Jurusan Manajemen Dakwah sedang getol membangkitkan gairah penelitian civitas akademikanya tahun ini. Hal ini terlihat dari diadakannya workshop penulisan dan penerbitan karya ilmiah bagi dosen dan mahasiswa, Jumat-Sabtu (24-25/10) pekan kemarin. Bertempat di salah satu hotel di Salatiga, dosen, mahasiswa, bahkan alumni ikut serta dalam workshop ini.

Workshop ini diselenggarakan karena diawali kegelisahan dan harapan dalam upaya meningkatkan kualitas jurusan Manajemen Dakwah (MD), terutama jurnal Manajemen Dakwah yang “mati suri”. Demikian diungkapkan Achmad Muhammad, M.Ag. “Dengan ini diharapkan ada penyegaran keilmuan, metodologi, motivasi untuk melakukan penelitian karya ilmiah, sehingga targetnya akhir tahun ini bisa terbit satu edisi, ” tambah sekretaris jurusan MD ini.

Ketua jurusan MD, M. Rosyid Ridla, M.Si. mengungkapkan setidaknya ada empat langkah jurusan MD untuk meningkatkan penelitian. Yaitu : 1) menciptakan budaya penelitian 1 kali/semester (telah dimulai sebelum ini), 2) apresiasi mahasiswa, 3) menghidupkan kembali jurnal MD, 4) mengusahakan pengumpulan karya ilmiah.
“Intinya, bagaimana dosen dan mahasiswa mau menulis, mengelurkan gagasan dalam tulisan,” tandas Rosyid Ridla.

Pemateri workshop ini antara lain: Andy Dermawan, M.Ag. (menyampaikan mengubah laporan penelitian menjadi artikel untuk jurnal akreditasi), Saptoni, M.A. (review dan editor jurnal, pengalaman di jurnal internasional Al Jami’ah), dan Dr. Musthofa (terkait kebijakan fakultas membangun suasana akademik demi peningkatan produktivitas karya ilmiah).

Ketiga narasumber memberikan materi yang sangat baru, karena meski mereka biasa ditemui di fakultas, namun ilmu-ilmu yang disampaikan merupakan pengalaman mereka dalam mengelola, menulis, dan mengatur karya ilmiah maupun jurnal sehari-hari.

Seperti Saptoni, M.A. yang juga mantan sekretaris jurusan KPI, mengungkapkan pengalamannya dalam meng-editor-i jurnal akreditasi internasional Al Jami’ah. Saptoni sampai mengungkapkan bahwa menulis jurnal bukan untuk berdakwah. Bukan untuk mengajak orang menjadi baik. “Jurnal adalah ilmu, dalam konsep yang paling murni. Ilmu untuk ilmu. Karena pembacanya adalah untuk ilmuwan, bukan orang Islam (saja,red),” tekan dia, “dalam hal ini saya sekuler.”

Namun ketika ditanya oleh Munif Solihan, “bukankah menulis jurnal adalah salah satu dakwah bil-qolam?” Saptoni menjelaskannya lebih lanjut, “untuk Pak Munif, dakwah bil-qolam, fungsi utama artikel yang kita tulis bukan untuk berdakwah. Tidak se-ekstrim kita tidak boleh berdakwah lewat jurnal, bukan begitu! Di jurnal, objektifitas sangat penting dan menjadi kunci. (Saat ini, red) jurnal kita banyak yang masih bernuansa khutbah. Bukan itu tujuannya….”

Menyoal keseriusan Saptoni, Andy Dermawan mengatakan, “setiap ganti pengurus (Al Jami’ah, red), dia selalu ada, sebagai editor. Dia tidak segan-segan mengkritik guru seniornya (demi standar artikel Al Jami’ah, red).” Buktinya jurnal Al Jami’ah saat ini telah terakreditasi internasional.

Pada pemaparan materi ketiga, Dr. Musthofa mengungkapkan memang saat ini mahasiswa sangat lemah dalam bidang penulisan karya ilmiah. Mahasiswa menganggap bidang ini kurang urgen, dibanding dengan kompetensi praktis (yang tentunya makin memudahkan mereka memperoleh pekerjaan).
Langkah strategisnya: sepakati fokus kajian dan munculkan kesadaran tentang pentingnya karya ilmiah.

Mengenai pentingnya penulisan karya ilmiah, Andy Dermawan mengungkapkan, “trennya saat ini, karya ilmiah tidak penting, yang penting bisa menulis. Padahal, teknik menulis karya ilmiah sangat mempengaruhi penulisan biasa.”

Dalam diskusi setelah pemaparan materi, terungkap bahwa pengelolaan jurnal nanti harus memakai model e-jurnal. Yaitu, pengelolaan jurnal melalui media online (website). Bukan peng-unggah-an ke website saja, tetapi semua proses pembuatan jurnal ada di sistem online tersebut.

“Saat ini jurnal adalah cetak. Disunahkan untuk online. Tahun 2016 nanti, wajibnya yang online, sunnahnya cetak,” terang Saptoni, “kemungkinan nanti penilaian e-jurnal adalah tinggal kirim surat permohonan, setor nama website e-jurnal serta username/passwordnya. PDII LIPI tinggal cek disitu, dinamika proses penerbitan jurnal, komunikasinya di media online tersebut.”  (ahmd)