Dr Hamdan Daulay MSi MA, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

PASCA keputusan MK tentang sengketa hasil pilpres, diharapkan bisa memberi kesejukan dan kedamaian bagi semua lapisan masyarakat. Karena sesungguhnya esensi dari pemilu yang demokratis menuntut kelompok yang bersaing harus siap kalah dan siap menang dalam proses demokrasi tersebut.

Pesta demokrasi memberi kebebasan kepada masyarakat untuk menyalurkan aspirasi politiknya. Setiap pemilih tentu memiliki penilaian sendiri tentang calon pemimpin yang ideal dalam pandangannya. Namun dalam realitanya, menurut Deborah Norden (1995: 203), persaingan politik di negara berkembang masih cenderung combative, yaitu cenderung bersaing dengan keras dan bahkan menghalalkan segala cara. Dalam persaingan combative ini kelompok yang bersaing hanya siap menang, namun tidak siap kalah. Efek sikap politik yang demikian akan membuat suasana intoleransi dan disharmoni di tengah masyarakat.

Tindakan intoleransi terhadap kelompok lain, karena perbedaan politik, keyakinan, etnis, budaya, kini semakin marak. Akibat dari tindakan intoleransi tersebut membuat munculnya suasana disharmoni (tidak harmonis), dan bahkan konflik antara kelompok satu dengan kelompok lain.  Pesta demokrasi hendaknya bisa memberi pendidikan politik yang berharga bagi masyarakat, dengan munculnya sikap saling menghargai di tengah perbedaan yang ada. Sulit dibayangkan tumbuh demokrasi yang sehat, manakala persaingan politik membuat masyarakat terbelah, saling fitnah, kampanye hitam, dan bahkan saling serang.

Sesungguhnya budaya masyarakat Indonesia yang pluralistik ini terkenal sangat toleran, santun, dan menghargai perbedaan yang ada. Kemauan untuk menghargai dan menghormati perbedaan adalah merupakan bagian dari kebudayaan yang sangat luhur. Masyarakat yang menghargai nilai-nilai budaya tidak akan terjebak pada konflik, karena bagi masyarakat yang berbudaya, perbedaan adalah suatu keindahan yang harus dipelihara dengan baik.

Kebudayaan merupakan segala sesuatu yang diciptakan oleh akal budi manusia.  Manusia (masyarakat) dan kebudayaan tidak bisa dipisahkan, karena keduanya merupakan suatu jalinan yang saling erat berkait. Kebudayaan tidak akan ada tanpa ada masyarakat dan tidak ada satu kelompok manusia pun, betapa terasing dan bersahajanya hidup mereka, yang tidak mempunyai kebudayaan.

Budaya bisa dipahami sebagai jejaring makna dan pemaknaan. Budaya juga sebagai sebuah deskripsi dari cara hidup tertentu yang mengekspresikan  sejumlah makna  dan nilai yang tertentu pula. Sebagai jejaring makna, budaya terkait erat dengan ranah-ranah lain dalam hidup manusia, seperti politik, agama, kekuasaan, pendidikan, pemerintahan, bahasa dan masih banyak lainnya.

Dalam istilah Mudji Sutrisno (2008: 66), kreativitas kebudayaan  merupakan misteri  dari tetap tumbuhnya  kemanusiaan  ketika peradaban dihadapkan pada ujian-ujian sejarah. Diri tidak sendiri  dalam merajut makna dan mengikat peristiwa. Kita selalu dihadapkan pada  fakta ke-beragaman, kebhinnekaan, terlebih dalam konteks masyarakat Indonesia yang multi kultur, multi etnis, multi agama, dan multi dimensi lainnya.

Indonesia adalah sebuah mozaik dalam kategori apapun, baik keyakinan agama, karakter budaya, identitas etnik, pola adat, rasa dan ungkapan bahasa, warisan sejarah, afiliasi politik dan lain-lain. Lazimnya sebuah  mozaik, jika direnungkan sesaat, di dalam diri Indonesia tercermin apa yang pernah diucapkan seorang antropolog Perancis, Claude Levi Starauss (1988), yang mengatakan bahwa  keragaman ada di belakang, di depan, dan bahkan di sekeliling kita.

Dengan demikian, bagi Indonesia keragaman dalam berbagai aspek merupakan sebuah realitas, sama sekali bukanlah hal yang baru. Atas nama keragaman itu, Indonesia sesungguhnya adalah taman yang luar biasa indah, sehingga berada di dalamnya penuh dengan dinamika dan tantangan.

Pasca keputusan MK tentang sengketa pilpres hendaknya bisa membuka lembaran baru demokrasi di negara ini. Jokowi-JK sebagai  pemenang pilpres hendaknya bisa menggagas rujuk nasional agar semua komponen masyarakat melangkah bersama membangun Indonesia yang lebih baik. Tidak perlu lagi menyebar permusuhan dan konflik  karena ada kelompok yang kalah dan yang menang. Karena sesungguhnya esensi demokrasi adalah memberi kemenangan kepada semua lapisan masyarakat.

Rakyat sekarang tinggal menunggu realisasi janji capres dan cawapres terpilih yang begitu banyak disampaikan selama musim kampanye. Persoalannya sekarang apakah janji itu hanya sekadar retorika, atau janji yang benar-benar bisa diwujudkan untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat. q- s .

 

KEDAULATAN RAKYAT, KAMIS WAGE 28 AGUSTUS 2014 ( 2 DULKAIDAH 1947 )

Related Post

 

Tags: