Melanjutkan pemaparan panel Ahmad Muzaki di DACon 2014, Sabtu pagi (8/11), Dr. Waryono mempertanyakan apakah harus menghadapkan antara dakwah populer dengan dakwah akademik. “Keadaannya saat ini, dosen pemikirannya sangat akademis, sedangkan mahasiswa begitu instan.Dosennya menulis pun, tidak akan dibeli mahasiswanya,” ucap Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi ini.

Uwes Fatoni, akademisi UIN Bandung, mengatakan, dakwah populer itu sudah dikenal sejak dulu. Mereka berlalu dan berganti dengan budaya populer yang memang selalu berganti.

Satu akademisi lain mempertanyakan apakah bisa orang yang berdakwah populer (dalam Ibnu Khaldun disebut badawah) akan menggilas dakwah akademis (hadharah) ini.

Ujang Mahadi dari Bengkulu tetap menyebut dakwah yang “tidak populer” itu penting. Karena jika itu ditinggalkan jangan-jangan akan diisi oleh yang lain.

Ahmad Muzaki menimpali, memang begitulah realitasnya saat ini. “Namun, jika kita membiarkan begitu saja bidang populer yang seperti itu, maka generasi kedepannya adalah yang dihasilkan dari media-media yang menguasai saat ini,” terang Muzaki.

Paradoks di melinium ketiga
Dr. Waryono juga mengungkapkan, saat ini banyak paradoks yang dialami di masyarakat. Bukan di Indonesia saja, bahkan di Malaysia pun hampir sama.

“Di Malaysia, baru saja ada penelitian seperti yang dilakukan Iip Wijayanto 10 tahun lalu. Ketika perihal relijius semakin tumbuh, tetapi tidak diikuti kesalehan sosial,” ungkapnya, “kehidupan duniawi terpisah dan berjarak dengan popularitas relijius, seperti masjid tambah banyak, haji antri, umrah tiap bulan, ceramah banyak, pengajian ramai, tapi tidak ada perubahan!”

“Begitu juga dengan ilmu pengetahuan, teknologi, alat komunikasi,” lanjut Waryono, “sepertinya membantu sangat pada kualitas hidup manusia. Namun juga menghancurkan kehidupan dan biaya tinggi. Seperti teknologi perang dan rekayasa genetik.”

Maka dari itu, dakwah harus didefinisikan ulang sebagai berikut:

  • Esensi dakwah: menginformasikan jalan-jalan kebenaran, kebaikan, keindahan, dan mengajak masyarakat untuk hidup benar baik dan indah,
  • Dakwah harus dikembangkan sebagai strategi kebudayaan yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia,
  • Dakwah harus memberi arah peradaban dan perubahan seluruh dimensi kehidupan manusia dan masyarakat secara transformatif untuk kesejahteraan duniawi dan ukhrawi.(ahmd)