Akhmad Muzaki, M.Ag., M.Phil. Ph.D. mengungkapkan banyak fakta mengenai media yang mengangkat Islam sebagai hal yang populer dan laku saat ini. Mulai dari dakwah ceramah, dakwah stand-up comedy, media cetak, dan audio visual.

“Penceramah mulai dari Mama Dedeh, Aa Gym, Maulana, sangat diminati masyarakat. Padahal mereka hanya mengungkapkan hitam putih, tidak ada diskusi,” kata Muzaki, “yang model stand-up, kita mengenal Anwar Zahid, meski dia tidak berdiri, tapi duduk, juga Ma’ruf Islamudin.”

Di media cetak, juga sangat populer. Mulai dari Islam teenlit, kidlit, tarbiyah ummat, Islamic novel, sampai Islamic Howto. “Islamic novel selalu menggunakan kata ‘cinta’. Yang diangkat romantisme. Yang mengalahkan La Tahzan adalah Ayat-ayat cinta,” ucap Muzaki, dosen UIN Surabaya ini.

Mengapa mereka bisa saleable? “Karena mereka mengangkat cerita, baik fiksi ataupun real life, tidak begitu mendoktrin, self-motivating, dan menunjukkan langkah melalui cerita,” ungkapnya.

“Setelah novel sangat laku, akhirnya berubah menjadi movie di bidang audio visual,” tambah dia, “nah… di bidang ini dosen UIN tidak ada yang ambil bagian. Padahal banyak kru TV nasional berasal dari UIN Jakarta dan UIN Jogja untuk membuat acara-acara seperti ini.”

Perdebatan pun mengarah pada apakah media populer perlu diikuti, diisi, diletakkan berhadapan dengan dakwah di bidang akademis –seperti yang ada saat ini dilakukan dosen-dosen universitas.

Sebagai panelis, Dr. Waryono, dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suka menanggapi fenomena ini dan menjadi diskusi menarik di sesi panel pagi DACon 2014, Sabtu (8/11).