Dr H Waryono Abdul Ghafur MA,
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta

SEJAK menjelang Idul Fitri tiba sampai pada saat salam-salaman dalam suasana Idul Fitri, dua kalimat pendek tersebut hampir selalu terucap dari setiap orang dan biasanya ditambah dengan kalimat, ‘maaf lahir-batin (ya)’. Dua kalimat pendek itu juga ditulis dalam spanduk, SMS dan kartu lebaran yang akan dikirim ke alamat tujuan.

Dua kalimat itu sebenarnya potongan dari do’a yang lebih panjang yang uniknya bukan dari hadis apalagi Quran, yaitu ja’alanalla’hu minal ‘aidiizili’n (yang artinya [kurang lebih] Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali [ke fitrah], yang sukses dalam menjalankan ibadah, dan banyak diterima oleh Allah).

Keindahan dan kebahagiaan Idul Fitri itu terwujud karena setiap kita yang merayakannya sadar bahwa sepanjang dan selama bergaul dan berhubungan, selalu ada namanya kesalahan. Pada saat itu, dengan suka rela kita menyatakan mohon maaf duluan dan disambut dengan pintu maaf yang sama dari kawan, baik yang langsung berjumpaan dalam pertemuan maupun yang jauh dalam perantauan.

Minal ‘Aidin adalah laku pertaubatan dan pengakuan diri yang jujur bahwa boleh jadi selama ini lupa kembali ke rumah yang sebenarnya. Rumah tempat kembali kita yang sebenarnya bukanlah rumah kita atau keluarga dan kampung kita, tetapi ‘rumah dan pangkauan Tuhan’. Kembali atau pulang ke rumah dan pangkuan Tuhan itu tercermin pada laku kita yang selalu mengedapankan kebenaran di atas kepentingan diri dan golongan. Minal ’Aidin adalah sebuah doa sekaligus unjuk kebolehan secara konkret bahwa kita memang iihi roji’un, kepada-Nya kita akan kembali. Manusia seperti ini pasti selalu merindukan pulang atau mudik. Jadi mudik dan atau pulang yang sebenarnya bukanlah ke kampung halaman, tapi kepada Tuhan dengan cara memperbanyak ibadah dan pengabdian serta pelayanan.

Mengapa kita harus kembali-pulang? Setiap kita melakukan kesalahan sekecil apa pun kesalahan itu, hakekatnya kita jauh meninggalkan Tuhan dan jauh meninggalkan kefitrahan kita. Fitrah kita adalah rumah kita, sehingga minal ’aidin adalah harapan agar kita ‘Idul Fitri, kembali ke kesejatian kita sebagai hamba (abdun) dan khalifah sekaligus yang watak dasarnya adalah cinta dan senang melakukan kebenaran. Orang seperti ini tampak dalam keseharian; ia mengabdi kepada Tuhan dan peduli dengan persoalan kemanusiaan, seperti kemiskinan, ketertindasan, kebodohan dan lain-lain. Itulah profil manusia yang mendapatkan predikat ’Idul Fitri. Ia akan siap diatur oleh Allah SWT, bukan sebaliknya, mengatur Allah SWT. Orang yang siap diatur oleh Allah SWT, itulah yang disebut sebagai muttaqin, muhsinin, dan solihin.

Harmoni itulah wujud dari lanjutan doa tersebut, yaitu wal faizin. Setelah kita saling memaafkan dan mengaku bersalah dan akhirnya kembali ke ‘pangkuan’ Tuhan yang sama, mewujudkan harmoni adalah perkara mudah. Sebab, ketika itu yang ada adalah tawasau (saling berpesan kebenaran dan usul-usul kreatif), tanasahu (saling menasehati dan memberi kritik konstruktif), dan akhirnya ta’awanu (saling bantu/gotong royong). Harmoni akan sulit terwujud bila dalam diri kita, baik sebagai pribadi maupun sosial masih ada ‘penyakit’ yang menyulut dan menghalangi terjalinnya komunikasi dan kerja sama.

Bila kita sudah ’id dan faiz, maka kita akan meraih kemenangan. Kemenangan sejati bukanlah buah atau hasil dari pertarungan melawan dan berhadapan dengan the others (liyan) di luar diri kita, tapi justru ketika kita berhasil melawan watak buruk kita sendiri yang dapat menjelma dalam berbagai bentuk yang dinamakan dengan nafsu. Nafsu itulah yang tegas dinyatakan Alquran la ammartun bis suíi (selalu mendorong dan mengajak pada pikiran dan perilaku jelek).

Selamat Idul Fitri, semoga kebiasaan pada Ramadan lalu seperti disiplin, kejujuran, selalu menumbuhkan harapan, berbagi kebaikan, membatasi diri dalam konsumsi dan lain-lain, dapat dijadikan modal dan model dalam mengisi dan menatap Indonesia baru di bawah kepemimpinan baru juga. Bukan tidak mungkin, bila modal dan modelnya adalah spirit dari laku Ramadan, Indonesia akan menjadi Negara yang benar-benar baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Minal ‘Aidin wal Faizin. q- s.

KR, KAMIS LEGI 31 JULI 2014 ( 4 SAWAL1947 )

 

Tags: