oleh : FAISAL ISMAIL, Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Pada 1985 Nahdlatul Ulama (NU) secara resmi mendeklarasikan diri kembali ke Khitah 1926. Sejak itu NU menarik diri dari segala kegiatan politik praktis dan kembali menjadi organisasi sosial keagamaan seperti awal berdiri.

Hak politik warga NU tetap diberikan, tetapi tidak boleh mengatasnamakan NU dan tidak boleh membawa bendera NU dalam politik. Komunitas NU dikenal sebagai komunitas muslim tradisionalis yang memiliki paham dan tradisi keagamaan yang berbeda dari kelompok muslim modernis. Komunitas NU sudah terbiasa mengamalkan tahlil, haul, berzanji, tarekat, dan amalan lain sejenis itu. Dalam mengamalkan tahlil, haul, berzanji, dan tarekat biasanya komunitas NU memakai sarung. Itulah sebabnya orang-orang NU diidentifikasi sebagai kaum sarungan.

Jumlah komunitas NU di Tanah Air diperkirakan mencapai 40 juta. Karena itu, setiap kali diselenggarakan pilkada atau pilpres, kiai-kiai NU, pesantren-pesantren NU, tokoh- tokoh NU, dan warga NU pada umumnya didekati oleh para caleg dan pasangan caprescawapres dengan tujuan untuk mendulang suara mereka. Dalam Pemilu 2004, PDIP mengusung Megawati Soekarnoputri sebagai capres. Tidak dapat diragukan, PDIP adalah partai besar dan mempunyai anggota dan simpatisan yang banyak di seluruh Tanah Air.

Nama besar Soekarno menjadi ikon yang menjadi daya pikat dan daya tarik partai bersimbol kepala banteng moncong putih ini. Dalam upaya untuk meraih suara yang lebih besar lagi, Mega menggandeng Hasyim Muzadi sebagai cawapres. Saat itu Hasyim Muzadi masih menjabat (kemudian nonaktif) sebagai ketua umum Tanfidziyah NU. Langkah tersebut tidak lain merupakan taktik-strategi dari PDIP untuk mengeduk suara komunitas NU dalam Pilpres 2004 agar Mega-Hasyim keluar sebagai pemenang.

Lebih-lebih yang dihadapi Mega pada waktu adalah Susilo Bambang Yudhoyono yang berpasangan dengan Jusuf Kalla (yang diusung oleh Partai Demokrat). Dipasangnya JK (yang berlatar belakang kultur NU) sebagai cawapres SBY juga dapat dipahami sebagai taktik-strategi Partai Demokrat untuk mendulang suara kaum sarungan agar pasangan SBY-JK tampil sebagai pemenang. Tokoh penting dan salah seorang pengurus teras PBNU lain yang digaet untuk menjadi cawapres adalah Salahuddin Wahid (Gus Sholah).

Ia disandingkan dengan Wiranto, capres yang diusung Partai Golkar. Dari perspektif politik praktis dan pertarungan pilpres 2004, disandingkannya Gus Sholah dengan Wiranto dapat dibaca sebagai manuver politik Golkar agar mendapat dukungan suara dari komunitas NU dan pasangan tersebut dapat keluar sebagai pemenang. Adapun Abdurrahman Wahid (Gus Dur, tokoh NU yang sangat terkenal, berpengaruh luas, dan mantan ketua umum PBNU), ia diusung sebagai capres oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan dipasangkan dengan Marwah Daud Ibrahim.

Tokoh-tokoh NU yang diusung sebagai capres atau dipasangkan sebagai cawapres dalam Pilpres 2004 dapat dibaca sebagai manuver politik agar pasangan itu mendapat dukungan suara dari komunitas NU. Taktik strategi lain untuk merebut suara komunitas NU adalah pasangan capres-cawapres melakukan pendekatan dengan kiai-kiai, ulama, dan tokoh- tokoh NU. Komunitas NU, terutama di kalangan pesantren dan pedesaan, dikenal sebagai komunitas yang tawadu dan sangat menghormati para kiai, tokoh, dan ulama sebagai idola dan panutan mereka.

Kaum sarungan ini memiliki dan mempraktikkan budaya paternalistik, terutama di pesantren- pesantren dan pedesaan. Jika seorang kiai atau seorang alim memutuskan untuk mendukung partai politik tertentu, para santri dan komunitas NU di sekitar pesantren dan di pedesaan itu akan mendukung partai politik pilihan kiai mereka.

Para caleg, tim sukses, atau pasangan capres-cawapres sangat memahami kondisi psikologis dan ikatan emosional-primordialisme ini dan mereka memanfaatkannya dengan cara melakukan pendekatan yang dikemas dalam bahasa kunjungan silaturahmi. Secara langsung atau tidak, para caleg atau pasangan capres-cawapres itu mengharapkan dan meminta dukungan mereka.

***

Ada dua pasangan capres-cawapres dalam Pilpres 2014 sekarang ini. Pasangan dengan nomor urut satu adalah Prabowo Subianto-Hatta Radjasa yang diusung sebagai capres-cawapres oleh Gerindra dan mitra koalisinya. Pasangan dengan nomor urut dua adalah Joko Widodo- Jusuf Kalla (JK) yang diusung sebagai capres-cawapres oleh PDIP dan mitra koalisinya. Seperti pada pilpres-pilpres sebelumnya, pada Pilpres 2014 ini pasangan capres-cawapres mendekati dan melakukan silaturahmi politik dengan para tokoh, ulama, dan kiai NU.

JK bersilaturahmi ke KH Hasyim Muzadi (tokoh penting NU, pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, dan mantan ketua umum PBNU). Jokowi bersilaturahmi ke KH Salahuddin Wahid (tokoh terkenal NU, adik Gus Dur, dan pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang). Prabowo Subianto menghadiri istighasah komunitas NU di suatu pondok pesantren di Jember (Jawa Timur). Dengan maksud yang tidak berbeda, JK menghadiri pertemuan silaturahmi dengan tokohtokoh dan masyarakat NU di Surabaya yang diorganisasi oleh Muhaimin Iskandar (ketum PKB).

PKB adalah salah satu partai yang berkoalisi dengan PDIP. Fenomena pelibatan kiaikiai dan tokoh NU ini memperlihatkan betapa tumpang tindih kegiatan politik praktis dengan Khitah NU 1926. Pelibatan NU dan tokoh-tokoh NU dalam kegiatan politik praktis yang diorganisasi dan dimobilisasi oleh Ketum PKB (Muhaimin Iskandar) adalah tidak sejalan dengan jiwa, ruh, dan semangat Khitah NU 1926.

Taktik-strategi lain yang dilancarkan Muhaimin Iskandar untuk mendapatkan dukungan suara komunitas NU ialah dengan cara mengangkat isu bahwa jika Jokowi terpilih sebagai presiden, menteri agama (menag) dalam kabinetnya akan berasal dari kalangan NU. Tidak lama kemudian, isu prematur itu ditepis oleh Jokowi dengan mengatakan bahwa dia dan mitra koalisinya belum sampai pada pembicaraan kriteria menteri dan calon para menterinya.

Dukungan suara komunitas NU di banyak daerah tidak sama. Ada yang mendukung Prabowo-Hatta dan ada pula yang mendukung Jokowi- JK. Suara para kiai, tokoh, ulama, dan warga NU terpecah.

dimuat di Koran Sindo, Jumat, 13 Juni 2014

Related Post

 

Tags: