Dr Hamdan Daulay MSi MA, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

PRAKTIK korupsi di negara ini sungguh sangat memprihatinkan, seolah tidak ada lagi rasa malu bagi pelaku korupsi. Bagitu dahsyatnya praktik korupsi di Indonesia, sampai Prof Syafii Maarif pernah mengatakan, praktik korupsi sudah merambah ke semua lini. Praktik korupsi tidak hanya terjadi di DPR dan lembaga penegak hukum (kehakiman, jaksa dan Polri), namun juga sudah merambah ke lembaga yang mengurus bidang kesehatan, pendidikan dan agama. Bahkan yang lebih gila lagi, kini praktik korupsi sudah sampai pada proyek pengadaan Alquran. Kalau Alquran saja sebagai kitab suci umat Islam sudah dikorupsi, lalu bagaimana dengan zakat yang langsung berkaitan dengan harta (uang) untuk mem-berdayakan kaum miskin?

Islam sesungguhnya mempunyai komitmen tinggi pada nilai ukhuwah (persaudaraan). Makna persaudaraan dalam Islam bisa dilihat dengan aktualisasi zakat yang akan mempererat hubungan antara sesama muslim. Lewat komitmen ukhuwah islamiyah diharapkan tak ada kesenjangan antara kelompok kaya dengan kelompok miskin, rakyat jelata dengan penguasa. Aktualisasi nilai ukhuwah itu bisa dirasakan lewat pemberian zakat dari orang kaya (mampu) kepada kelompok yang berhak menerima, seperti fakir miskin dan fiisabilillah. Lewat zakat terkandung esensi persaudaraan yang sesungguhnya, dengan adanya ketulusan dan keikhlasan untuk berbagi antara sesama. Pengeluaran zakat berarti membersihkan harta dari noda-noda dosa, karena sesungguhnya ada hak orang-orang miskin pada harta orang-orang kaya yang belum dikeluarkan zakatnya.

Masdar F Mas’udi dalam buku Agama keadilan Risalah zakat (pajak) dalam Islam, berpendapat bahwa zakat adalah merupakan pintu masuk bagi umat Islam, apabila memang benar-benar hendak ¬†menegakkan amanat kekhalifahan dengan menegakkan keadilan dalam kehidupan sosial. Dengan mengeluarkan zakat, berarti setiap muslim telah membersihkan harta dan jiwanya. Lewat zakat pula¬† akan terbina tali ukhuwah islamiyah dan rasa egaliter yang tinggi di tengah masyarakat.

Kalau setiap muslim menyadari betapa pentingnya kewajiban zakat, maka sesungguhnya kemiskinan akan dapat dikurangi. Namun yang menjadi kendala dalam pengelolaan zakat hingga saat ini adalah karena faktor ketidakjujuran. Masih banyak umat Islam enggan (belum sadar) untuk mengeluarkan zakat. Dari kelompok yang mau mengeluarkan zakat, juga masih banyak yang belum jujur dalam menghitung kewajiban zakatnya. Akibatnya potensi zakat yang ada di tengah masyarakat, belum terkumpul dan terkelola secara maksimal. Demikian pula dengan pengelola zakat dan juga orang-orang yang berhak menerima zakat, perlu dikontrol lebih serius agar tidak terjadi salah sasaran.

Ada yang mendadak menjadi amil zakat tapi tidak jelas disalurkan ke mana zakat yang terkumpul. Ada pula orang yang pura-pura menjadi miskin dan ‘pengemis’ sebagai profesi musiman di bulan Ramadan, hanya untuk mendapatkan bagian zakat. Praktik-praktik kotor yang demikian tentu harus diwaspadai dan kritisi, karena sesungguhnya tindakan tersebut sama saja dengan korupsi. Demi pemberdayaan kaum miskin, hendaknya zakat harus dijauhkan dari praktik korupsi.

Sesungguhnya sudah banyak konsep dari cendekiawan muslim tentang metode pengelolaan zakat agar bisa lebih bermanfaat guna memberdayakan kaum miskin. Mantan Menteri Agama, Mukti Ali pernah menawarkan konsep pengelolaan zakat bagi kaum miskin, dengan istilah ‘berilah kail jangan ikan.’ Konsep ini menginginkan agar pengelolaan zakat diusahakan berdaya guna dengan cara mengelola zakat yang terkumpul bisa membuka lapangan kerja baru bagi kaum miskin.

Akhirnya apa pun konsep yang dipakai dalam pengelolaan zakat, kata kuncinya sesungguhnya adalah kejujuran. Jangan sampai zakat yang begitu urgen untuk membantu orang miskin dan kaum lemah justru dikorupsi. Zakat harus dijauhkan dari praktik korupsi, sehingga usaha memberdayakan kaum miskin lewat zakat bisa direalisasikan. Korupsi zakat bisa saja datang dari pemberi zakat yang tak jujur dalam menghitung zakat hartanya. Pengelola zakat yang tak jujur bisa juga terjebak pada praktik korupsi kalau mereka tidak menyalurkan zakat tersebut sesuai aturan. Demikian pula penerima zakat yang tak jujur (berpura-pura jadi miskin dan pengemis) adalah bagian dari praktik korupsi yang perlu diwaspadai. Dalam realitanya praktik-praktik tersebut kini ada di tengah masyarakat, sehingga ada benarnya pendapat yang mengata-kan bahwa korupsi saat ini sudah merambah ke semua lini. Sungguh betapa mahalnya kejujuran tatkala kebohongan sudah dianggap sebagai hal yang biasa. q- k.

 

KEDAULATAN RAKYAT, JUMAT LEGI 11 JULI 2014 ( 13 PASA 1947)

Related Post

 

Tags: