Faisal Ismail, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

DI usia 34 tahun, Julia Perez (akrab disapa Jupe) dibayangi kekhawatiran tidak akan mempunyai anak. Beberapa hari lalu, ia membeberkan hal ini kepada publik setelah ia berkonsultasi dengan seorang dokter. Sang dokter mengatakan bahwa berdasarkan hasil analisis medisnya, kondisi rahim Jupe di atas umur 30 tahun tidak memungkinkan mempunyai keturunan. Walaupun dokter mengatakan demikian, tapi Jupe tetap bertekad untuk mempunyai anak kesayangan. Naluri kewanitaan Jupe tetap membersit dalam dirinya dan ia tetap mendambakan kehadiran anak tercinta yang bisa menjadi penerus silsilah dan sejarah hidupnya.

Sang artis dan pelantun lagu ‘Belah Duren’ itu akan menjalani program suntik sperma sebagai cara untuk mendapatkan anak keturunan. Program tanam sperma ini akan ia jalani di sebuah rumah sakit di Penang, Malaysia. Jupe menuturkan bahwa seorang dokter spesialis bernama Rama di negeri jiran itu akan melakukan program suntik sperma ke dalam rahim Jupe. Dengan demikian, Jupe akan hamil dan pada gilirannya akan mempunyai anak. Bagi Jupe, sebagai seorang artis terkenal dan berpenghasilan besar, soal biaya program tanam sperma itu tidak menjadi soal.

Ketika ditanya tentang siapa pria pendonor yang spermanya akan ditanamkan ke dalam rahimnya, Jupe merahasiakan nama dan identitasnya. Sang penyanyi dangdut itu enggan menyebut nama pendonor sperma, tetapi ia mengatakan secara meyakinkan bahwa ada laki-laki yang bersedia menjadi pendonor sperma demi suksesnya program yang akan Jupe jalani. Program suntik sperma yang akan dilakukan oleh Jupe menuai kontroversi. Majelis Ulama Indonesia (MUI), misalnya, menyatakan secara tegas bahwa program tanam sperma ke dalam rahim perempuan agar bisa hamil dan mempunyai anak, jika sperma itu bukan dari suami sendiri, adalah haram (terlarang). Logika hukumnya, jika sperma berasal dari suami sendiri, hal itu boleh dan tidak menjadi masalah.

Mengapa agama Islam tidak membenarkan atau melarang program tanam sperma ala Julia Perez itu? Anak harus lahir dari perkawinan sakral yang sah antara seorang pria dan wanita. Dari perkawinan sakral yang sah itulah, kelahiran seorang anak bisa diketahui secara pasti dan diketahui pula asal usul kelahiran seorang anak. Siapa ibunya dan siapa pula ayahnya. Rekam jejak sang ibu dan rekam jejak sang ayah diketahui secara pasti. Rekam jejak dan silsilah kelahiran seorang anak diketahui pula secara pasti. Anak yang lahir itu secara pasti diketahui nasabnya dan garis keturunan anak itu dinisbatkan kepada ayah kandungnya sendiri.

Dalam konteks ini, sangat tepat hadits Nabi yang mengatakan kullu mauludin yuladu alal fitrah (setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci). Makna fitrah (suci) di sini tidak hanya berarti si bayi itu bersih (suci) dari dosa, tetapi juga berarti suci dalam prosesi asal kejadiannya. Dengan kata lain, asal penciptaan atau asal kejadian manusia itu harus jelas, bersih dan suci.

Di negara-negara sekuler (yang memisahkan hal-hal yang agamawi dari hal-hal yang duniawi), program suntik atau tanam sperma ke dalam rahim wanita untuk mempunyai anak sudah terbiasa dilakukan. Program tanam sperma seperti itu tidak lagi dilihat dari perspektif ajaran atau hukum agama, tapi dipandang dari sudut kepentingan duniawi semata. Pertimbangan pragmatisme dan sekularisme jauh lebih dikedepankan dan sama sekali tidak dikaitkan dengan masalah-masalah keagamaan.

Di negara-negara Barat yang menganut sekularisme, banyak lembaga atau yayasan yang menyediakan bank sperma atau ada pula laki-laki yang menyediakan diri menjadi pendonor sperma asal dibayar dengan bayaran yang dise-pakati. Tepat dan dapat diterima menurut hukum agama (Islam) cara Inul Daratista yang menjalani program ‘bayi tabung’ dan berhasil sehingga ia mempunyai anak. Dalam program bayi tabung, sperma berasal dari suami sendiri. Program tanam atau suntik sperma ala Jupe? Anda dapat menyimpulkan sendiri dari uraian saya di atas. q- g

KEDAULATAN RAKYAT, RABU PAHING 15 OKTOBER 2014 ( 20 BESAR 1947)

 

Related Post

 

Tags: