Ketika menunjukkan sebuah foto keadaan sebuah masjid, di pinggir pantai, terpampang pesan kepada penggunanya. Tertulis seadanya. Tidak terbaca dengan jelas apa maksudnya. Dengan bahasa kurang bisa dipahami. Keadaan ini menunjukkan bahwa, bagaimanapun pesan dakwah yang akan dipublikasikan ternyata harus dengan ilmu. Minimal pengetahuan bahasa Indonesia yang benar, agar bisa dipahami.

Demikian fakta pembuka yang disampaikan oleh Dr. H. Muhammad Sulthon pada studium general (kuliah umum) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) kemarin (5/11). Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Islam Indonesia (APDI) ini membawakan materi mengenai profesi dakwah bagi mahasiswa baru angkatan 2014 yang baru mengikuti perkuliahan beberapa bulan lalu.
Bertempat di gedung convention hall lantai 1, mahasiswa dari lima jurusan yang ada di FDK antusias mengikuti materi proyeksi karir mereka.

Muhammad Sulthon menjelaskan mengenai dakwah sebagai profesi. Menurutnya, meski setiap muslim adalah pendakwah, di FDK, dakwah adalah profesi. Dakwah dipelajari sebagai disiplin ilmu, ada kode etik, ada ketrampilan tertentu, dan dilakukan oleh lembaga yang dapat dipertanggungjawabkan. “Bahkan bisa mengandung konsekuensi perolehan imbalan finansial bagi pelaku layanan,” tegas dia.

“Melihat praktek pelaku dakwah yang belum ada standarnya selama ini, sementara masyarakat sangat memerlukan dakwah, maka dakwah tidak bisa dikerjakan sambil lalu,” terang Sulthon,”apalagi dakwah itu mempelajari masa lalu, lantas diterapkan di masa depan. Wahyu tidak bertambah, tuntutan hidup tak berkurang. Hal ini butuh keseriusan, persyaratan. Butuh keahlian khusus.”

Melihat kenyataan itu, menurut Sulthon, paling tidak dakwah memerlukan keahlian dalam ketepatan memahami ajaran Islam, memahami problem kehidupan, merumuskan ajaran Islam sebagai solusi, dan menerapkannya. Masih ditambah lagi kearifan menghadapi penolakan dan pengingkaran.

“Jadi, dakwah bukan hanya menyampaikan. Tetapi, menyelesaikan masalah, menjadi contoh, dan memberi solusi,” tegas mantan dekan Fakultas Dakwah IAIN Walisongo ini.

Segitiga Dakwah

Menurut Muhammad Sulthon, dakwah adalah relasi antar unsur-unsur: doktrin, da’i, mad’u (yang didakwahi), dan tujuan. Hubungannya, antara da’i ke mad’u ada tablig (ini yang dilakukan jurusan KPI) dan irsyad (BKI/BPI). Lalu, antara da’i ke tujuan ada tatbir (MD). Sementara, antara mad’u ke tujuan ada tathwir (PMI dan IKS).

Ciri khas jurusan KPI adalah penyebarluasan. “Haji itu, dari sisi penyebarluasan adalah sukses. Buktinya, ngantrinya 17 tahun,” kata Sulthon.

BPI/BKI menitikberatkan pada penanaman. Tujuannya adalah ajaran Islam betul-betul riil diterapkan untuk menyelesaikan problem seseorang. “Makanya beberapa pendekatannya adalah pondok pesantren, panti, dimana ada tempat dan waktu khusus,” terang dia.

Manajemen Dakwah kata kuncinya adalah efektifitas dan efisiensi. Bagaimana menganalisis sumber daya (manusia dan lembaga), dan mengelola sumber daya tersebut.

PMI harus ada keteladanan (uswatun hasanah). Contohnya adalah masyarakat yang betul-betul sejahtera. Sementara ini di Indonesia, lebih banyak diterapkan secara personal. Penokohan. “Perlu digarap serius memunculkan komunitas yang pantas menjadi contoh, kesalehan sosial,” tambahnya.

Mahasiswa pun merespon dengan pertanyaan-pertanyaan yang dialaminya selama beberapa bulan di kampus UIN Suka, kegelisahan mereka mengenai kasus da’i yang malah memecah belah umat, dan keingintahuan akan keberadaan asosiasi APDI.