuk para turis domestik dan turis mancanegara). Kerapian, kebersihan, keindahan dan kenyamanan sudah pasti akan membuat para warga Yogya dan para pengunjung merasa betah, enak, tenteram dan nikmat tinggal di kota budaya ini. Idaman dan harapan seperti ini tidak sepenuhnya terwujud akibat vandalisme yang kian marak di kota ini.

Apakah vandalisme itu ? ‘The Random House Dictionary of English Language’ mencatat empat pengertian tentang vandalisme. Kita kutip salah satu pengertian vandalisme yang terkait dengan tulisan ini. Vandalisme adalah deliberately mischievous or malicious destruction or damage of property (perusakan secara sengaja atas harta benda yang dilakukan secara ganas dan menimbulkan kerugian). Menurut definisi ini, perbuatan mencorat-coret tembok-tembok rumah, toko, kantor, sekolah, universitas, papan reklame, papan nama dan tembok-tembok kota yang dilakukan secara sengaja oleh seseorang atau sekelompok orang sudah termasuk perbuatan vandalistik. Karena perbuatan demikian sudah mengakibatkan kerugian properti pada pihak lain. Inilah fenomena yang terjadi di Yogya dewasa ini. Vandalisme di kota ini cenderung meningkat dan situasinya sangat memprihatinkan. ‘Yogya Berhati Nyaman’ menjadi berkurang makna, roh dan cita rasanya.

Menyadari maraknya vandalisme di kota Yogya, Kepala Dinas Ketertiban Kota Yogyakarta Bapak Nurwidihartana mengatakan bahwa pelaku vandalisme akan dijerat dengan Perda Kebersihan. Sanksinya adalah denda Rp 50 juta dan hukuman kurungan maksimal tiga bulan. Kepala Dinas Ketertiban Kota Yogyakarta mengatakan hal ini ketika beliau mendeklarasikan ‘Gerakan Yogya Bersih Vandalisme’ yang dipimpin oleh Walikota Yogyakarta Bapak Haryadi Suyuti di Jalan Senopati baru-baru ini. Menurut Kepala Dinas Ketertiban Kota, Perda itu sebenarnya sudah ada tapi belum diberlakukan. Selama ini, para pelaku vandalisme yang tertangkap tangan tidak diproses secara hukum tetapi hanya dilakukan pembinaan karena para pelakunya adalah para remaja dan pelajar.

Vandalisme merupakan gejala kota-kota urban atau sebagai ‘budaya’ anak-anak muda di kota-kota urban. Di New York (Amerika Serikat) atau di Montreal (Kanada), vandalisme banyak ditemukan di tembok-tembok kota. Subway (kereta api bawah tanah) di New York menjadi sasaran empuk bagi para pelaku vandalisme. Dalam skala keeil, di Kuwait City (ibu kota Kuwait) juga ditemukan vandalisme yang dilakukan oleh anak-anak muda. Saya beberapa kali berkunjung ke Kuala Lumpur dan Singapura pada awai tahun 2000, saya tidak menemukan corat-coret atau vandalisme di tembok- tembok kota. Singapura dan Kuala Lumpur saat itu bersih dari vandalisme.

Para pelaku vandalisme menggunakan bahasa atau kode tersendiri yang hanya dimengerti oleh diri mereka sendiri atau komunitas mereka. Di suatu tembok di Yogya saya menemukan corat coret atau kode QRZ (qisruh?), MTZ, TST, TQZ dll. Yang paling memperihatinkan dan sekaligus memalukan adalah kata kotor dan jorok yang berbunyi ‘Fuck’ yang terdapat di suatu tembok Universitas Islam Negeri. Tidak diketahui siapa pelakunya, bisa jadi remaja luar yang ‘menyusup’ ke dalam kampus di malam hari. Karena para pelaku vandalisme melakukan aksi mereka pada malam hari (dini hari) agar tidak tertangkap tangan.

Imbauan dan seruan dari, misalnya, orang tua, sekolah, perkumpulan pramuka, perkumpulan remaja, RT, RW, lembaga keagamaan, perangkat pemerintahan dan masyarakat pada umumnya untuk tetap menjaga ‘Yogya Berhati Nyaman’ sangat diperlukan. ‘Gerakan Yogya Bersih Vandalisme’ yang dicanangkan oleh Kepala Dinas Ketertiban Kota Yogyakarta kita dukung sepenuhnya dan kita sambut baik. Pemberlakuan Perda Kebersihan dengan mendenda Rp 50 juta dan menjatuhkan hukuman kurungan maksimal selama tiga bulan bagi pelaku vandalisme perlu disosialisasikan dan dilaksanakan secara sungguh-sungguh.

Dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat, Jumat Wage 30 Mei 2014

Related Post

 

Tags: