Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (FDK UIN Suka) mengadakan  kuliah umum bertema “Pekerjaan Sosial Koreksional dalam Praktik dan Kebijakan:  Peluang dan Tantangan”, Jumat (23/04) kemarin. Narasumber yang hadir diantaranya Kanwil Kemenkumham DIY, Peksos Lapas, juga mantan narapidana.

Bukan tanpa alasan tema ini diangkat, mengingat bidang pekerjaan sosial saat ini di Indonesia telah merambah pada wilayah koreksional. Tercantumnya profesi pekerjaan sosial dalam UU No. 11 tahun 2012, tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, merupakan wujud nyata kebutuhan masyarakat akan hadirnya profesi ini di berbagai bidang, khususnya di bidang hukum dan koreksional.

Ketua Prodi IKS Dr. H. Zainudin, M.Ag. saat memberi sambutan menyampaikan bahwa kegiatan kuliah umum hari itu merupakan momen yang sangat berharga karena mengangkat tema tentang peksos koreksional, yang belum banyak dikenal khalayak.

“Selama ini mahasiswa IKS baru mengenal istilah pekerja sosial koreksional terbatas hanya sekedar tori di kelas saja, melalui acara ini mahasiswa diperkenalkan dimensi praktik dari profesi ini, karena para pemateri merupakan pemegang kebijakan dan sekaligus sebagai pelaksana kegiatan tersebut, ” kata Zainuddin mantab.

Prodi IKS mengundang tiga narasumber yang berkompeten di bidang koreksional. Narasumber pertama adalah Endang Sudirman, M.Si, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kanwil Kemenkumham) DIY. Beliau menyampaikan tema “Kebijakan Penanganan Kriminalitas di Indonesia : Upaya dan Analisis Sumber Daya”. Bahasan tema ini adalah tentang problematika kriminalitas, upaya kebijakan (perundang-undangan dan program) penanganan kriminalitas, serta sumber daya yang dibutuhkan.

Endang memetakan kedudukan Kemenkumham dan kaitannya dengan PMKS yang dibina di berbagai lembaga dibawah Kemenkumham yang berbentuk Unit Pelaksana Teknis (UPT), yakni Lapas, Bapas maupun Rutan.

Kaitannya dengan peksos, Endang mengatakan Peksos merupakan salah satu profesi yang bekerja di UPT tersebut. “Bahkan, dalam waktu dekat ini akan dibuka penerimaan pegawai dari S1 dan SMPS Pekerjaan Sosial/Kesejahteraan Sosial,” katanya.

Narasumber kedua adalah Sukamto, seorang pekerja sosial di Lapas. Beliau menyampaikan tema “Dinamika dan Tantangan Pekerja Sosial Koreksional di LAPAS”. Bahasan tema ini adalah  pandangan pekerjaan sosial terhadap pelaku kriminal,  standar praktik pekerjaan sosial koreksional, serta pengalaman pendampingan pelaku kriminal.

Sebagai seorang pekerja sosial, beliau menyampaikan terkait lembaga ini dari perspektif pekerjaan sosial, bahwa rasio pekerja sosial koreksional dengan klien di Lapas adalah sangat tidak mencukupi, sehingga dibutuhkan sejumlah pekerja sosial untuk menangani berbagai masalah sosial yang terjadi di Lapas maupun Bapas, yang selama ini justru ditangani oleh mereka yang sama sekali tidak memiliki latar belakang pendidikan bukan dari pekerjaan sosial/kesejahteraan sosial.

Adapun narasumber yang ketiga, menghadirkan seorang mantan napi,  Sugiono. Mas Ugiek –panggilan akrab Sugiono–membagi pengalamannya ketika menjadi napi akibat berkelahi dan terkena kasus narkoba. Dalam kuliah ini Sugiono menyampaikan tema yang  “Upaya Berjuang Meraih Masa Depan”.

Sugiono membahas tentang pengalaman titik balik kehidupan, penerimaan keluarga dan masyarakat terhadap mantan narapidana, serta upaya yang dilakukan agar tidak kembali menjadi Narapidana.

Pengalamannya selama di Lapas membawa dia kepada jalan hidayah, sehingga kembali tersungkur sujud dan menjalankan tahajud serta shalat dhuha selama berada dalam penjara. Akhirnya ketika keluar dari Lapas pada tahun 2010, sudah dapat kembali bekerja dan meninggalkan semua hal menyimpang yang telah mengantarkannya kepada penjara.

Antusiasme peserta ditunjukkan dengan banyaknya pertanyaan yang dilontarkan kepada ketiga narasumber. Sehingga tujuan kegiatan ini untuk mengembangkan wawasan dan minat mahasiswa terhadap bidang praktik pekerjaan sosial koreksional, serta meningkatkan sikap dan kepedulian mahasiswa terhadap pihak-pihak yang terkait dalam masalah kriminalitas, dipastikan dapat tercapai. (mila_iks)